Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mirisnya Perantau Surabaya yang Tak Kuat Sewa Kos: Tidur di Warkop, Pos Satpam, hingga Jadi Benalu di Kos Teman  

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Februari 2024
A A
Kemacetan Surabaya Tak Bisa Dibenci MOJOk.CO

Ilustrasi kemacetan Surabaya tak bisa dibenci. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kehidupan para perantau di kota-kota besar dalam banyak kasus memang selalu penuh dengan cerita-cerita miris. Termasuk cerita perantau Surabaya yang karena tak kuat sewa kos, akhirnya harus gelandang; tidur di warkop, pos satpam, hingga jadi benalu di kos teman-temannya.

***

Membaca liputan Mojok tentang derita para perantau—di Jogja dan Surabaya—yang bertahan di sebuah kos tak layak huni membuat saya jadi teringat pada sosok teman dekat asal Blitar, Jawa Timur, Rizquna (26), yang pernah mencicipi kerasnya hidup sebagai perantau Surabaya.

Bahkan kisah Rizquna cenderung lebih parah. Kalau kuat sewa kos, walaupun tak layak huni, rasa-rasanya masih mending. Namun, Rizquna sama sekali tak kuat menyewa.

Saya sendiri pernah menulis cerita perjuangan Rizquna sebagai perantau Surabaya; kuliah sambil bekerja untuk biaya sekolah adik-adiknya dalam “Ibu, Tempe, dan Skripsi yang Tak Selesai”.

Sejak liputan tersebut tayang hingga sekarang, skripsi Rizquna pada akhirnya memang tak pernah selesai. Tak ada waktu untuk mengerjakannya. Ia keburu memasuki babak baru dalam kehidupan, mencicipi pahit-getir dunia pernikahan.

Kami sempat bertemu kembali pada Sabtu, (6/1/2024) lalu di Ponorogo, Jawa Timur, di acara pernikahan teman dekat kami yang lain. Ia sekarang tinggal di Ponorogo, “numpang” di rumah mertua, dan sudah beranak satu; cowok, seorang anak yang semoga setangguh bapaknya.

“Sudah nggak jualan tempe, tapi masih ada hubungannya dengan kedelai. Sekarang jual sari kedelai,” ceritanya waktu itu.

Sebab, setahu saya sebelumnya, ia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran yang, untuk ukuran Ponorogo, sudah terbilang mewah. Namun ternyata, baru-baru ini ia sudah tidak jadi pelayan.

“Sekarang jadi juru parkir. Tapi masih di restoran itu. Hasilnya cukup kok,” ungkap eks perantau Surabaya tersebut.

Ah, Rizquna, ia masih setangguh yang saya kenal dulu.

Jadi Perantau Surabaya yang terusir dari rumah saudara sendiri

Sebenarnya, pada masa-masa awal menjadi perantau Surabaya, Rizquna sempat numpang di rumah saudaranya di Kenjeran, Surabaya Utara.

Di rumah saudaranya tersebut, Rizquna ikut bantu-bantu membuat dan menyetor tempe ke pelanggan. Jadi dari pagi sampai sore ia akan kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), lalu malamnya akan membuat tempe, kemudian subuh ia akan setor.

Begitulah siklusnya selama beberapa bulan tinggal di rumah saudaranya tersebut.

Iklan

Namun, keadaan berubah saat Rizquna mulai sering pulang larut malam. Ia mulai aktif mengikuti organisasi. Selain itu juga sering ikut ngopi dengan teman-teman tongkrongannya di kampus.

“Sebenernya ngopinya kan nggak asal ngopi. Aku nyicil tugas. Karena aku nggak punya laptop, jadi harus pinjam,” tuturnya saat saya minta untuk bercerita lagi lewat sambungan telepon, Sabtu, (17/2/2024) malam.

“Kan laptopmu yang pasti kupinjam, hahaha,” sambungnya.

Kebiasaan Rizquna tak pelak membuat saudaranya geram. Rizquna dituding kelayapan.

Ia sendiri sudah mencoba menjelaskan apa yang sedang ia lakukan kok bisa pulang sampai larut malam. Akan tetapi, saudaranya tak mau mengerti.

“Daripada sama-sama nggak enaknya, aku keluar (dari rumah),” lanjutnya.

Perantau Surabaya yang menggelandang di warkop

Rizquna kemudian memutuskan menjadi perantau Surabaya yang menggelandang. Tidur sak nggon-nggon (di mana aja).

Saat itu, ia menitipkan tas berisi pakaian di kos saya. Sementara untuk tidur, ia sering kali memilih tidur di warkop langganan kami di Wonocolo. Namanya Warkoplak. Sayangnya sekarang sudah pindah entah ke mana.

Dengar-dengar, harga sewa tempatnya mahal. Alhasil, Gugun (si pemilik Warkoplak) memutuskan untuk tidak memperpanjang sewa. Ia pindah tanpa pemberitahuan ke kami para pelanggannya sejak lebaran 2023 lalu.

Yang enak di Warkoplak, kursinya berupa bangku panjang dan lebar. Enak buat tidur. Selain itu, biasanya setelah tutup pada jam satu dini hari, WiFi akan tetap nyala. Sehingga, Rizquna bisa tetap WiFian, entah untuk scroll-scroll media sosial atau mengerjakan tugas.

Mirisnya Perantau Surabaya yang Tak Kuat Sewa Kos, Jadi Gelandangan MOJOK.CO
Ilustrasi – Perantau Surabaya yang menggelandang. (Jon Tyson/Unsplash)

Gugun sampai hapal dengan kebiasaan Rizquna itu. Untung saja Gugun orangnya agak pedhot dikit. Jadi aih-alih menegur Rizquna, malah justru menertawakan nasib sialnya terusir dari rumah saudara.

“Cuma harus tahan sama nyamuk kalau di Warkoplak,” ujar lelaki yang sudah khatam kerasnya jadi perantau Surabaya itu.

Perantau Surabya yang tidur di pos satpam hingga jadi benalu di kos teman

Pagi hari setelah bangun, Rizquna akan geser dari Warkoplak ke kos saya untuk mandi dan ganti baju. Setelah itu, ia akan mencuri-curi tidur di kampus.

Baik saya dan Rizquna saat itu harus kucing-kucingan dengan ibu kos. Karena sekalinya ketahuan, sudah pasti kena semprot. Dan itu sudah berkali-kali terjadi.

Tapi mau bagaimana lagi. Rizquna tak ada biaya untuk sewa kos. Uang yang ia dapat dari kerja ia bagi untuk bayar UKT, untuk hidup sehari-hari, dan kalau ada sisa, akan ia kirim untuk sekolah adiknya.

Rizquna sempat bekerja di warung bebek Wahid Hasyim, warung bebek yang cukup terkenal di Surabaya. Kemudian ia bekerja sebagai satpam di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kampus Lidah Wetan.

“Waktu itu sesekali tidur di pos. Tapi kalau ada jam kuliah, mending ke kampus. Walaupun di kelas tidur, tapi seenggaknya nggak absen,” ujarnya.

Kini “numpang” di rumah mertua

Setelah mencicipi kerasnya menjadi perantau Surabaya, pada masa pandemi Covid-19 ia memutuskan pulang ke Blitar, lalu mencoba usaha tempe.

Usaha tempenya berjalan lancar. Pelanggannya pun banyak. Sayangnya, ia harus melepasnya karena kemudian pindah ke Ponorogo usai resmi menikah dengan kekasihnya pada 15 Desember 2021. Usaha tempenya tersebut kini dilanjutkan oleh sang adik.

Mirisnya Perantau Surabaya yang Tak Kuat Sewa Kos, Jadi Gelandangan MOJOK.CO
Potret pernikahan Rizquna pada 15 Desember 2021 (Rizquna)

“Bahkan sampai sekarang masih gelandang, to. Dulu gelandang di warkop, sekarang di rumah mertua,” kelakarnya.

Namun, Rizquna mengaku beruntung memiliki mertua yang sangat baik dan tidak kedonyan (duniawi). Sebab, sama seperti sang istri, mertuanya tersebut menjadi orang yang selalu mencoba mengerti kondisi dari Rizquna.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Nestapa Perantau di Jogja Rela Bertahan dengan Kos Nyaris Ambruk karena Bapak Kosnya Baik

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2024 oleh

Tags: artikel pilihankosperantau surabayapilihan redaksiSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Urban

Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi

6 Februari 2026
self reward.mojok.co
Ragam

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co
Ragam

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co
Urban

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya.MOJOK.CO

Sriwijaya FC, Tim Bola “Mainan” Politisi yang Dikelola seperti Toko Kelontong, Tapi Saya Tak Malu Pernah “Dibaptis” Jadi Fansnya

5 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.