Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Orang Berpostur Tinggi Sering Dikira Banyak Privilese seperti Gampang Cari Kerja, padahal Penuh Kerepotan

Mohamadeus Mikail oleh Mohamadeus Mikail
14 Juli 2025
A A
Derita orang tinggi yang penuh stigma. MOJOK.CO

Ilustrasi - susahnya jadi orang tinggi, hidup dengan stigma. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orang dengan postur tubuh tinggi kerap dianggap punya banyak privilese. Di Indonesia, privilese ini dapat dilihat secara gamblang. Misalnya saja dari syarat melamar pekerjaan di bidang-bidang tertentu. Namun, tak selamanya orang dengan badan tinggi hidupnya lebih bahagia. Yang ada, malah repot!

***

Sebuah penelitian dari Universitas Edinburgh tahun 2014 mengemukakan bahwa IQ seseorang linear dengan postur tubuh mereka. Artinya, orang tinggi dianggap berpotensi lebih pintar ketimbang orang pendek. 

Selain itu, melansir dari Tempo.co, anak laki-laki yang memiliki badan tinggi juga berpeluang lebih sukses dalam kariernya. Di sisi lain, mereka cenderung memiliki perasaan bahagia dan lebih tampil percaya diri.

Tidak heran, banyak orang Indonesia yang berharap memiliki badan tinggi. Lihat saja spanduk atau poster di pinggir jalan yang mempromosikan program menambah tinggi badan. Atau iklan komersial dari produk yang menjamin pertumbuhan tinggi badan. Salah satunya adalah produk susu yang menjamin pertambahan tinggi dalam kemasannya. 

Namun, sebagai orang yang memiliki tinggi badan 183 cm tanpa menggunakan produk tersebut, sejujurnya saya merasa risih. Tidak jarang saya jadi sasaran “keirian” orang lain yang menginginkan badan tinggi seperti saya.

Dapat dikatakan bahwa tinggi badan saya memang berada di atas rata-rata. Mengutip data dari CNBC Indonesia, rata-rata tinggi badan di Indonesia adalah 158,17 cm. Untuk laki-laki, rata-ratanya 163,55 cm, sedangkan untuk perempuan adalah 152,79 cm. Nah, tinggi badan saya ada di atas rata-rata itu (tak perlu saya tulis detail lah).

Akan tetapi, menjadi orang tinggi tidak seideal yang dibayangkan banyak orang. 

#1 Sulit tidur dengan posisi nyaman

Di antara tantangan terkait postur tubuh yang dihadapi orang tinggi di Indonesia, posisi tidur menjadi salah satunya. Sam, seorang laki-laki dengan tinggi badan 174 cm, menceritakan kesulitannya ketika tidur dengan kasur yang tanggung.

“Yang nggak enaknya adalah ketika tiduran, kasur pada umumnya kekecilan. Posisinya jadi kurang PW (posisi wenak),” ujar Sam kepada Mojok, Rabu (9/7/2025).

Sam terbiasa menggunakan kasur sepanjang 2 meter di rumahnya, sehingga tidur pun jadi lebih nyaman. Tapi ketika tidur di tempat lain, ia jadi risau karena jarang menemukan kasur yang panjang.

Senada dengan Sam, Faisal, laki-laki dengan tinggi badan 178 cm ini juga mengaku kesulitan mencari kasur yang nyaman untuk dipakai tidur. Bahkan, kasur di rumahnya sendiri juga kurang memenuhi standar postur tubuh orang tinggi. Alhasil, kalau ingin mengubah sedikit posisi, kakinya bisa nyaris menggantung di tepi kasur. 

Paling nyaman ya tidur menyamping dengan posisi kaki memeluk guling. Tapi tubuh jadi gampang kaku kalau keseringan seperti itu, karena harus meringkuk terlalu lama. Posisi ini juga sering ia lakukan saat menginap di kos temannya. Maklum, lagi-lagi ia menemukan kasur yang pendek. 

“Rata-rata kasur yang kupakai 150 cm lebih sedikit, atau mentok-mentok 180 cm pada umumnya. Untuk mencari kasur yang panjang harus mencari kasur yang lebih besar lagi,” kata Faisal. 

Iklan

#2 Fasilitas publik yang tidak ramah untuk orang dengan postur tubuh tinggi

Tantangan lain yang harus dihadapi orang berbadan tinggi ialah fasilitas publik yang tidak ramah. Orang dengan tinggi rata-rata 158 cm mungkin tidak menyadari betapa risihnya kami menggunakan kursi, pintu, bahkan keran yang terlalu pendek/rendah.

“Kursi di kampus maupun tempat umum juga terbilang pendek bagiku, apalagi kalau tidak ada sandarannya,” tutur Sam. 

Saya turut paham apa yang dirasakan Sam. Sebagai orang tinggi yang harus menyimak materi kuliah berjam-jam, kami harus tahan duduk di bangku-bangku yang kurang ergonomis alias pendek dan terbuat dari kayu, yang kerasnya bukan main.

Kadang-kadang posisi kami jadi serba salah. Mau menyelonjorkan kaki ke depan, tapi biasanya jarak antarbangku kuliah terlalu dekat. Kalau duduk di depan pun takut dinilai tak sopan atau mengganggu dosen dan teman-teman yang akan lewat. Jangan harap untuk menekukkan kaki di penyangga kursi, rasanya nggak nyaman.

“Apalagi kalau kursi yang biasanya menyatu dengan meja. Ini sangat mengganggu postur tubuh dan kurang nyaman.” keluh Faisal.

#3 Keran air yang tak ramah

Tak hanya kursi di perkuliahan atau tempat umum, jarak keran yang terlalu dekat dengan tanah atau sepinggang rata-rata orang Indonesia, juga sangat merugikan kami yang tingginya di atas rata-rata.

Bayangkan, kata Faisal, ia harus membungkuk lebih ke bawah untuk menggapai air yang keluar dari keran. Punggung jadi sakit saat wudu karena tak bisa menahan terlalu lama. 

Baik Sam maupun Faisal berharap fasilitas umum seperti kursi, keran, hingga kasur bisa lebih aksesibel untuk orang-orang tinggi. Saya sendiri sampai harus pergi ke fisioterapi saking tidak nyamannya menggunakan fasilitas publik yang kurang memadai, hingga membuat punggung saya sakit selama setahun.

Mengutip artikel berjudul Musculo-skeletal and pulmonary effects of sitting position – a systematic review, postur tubuh yang tidak baik dapat berdampak terhadap kurvatur tulang belakang, di mana hal tersebut juga berdampak negatif terhadap pernapasan. 

Oleh karena itu, fisioterapi jadi kegiatan yang penting, meski tentu saja biayanya tidak murah. Tidak semua orang juga bisa menjangkaunya. Apalagi biasanya, untuk pergi ke fisioterapi tak cukup datang hanya satu kali. 

#4 Tak semua orang dengan postur tubuh tinggi jago olahraga

Tak hanya masalah postur dan fasilitas publik yang kurang memadai. Lebih dari itu, terdapat masalah sosial antara orang tinggi dan ekspektasi besar di lingkungan sekitarnya. Mereka menganggap orang tinggi punya nilai plus dan lebih unggul dibanding masyarakat pada umumnya. 

Misalnya, mereka menganggap orang tinggi “pasti” lebih jago di bidang olahraga. Padahal, postur tinggi bukanlah jaminan mutlak, kecuali mereka rajin berlatih. Ekspektasi itu justru menekan kami sebagai orang tinggi. Seolah kami harus memenuhi standar mereka. Jika tidak, kami hanya jadi bahan ejekan semata.

“Kadang-kadang saya merasa, orang-orang menganggap saya jago di bidang olahraga karena postur saya yang tinggi. ‘Dia pasti bagus, bisa lari atau olahraga’. Nah, saat orang tinggi tidak bisa melakukannya, mereka pasti menjadi bahan olokan,” kata Sam.

Tak pelak, keresahan orang tinggi selalu menjadi isu yang kurang relevan di masyarakat. Saya sendiri pernah membicarakan masalah ini kepada orang lain, tapi respons mereka sering kali abai. Barangkali karena mereka merasa tidak terdampak secara langsung.

Masalah minoritas seharusnya jadi isu bersama

Meski begitu, saya berharap permasalahan orang tinggi ini dapat menjadi isu bersama. Mulai dari membuat fasilitas umum yang lebih ramah. Tak hanya bagi orang tinggi tapi juga kelompok-kelompok minoritas.

Misalnya, dengan menyediakan kursi ergonomis, nyaman, dan aksesibel. Mengutip dari artikel dekoruma, kursi ergonomis yang cocok dipakai orang tinggi di atas rata-rata, seharusnya bisa dibuat dengan tinggi 45 cm sampai 51 cm. 

“Pengalaman saya sendiri ketika membeli celana atau baju yang saya mau terkadang nggak ada ukuran yang pas, baik saat membeli di swalayan atau thrifting.” kata Faisal. 

Meski isu di atas terlihat sepele, tapi bukan berarti tidak layak untuk disoroti. Dengan begitu, masyarakat tak lagi berpikir bahwa orang-orang tinggi punya banyak privilese. Apalagi, punya stereotip kalau orang tinggi lebih unggul dan jago olahraga bahkan gampang cari kerja. 

Sebuah keunggulan tentunya datang dengan kekurangannya juga alias sepaket. Jadi, perlu diingat bahwa menjadi orang tinggi tidak sepenuhnya baik. Karena setiap manusia unik dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Mojok periode Juli-September 2025.

Penulis: Mohamadeus Mikail

Editor: Aisyah Amira Wakang

BACA JUGA: Lowongan Kerja Butuh Orang-orang yang Tinggi, Lalu Bagaimana dengan Aku yang Pendek? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 oleh

Tags: badan tinggiorang tinggipostur tinggipostur tubuhtinggi rata-rata orang Indonesia
Mohamadeus Mikail

Mohamadeus Mikail

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

21 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Pekerja Jakarta merenung di hutan kota GBK.MOJOK.CO

Hutan Kota GBK Tempat Merenung Terbaik Para Pekerja SCBD Jakarta, Obat Stres Termanjur Meski Kadang Kesal dengan Kelakuan Pengunjungnya

18 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Gen Z mending beli bunga daripada rumah untuk self reward. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Suka Beli Bunga untuk Self Reward daripada Stres Nggak Mampu Beli Rumah untuk Masa Depan

16 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.