Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sisi Mengejutkan Dusun Mlangi Jogja: Tak Ada Jemaah Perempuan hingga “Syarat Khusus” jika Menikah dengan Orang Luar Daerah

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
13 Maret 2024
A A
Salat Tarawih Tengah Malam di Masjid Gedhe Kauman Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi Tarawih di Masjid Gedhe Kauman, Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi orang luar Jogja, Dusun Mlangi, Sleman, menyimpan hal-hal yang mengejutkan. Tak hanya soal Selawat Ngelik atau Kojan Mlangi-nya yang terkenal, Dusun Mlangi juga menyimpan hal unik lain seperti tidak adanya jemaah perempuan hingga adat tak boleh pindah luar daerah.

***

Senin, (11/3/2024) sore itu saya cukup beruntung bertemu dengan Ahmad Jamaluddin (34), salah seorang warga Dusun Mlangi. Sebab, selain ramah dan menyenangkan untuk menjadi teman berbincang, Jamal (sapaan akrabnya) juga memiliki beberapa catatan tentang sisi-sisi lain dari dusun berlabel Kampung Santri di Jogja tersebut.

Jamal sebenarnya bukan asli Dusun Mlangi. Ia berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah. Hanya saja ia sudah menetap di Dusun Mlangi sejak 2006 silam.

“2006 lulus SMP, terus penginnya mondok yang gratis, nggak bayar. Dari teman bapak, akhirnya tahu Pondok Ar Risalah di sini,” ungkap Jamal.

Pondok Pesantren Ar Risalah sendiri merupakan satu dari belasan pondok pesantren di Dusun Mlangi. Jamal masuk ketika Ponpes Ar Risalah masih dalam asuhan KH. Abdullah yang wafat pada 2013 silam.

Sebenarnya Ponpes Ar Risalah memberlakukan sistem pembayaran bulanan semacam SPP untuk santri. Namun, karena Jamal sejak awal masuk sudah mengabdi di ndalem, maka ia pun terbebas dari biaya.

“Malah kadang dapat tip dari Abah. Karena tugasku selama di pondok itu masakin santri, sekitar 40 sampai 50 orang. Makannya sehari dua kali,” beber Jamal.

Sebelumnya, Jamal mengaku sama sekali tak tahu perihal Kampung Santri Mlangi. Meskipun Dusun Mlangi sudah mendapat status Kampung Santri Pemerintah Kabupaten Sleman, Jogja sejak tahun 23 Oktober 2000.

Namun, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Dusun Mlangi, Jogja, Jamal sudah merasa bahwa ia pasti akan betah tinggal lama di dusun tersebut. Karena Jamal mengaku nyaman dengan suasana keagamaan di Dusun Mlangi yang memang sangat kental.

Orang Mlangi tidak boleh pindah luar daerah

Benar saja, Jamal pun akhirnya menetap di Dusun Mlangi hingga saat ini. Lebih-lebih, Jamal pun mendapat istri warga asli Dusun Mlangi sendiri.

“Istri nyantri di Ngrukem, Bantul. Saya kenalnya dari Bu Nyai saya di Ar Risalah. Terus dinikahkan pada 2015,” ujar Jamal.

Sebelum melangsungkan pernikahan, saat pihak keluarga calon istri tahu kalau Jamal orang Prubalingga, yang jadi pertanyaan pertama pada Jamal adalah, apakah Jamal bersedia jika tetap tinggal di Dusun Mlangi? Alias tidak membawa si istri untuk pindah ke Purbalingga.

Jamal pun menekankan kalau ia tak masalah jika harus tinggal di Dusun Mlangi. Toh Ia juga sudah sangat nyaman di sana.

Iklan

“Ternyata sejak dulu orang sini nggak boleh, Mas, kalau dibawa pasangan ke luar daerah. Mungkin karena untuk menjaga agar Dusun Mlangi tetap ada penerusnya (generasinya),” beber Jamal.

Hanya saja, sejak beberapa tahun terakhir ini aturan tak tertulis itu sudah mulai agak melentur. Sebab, seturut keterangan Jamal, sudah banyak orang tua yang melepaskan anaknya jika harus ikut pasangan pindah ke luar daerah di luar Jogja.

Kata Jamal, kelenturan itu bermula dari ceramah salah satu kiai Dusun Mlangi (Jamal lupa siapa yang ceramah) yang menyebut bahwa melepaskan anak tinggal ke luar daerah juga dalam rangka dakwah, menyebarkan nilai-nilai ke-Islaman yang indah seperti di Dusun Mlangi.

Tidak ada jemaah perempuan di Mlangi

Obrolan kami terus mengalir sampai kemudian Jamal menceritakan bahwa setiap Ramadan, Masjid Pathok Negara di Dusun Mlangi akan penuh dengan acara keagamaan.

Mulai dari setelah salat Asar, akan ada ngaji khusus anak-anak. Lalau menjelang buka lanjut ngaji untuk orang-orang tua dan dewasa. Kemudian ditutup dengan acara buka bersama.

Sementara kegiatan malam start dari salat Tarawih berjemaah. Setelahnya ada ngaji tadarus Al-Qur’an. Kemudian agak malam sedikit ada lagi ngaji untuk orang-orang tua dan dewasa.

Ngaji tersebut akan berlangsung hingga pukul 00.00 WIB. Nah, di atas jam 12 malam, akan berlangsung Tasbihan, yakni salat Tasbih berjemaah.

Sisi Lain Dusun Mlangi, Jogja MOJOK.CO
Suasana jemaah salat di Masjid Pathok Negara, Dusun Mlangi, Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

“Tapi di masjid ini yang berkegiatan cuma jemaah laki-laki. Jemaah perempuan nggak ikut,” jelas Jamal yang lantas menimbulkan tanda tanya baru di kepala saya.

Sayangnya, Jamal tak tahu pasti alasan kenapa masjid utama di Dusun Mlangi hanya untuk menampung kegiatan jemaah laki-laki saja, khususnya selama Ramadan hingga Idul Fitri nanti. Sistem tersebut konon sudah ada sejak dulu.

“Kalau perempuan, Tarawihnya di musala-musala. Kan ada banyak musala khusus perempuan di sini,” tutur Jamal.

“Termasuk salat Ied nanti juga perempuan bikin salat Ied sendiri. Tapi imamnya tetap laki-laki,” sambungnya.

Masjid yang paling ramah anak

Hal menarik lain adalah, ternyata anak-anak di Masjid Pathok Negara Mlangi, Jogja memberi ruang khusus untuk anak-anak.

Jadi selama Ramadan, anak-anak mendapat ruang untuk melaksanakan salat jemaah sendiri. Tepatnya di pendopo kecil depan masjid.

“Nah, itu ada orang dewasa yang mendapat tugas khusus untuk mengimami anak-anak,” terang Jamal yang juga termasuk dalam jajaran pengurus kegiatan di Masjid Pathok Negara, Dusun Mlangi selama Ramadan.

Sisi Lain Dusun Mlangi Jogja MOJOK.CO
Pendopo depan masjid, ruang khusus untuk jemaah anak-anak. (Aly Reza/Mojok.co)

Menurut Jamal, memang lebih baik menggunakan sistem seperti itu. Yakni jika takut anak-anak akan mengganggu kekhusyukan jemaah orang dewasa, maka mereka diberi ruang tersendiri.

“Jadi anak-anak tetap nyaman dan seneng ke masjid. Kalau pendekatannya marah-marah, anak-anak ya bakal kabur, nggak mau ke masjid,” ucap Jamal.

Santri tak santri tetap bersarung

Status Kampung Santri, bagi Jamal, memang sangat pas untuk Dusun Mlangi, Jogja. Pasalnya, tidak hanya santri, warga setempat yang tidak nyantri pun sehari-hari berperilaku layaknya santri.

Mulai dari yang sepele saja, yakni sarung. Mudah sekali menemukan pemuda-pemuda bahkan anak-anak kecil yang saat bermain justru menggunakan sarung alih-alih celana pendek.

Saya sempat terkecoh, mengira bahwa anak-anak yang saya temui sore itu di Dusun Mlangi adalah santri-santri kecil. Karena memang hanya adat pesantren yang untuk main saja tetap harus pakai sarung.

Sementara di luar lingkungan pesantren pada umumnya, biasanya sarung akan dipakai ketika tengah mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan saja.

“Meskipun bukan santri, tapi banyak anak-anak muda sini yang aktif banget kalau soal ngurip-urip masjid. Jadi memang nggak nyantri, tapi sehari-hari berakhlak santri,” tandas Jamal.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Warga Dusun Mlangi Jogja Turun-temurun Lestarikan Selawat Langgam Jawa Meski Dicap Selawat Sesat

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2024 oleh

Tags: dusun mlangidusun mlangi jogjaJogjakampung santrimlangipilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.