Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Orang Ngapak Melawan Rasisnya Warga Jakarta: ‘Bukan Dielek Ndeso, Aneh, Keras, Apalagi Bahasa Alien’

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
17 Januari 2025
A A
kaum ngapak di kemang jakarta selatan.MOJOK.CO

Ilustrasi - Orang Ngapak di Jakarta (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi orang-orang Ngapak, Jakarta adalah kota yang diskriminatif. Banyak yang mendapat perlakuan berbeda. Bahkan, sampai pada titik ekstrem dihina-hina dalam pekerjaan hanya karena dialek dianggap aneh.

***

“‘Kalau ngomong jangan pakai bahasa alien! Kita ini manusia, goblok!’”

Ungkapan tersebut keluar dari mulut salah seorang sutradara film. Fidelia (27), bukan nama sebenarnya, tak akan pernah lupa dengan kalimat menyakitkan tadi. 

“Sepanjang aku hidup, aku baru merasakan kalau di Jakarta, Ngapak dianggap bukan bahasa manusia,” ujar perempuan asal Purbalingga, Jawa Tengah ini menceritakan pengalaman setahun lalu itu kepada Mojok, Kamis (16/1/2024) malam.

Ditertawakan karena dianggap medok

Sudah jadi rahasia umum kalau banyak orang “menertawakan” dialek Ngapak. Ia dianggap aneh, medok, kampungan, dan sejenisnya. 

Fidelia, yang besar dan tumbuh sebagai orang Ngapak tulen, menyadari betul hal tersebut. Saat masih kuliah di Jogja, ejekan yang berbau rasial itu ia alami sendiri. Ironisnya lagi, ejekan-ejekan ini datang dari teman-temannya.

Sebagai misal, yang paling sering terjadi, ketika tengah mengobrol memakai dialek Ngapak, lawan bicaranya selalu tertawa. Bahasanya dianggap lucu. Terutama oleh orang-orang yang berbicara dengan bahasa non-Jawa, seperti Jawa Barat atau Jakarta.

“Bahkan kalau aku ngomong pakai Bahasa Indonesia pun, selalu ditertawakan. Dibilang nggak pantas karena mdeok. Katanya, ‘kalau ngapak, ya ngapak aja, nggak usah dipaksain pakai bahasa kota’,” ungkapnya, getir.

Namun, lambat laun Fidelia berusaha berdamai dengan sikap tersebut. Baginya, tak ada tendensi dari teman-temannya itu untuk mengejeknya. Mungkin cara bicaranya dianggap aneh karena orang-orang masih asing dan belum terbiasa mendengarnya.

“Lama-lama mikir juga, ah, yaudah lah. Itung-itung hiburan buat teman-temanku. Toh, mereka cuma nertawain aja, nggak ada maksud menghina,” katanya.

Didiskriminasi dalam pekerjaan karena Ngapak

Sayangnya, hal berbeda ia alami ketika di Jakarta. Ceritanya, pada awal 2024 lalu, Fidelia mendapatkan panggilan pekerjaan dari sebuah rumah produksi. Di situ, ia masuk dalam divisi yang mengurusi bidang art director untuk sebuah proyek film.

Momen itu adalah kali pertama Fidelia bekerja di Jakarta. Selama ini, biasanya ia hanya mengerjakan proyek-proyek film di Jogja. Sejak lulus kuliah pada 2021 lalu, ia memang memutuskan buat menetap saja di Jogja untuk bekerja.

Awalnya, Fidelia amat antusias dengan pekerjaan. Meskipun yang akan digarap bukan film kategori top, setidaknya ini bisa menjadi portofolionya.

Iklan

“Selama ini kan aku cuma handle project-project di Jogja. Kebanyakan film pendek. Makanya, excited banget waktu ditawarin kerjaan ini,” jelasnya.

“Semacam opportunity bisa kerja sama artis dan sutradara ibu kota,” imbuh Fidelia.

Namun, di luar dugaannya, hal-hal tak mengenakkan justru terjadi. Dan, sekali lagi, ini menyangkut dialek Ngapak yang secara alamiah selalu terlontar saat dirinya bicara.

Kalau cuma buat bahan guyonan atau ditertawakan, sih, ia sudah terbiasa. Toh, teman-temannya selama kuliah di Jogja cuma demikian. Masalahnya, hinaan ini menurutnya sudah keterlaluan.

Parahnya lagi, ini dilontarkan oleh sutradara yang meng-direct proyek film tersebut.

“Itu kejadiannya bahkan sebelum proses produksi. Aku ingatnya, itu kami lagi meeting dengan crew lain, ada si director, DOP, termasuk rekan-rekan se-divisiku,” jelasnya.

“Aku lagi presentasiin hasil kerja divisiku. Tapi tiba-tiba, si director motong, ‘Kalau ngomong jangan pakai bahasa alien! Kita ini manusia, goblok!,” imbuh Fidelia, mengingat kalimat menyakitkan itu.

Memutuskan keluar dari proyek film karena memang toxic

Lebih jauh, ia bercerita kalau sikap sutradara waktu itu sangat intimidatif. Ia bilang, seperti diulang oleh Fidelia: “di tempat ini cuma boleh ngomong pakai Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, selain itu jangan dipakai.”

Hal itu pun sangat menyakitkan bagi Fidelia. Sebab, selama presentasi dia memang berbicara menggunakan Bahasa Indonesia. Hanya saja, karena dialek Ngapak sedikit-sedikit masih terbawa, sutradara langsung menghujatnya.

Sialnya, beberapa orang yang mengikuti meeting itu tertawa lepas. Mereka ikut terbawa sikap diskriminatif yang dipertontonkan oleh sang sutradara. Hanya ada beberapa orang yang bersimpati kepadanya.

“Aku pikir orang Jakarta berpendidikan semua. Ternyata enggak, selevel director kondang aja mulutnya jahat banget.

Stereotipe negatif dialek Ngapak

Tak cuma Fidelia, banyak orang Ngapak lain yang merasa terganggu dengan stereotipe negatif yang dialami hanya karena dialek mereka. Misalnya, ini dipotret dalam penelitian Sukma Imam Susmono berjudul “Konsep Diri Berbahasa: Dimensi Psikologis Penggunaan Bahasa Pada Penutur Bahasa Banyumasan” (2006).

Dalam penelitian tersebut, Sukma menemukan bahwa banyak mahasiswa Ngapak di Jogja merasa rendah diri karena stereotipe yang mereka terima. 

Sukma mencatat, mereka secara psikologis terganggu dengan dengan anggapan bahwa dialek Ngapak itu disebut marjinal (pinggiran), ndeso, sehingga banyak yang akhirnya enggan menggunakannya lagi.

Fidelia sendiri mengamin temuan tersebut. Sebab, selain dirinya, buktinya ada banyak orang lain yang mengalami diskriminasi cuma karena dialeknya dianggap aneh.

“Padahal kan tiap bahasa punya karakternya. Bahasa mereka, kalau diucapkan di tempat lain nun jauh di sana, aku yakin juga bakal dianggap beda. Makanya, aku cuma mau menegaskan, Ngapak itu nggak aneh apalagi bahasa alien; mereka aja yang rasis.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Omong Kosong Dangdut Miskin Tema dan Kamu Perlu Tahu Karya Monumental Dangdut Ngapak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2025 oleh

Tags: bahasabahasa ngapakbanyumasdialeg ngapakdialekngapakpurbalinggaPurwokerto
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO
Urban

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel MOJOK.CO
Ragam

Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel

6 Januari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Purwokerto Adalah Kota Pungli Terbaik di Indonesia MOJOK.CO
Esai

Purwokerto Layak Mendapat Penghargaan Anumerta Sebagai Kota Pungli Terbaik di Indonesia

18 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Nasib Suram Pekerja Jakarta Rumah di Bekasi, Dituntut Bekerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

17 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.