Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Penghasilan Tukang Parkir Liar Surabaya Bisa di Atas UMR meski Tak Niat Kerja, Pekerja S1 Nelangsa karena Kerja Ekstra Gaji Bercanda

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 April 2025
A A
Awalnya merasa iba dengan tukang parkir Surabaya, berujung kasihan dengan diri sendiri MOJOK.CO

Ilustrasi - Awalnya merasa iba dengan tukang parkir Surabaya, berujung kasihan dengan diri sendiri. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi Sujiwo Tedjo, rasa iba bisa menjebak seseorang pada kesombongan. Namun, di momen tertentu, rasa iba pada orang lain justru berbalik menjadi rasa sesal dan lebih iba pada diri sendiri. Begitulah yang Asror (26) rasakan saat berhadapan dengan tukang parkir di Surabaya.

Mungkin karena Asror dari keluarga pas-pasan, hatinya gampang iba pada orang lain yang dalam kasat matanya tampak rekasa. Maka, tidak jarang Asror mengeluarkan banyak recehan tiap bertemu—misalnya—pengamen, peminta-minta, hingga tukang parkir.

Sampai akhirnya dia menyadari, di Surabaya sulit membedakan mana yang benar-benar kesusahan maupun yang tengah bersandiwara.

Tukang parkir Surabaya tampak nelangsa, tapi…

Asror merantau ke Surabaya pada 2022 untuk bekerja, setelah sebelumnya menghabiskan waktu di Malang untuk kuliah.

Di Surabaya, dia mengaku termakan ibanya sendiri beberapa kali. Termasuk pada tukang parkir.

Suatu hari pada 2022, Asror menemui teman lamanya (teman kuliah di Malang) yang sedang main ke Surabaya. Mereka bertemu di sebuah kafe di Surabaya pusat.

Saat hendak pulang, gerimis turun agak rapat. Dia mendapati tukang parkir kafe yang duduk ngiyup di pojokan luar kafe. Tentu saja bajunya agak basah. Karena tidak ada pos tukang parkir di sana. Hanya bagian depan atap kafe yang tak cukup untuk meneduhkan tubuh.

Melihat Asror hendak mengambil motornya, tukang parkir itupun langsung berlari menerjang gerimis mendekati Asror. Isyarat Asror harus membayar parkir.

“Sialnya waktu itu aku nggak ada uang receh. Adanya Rp50 ribu paling kecil. Sementara parkirnya Rp3 ribu,” tutur Asror, Senin (21/4/2025).

“Karena kasihan kan tukang parkirnya hujan-hujanan, aku bilang, anggap aja bayarnya Rp10 ribu. Jadi kembaliannya Rp40 ribu,” sambung pemuda asal Kediri, Jawa Timur tersebut.

Si tukang parkir hanya diam. Lalu merogoh saku celananya.

Betapa kaget Asror. Dari saku celana itu, si tukang parkir mengeluarkan sebundel uang. Ada beberapa lembar uang Rp50 ribuan hingga Rp100 ribuan. Sisanya uang pecahan kecil-kecil.

Si tukang parkir di sebuah kafe di Surabaya pusat itu lalu menyerahkan kembalian seperti yang Asror minta tanpa banyak berkata-kata. Mengucap terima kasih pun tidak.

Jadi iba dengan diri sendiri

Sepanjang jalan menuju kosan, tak pelak Asror kesal bukan main. Uang Rp10 ribu tetap berharga baginya. Kan lumayan buat beli tahu tek.

Iklan

Tapi bukannya belajar dari pengalaman, hal serupa (salah iba pada tukang parkir Surabaya) beberapa kali masih Asror alami.

Misalnya, suatu kali Asror beli rokok dan minuman kemasan di sebuah minimarket. Dia lalu duduk agak lama di kursinya sembari mengamati tukang parkir yang masih siaga. Padahal saat itu mendekati tengah malam.

Dalam batin Asror, sampai segitunya orang-orang kelas bawah mencari uang demi bertahan hidup di Kota Pahlawan.

“Waktu mau balik, aku sodorkan uang Rp2.500 ke si tukang parkir. Itu uang kembalian dari kasir,” ungkap Asror.

“Si tukang parkir awalnya bingung sambil menghitung uang recehan dariku. Lalu pas aku udah mau jalan, tiba-tiba si tukang parkir mendekat sambil bilang, ‘Kurang Rp500, Mas.’ Artinya parkirnya sebenarnya Rp3 ribu. Bajingan og,” gerutu Asror.

Baru Asror tahu kemudian, ternyata ada dua jenis tukang parkir di Surabaya: resmi dan liar. Di antara tukang parkir liar adalah yang beroperasi di depan minimarket.

Setelah baca-baca berita, penghasilan tukang parkir liar di Surabaya ternyata juga bisa di atas UMR Surabaya. Itu membuat Asror malah jadi iba terhadap diri sendiri. Mengingat, gajinya di Surabaya bahkan tidak sampai UMR.

Tukang parkir liar Surabaya cuma doyan duit, nggak mau kerja (1)

Jika Asror terjebak pada rasa iba, beda cerita dengan Arfi (25) dan Winar (27) yang juga merupakan perantau di Surabaya.

Arfi akhirnya merantau ke Jogja sejak 2022. Di Jogja, dia mendapati cara kerja tukang parkir—sekalipun liar—yang lebih niat ketimbang di Surabaya.

“Misalnya di ATM atau minimarket. Tukang parkir di Jogja bener-bener bantu natain dan ngeluarin motor,” ungkapnya. Servis-servis yang tidak pernah dia dapat dari tukang Surabaya yang hanya muncul untuk menarik uang.

“Itupun di Jogja bayarnya Rp2 ribu, sudah mau bener-bener kerja. Di Surabaya Rp3 ribu nggak ngapa-ngapain,” lanjutnya.

Cuma doyan duit, nggak mau kerja (2)

Winar juga mengungkapkan hal yang sama. Meski merantau di Surabaya, sesekali Winar masih main ke Jogja untuk menemui sang pacar. Dia merasa salut dengan cara kerja tukang parkir di Jogja.

“Misalnya tukang parkir di kafe. Jok motor ditutupi kardus biar nggak panas. Kalau hujan, bahkan helm pengunjung ditutup kresek biar nggak basah. Padahal bayar cuma Rp2 ribu,” ujarnya.

Sementara yang terjadi di Surabaya tidak seperti itu. Tukang parkir hanya datang untuk meminta uang. Setelah itu langsung pergi, tidak peduli pada motor-motor yang terpakir.

Baik Winar maupun Arfi sebenarnya tak menampik kalau di Surabaya pun ada tukang parkir-yang niat kerja. Ada uang, ada servis. Namun, bagi keduanya, jumlahnya terhitung jari. Karena sependek pengalaman mereka, lebih sering bertemu dengan tukang parkir modelan yang mereka deskripsikan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tak Bisa Hidup Tenang di Surabaya karena Curanmor, Sudah Makin Waspada tapi Maling dari Daerah Tetangga Makin Gila, Harus Waspada Model Gimana Lagi? atau liputan Muchamad Aly Reza lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 23 April 2025 oleh

Tags: jukir surabayaparkir liar surabayapenghasilan tukang parkir surabayaSurabayatukang parkir surabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO
Urban

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Ribuan istri di Surabaya minta cerai. MOJOK.CO
Ragam

Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup

30 Januari 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO
Ragam

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO
Ragam

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

tunadaksa lulusan S1 universitas terbuka (UT). MOJOK.CO

Lulus SMA Cuma Diterima Kerja Jadi Babu dan Dihina karena Fisik, Kini Malah Jadi Asesor Sertifikasi dengan Gelar S1 UT

10 Februari 2026
Mahashivaratri, festival tahunan yang dirayakan umat Hindu untuk menghormati Dewa Siwa di Candi Prambanan. MOJOK.CO

Hari Suci Terpenting Umat Hindu, Mahashivaratri Perdana Digelar di Candi Prambanan dengan 1008 Dipa Menyala

14 Februari 2026
Rp100 juta pertama, tabungan bersama pas pacaran itu bikin repot MOJOK.CO

Usia 30 Harus Punya Rp100 Juta Pertama, Tapi Mustahil bagi Sandwich Generation yang Gajinya Pas-pasan dan Sudah Ludes di Tengah Bulan

10 Februari 2026
Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Lulusan SMK ngaku dapat gaji 20 juta saat kerja di Sidoarjo agar orang tua tidak direndahkan karena standar sukses di desa MOJOK.CO

Lulusan SMK Ngaku Kerja Gaji 20 Juta Perbulan agar Ortu Tak Direndahkan, Tapi Masih Tak Cukup buat Ikuti Standar Sukses di Desa

12 Februari 2026
Jakarta membunuh nurani kemanusiaan MOJOK.CO

Jakarta Kota “Pembunuh” Nurani: Orang Jatuh malah Ditekan, Lebih Ringan Beri Makan Anak Kucing ketimbang Anak Manusia yang Kelaparan

16 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.