Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ada Tidaknya Efisiensi, Pekerja Film di Jogja Tetap Megap-megap tapi dari Situlah Karya Terbaik Lahir

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
25 April 2025
A A
Pekerja film Jogja. MOJOK.CO

ilustrasi - bioskop di Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu instansi yang terimbas adanya efisiensi anggaran oleh negara. Namun, mereka tak menyerah untuk menggelar “Jogja Film Pitch & Fund” 2025. Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi menyebut kemungkinan hanya ada 3 besar film pendek yang akan terpilih tahun ini.

Jumlah tersebut makin sedikit dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2023 misalnya. Dari 15 proposal yang masuk tahap pitching, terjadi proses One On One Metting di mana para peserta mempresentasikan karyanya hingga terpilih 10 proposal. Selanjutnya, tim kurator akan memilih 5 film pendek yang bagus dan layak untuk mendapatkan pendanaan dari Dinas Kebudayaan DIY. 

Tahun berikutnya, Dinas Kebudayaan DIY hanya memberi kuota 4 film pendek terpilih dari 34 proposal. Sedangkan, di tahun ini kompetisinya semakin ketat karena hanya ada 3 film pendek yang terpilih karena efisiensi anggaran.

“Mohon maaf karena efisiensi tahun 2025 ini, 3 besar nanti yang akan lolos pendanaan,” ucap Dian di Grand Kangen Hotel, Jogja pada Kamis (24/4/2025).

“Memang ada keterbatasan pendanaan dengan kemampuan anggaran yang kami siapkan Rp180 juta untuk pembuatan film,” lanjutnya.

Ekosistem film Jogja adalah tanggungjawab bersama

Menurut Dian, adanya efisiensi anggaran seharusnya justru memotivasi para filmmaker maupun komunitas untuk meningkatkan kemandirian. Ia menegaskan ekosistem perfilman akan tumbuh dengan baik berkat tanggungjawab bersama antara pemerintah dan para budayawan.

Justru dengan adanya tantangan tersebut, Dian berharap para pekerja seni dapat menjaga daya berkreasi dan energi mereka untuk menciptakan suatu karya.

“Malah buktinya sekarang kami sudah menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) perfilman di DPRD DIY. Nah waktu inilah yang kemudian bisa kita refleksikan. Apa sih sebenarnya yang dibutuhkan dalam ekosistem perfilman? Sehingga bisa menguatkan antara sistem dan regulasi,” ujarnya.

Dengan begitu, perizinan film jadi lebih mudah, serta kolaborasinya pun jadi semakin cair. Sejauh ini, kata Dian, instansinya telah membantu menciptakan ekosistem film dengan menggelar diskusi seputar film atau festival seperti film pelajar, film dokumenter, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), hingga pendanaan seperti program Jogja Film Pitch & Fund.

“Yang perlu dimaknai adalah ketika efisiensi mengakibatkan pengurangan jumlah film terpilih menjadi tiga, tapi ruang yang lain justru lebih terbuka. Jadi istilahnya kalau rezeki itu tidak ada yang tertutup, yang lain masih buka,” ucap Dian.

Indonesia gelap tak menghambat komunitas film

Jogja Film Pitch & Fund sendiri sudah diadakan sejak tahun 2015. Program dari Dinas Kebudayaan DIY ini seolah menjadi angin segar bagi para filmmaker dan komunitas film di Jogja di tengah upaya mereka membangun industri perfilman.

Perwakilan Kurator Jogja Film Pitch & Fund, Dwi Sujanti Nugraheni bercerita industri perfilman itu berjalan tanpa ada suntikan dana sama sekali sejak tahun 2000-an. Setelah 14 tahun berjalan, baru ada pitching setengah tertutup.

“Jadi bayangin, selama hampir 14 tahun itu kami kudu ngadek dewe (harus berdiri sendiri), tapi syukurnya Jogja itu modal sosialnya masih besar banget untuk membuat film, bahkan filmnya bisa sampai ke festival internasional,” ujar Dwi.

Dari rentang kurun waktu tersebut hingga sekarang, ia menyebut sudah ada banyak alumni Jogja yang berada di industri film. Oleh karena itu, Dwi berharap adanya efisiensi maupun kondisi Indonesia gelap sekalipun, justru tak meredupkan semangat filmmaker untuk berkarya.

Iklan

“Saya pikir kondisi ini justru menguatkan modal sosial kita lagi, sebab sampai hari ini modal sosial tersebut masih kuat di Jogja dan belum terkalahkan oleh tempat-tempat lain,” ucapnya.

“Saya masih optimis, mau ada duit atau nggak ada duit dari pemerintah, kami masih bisa lanjut. Dan biasanya, ketika ada masa sulit itu justru lahir karya-karya yang bagus,” lanjutnya. 

Kualitas film di Jogja makin terjamin

Dwi juga berharap para filmmaker lebih peka terhadap karya yang mereka akan hasilkan. Misalnya, pesan dalam film yang ingin disampaikan hingga suatu hari Jogja menghasilkan signature atau ciri khas. “Oh ini film Jogja,” katanya.

Senada dengan Dwi, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan semakin kecil kuota yang terpilih untuk pendanaan, maka ia membayangkan betapa ketatnya proses kurasi. Itu menandakan juga bahwa film pendek yang terpilih memiliki kualitas yang terjamin.

“Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka itu akan semakin mendorong kemampuan eksplorasi, mencoba meningkatkan segala hal, sehingga bisa kita bayangkan ke depan kualitas itu semakin meningkat justru dengan adanya efisiensi,” ucapnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: 4 Film Pendek Karya Seniman Lokal yang Lolos Jogja Film Pitch & Fund 2024, Mulai dari Dokumenter hingga Fiksi Satir atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 25 April 2025 oleh

Tags: Dinas Kebudayaan DIYefisiensi anggaranfilm JogjaJogja Film Pitch & Fundpekerja film
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Gala premier Jogja Film Pitch & Fund. MOJOK.CO
Ragam

4 Film Pendek Karya Seniman Lokal yang Lolos Jogja Film Pitch & Fund 2024, Mulai dari Dokumenter hingga Fiksi Satir

24 April 2025
efisiensi anggaran, anggaran pendidikan indonesia.MOJOK.CO
Ragam

Anggaran Pendidikan Bakal Disembelih Atas Nama Efisiensi Prabowo, Masa Depan Anak Muda Terbunuh

13 Februari 2025
‘Anak Dikasih Makan Siang Gratis, tapi Ortu Menangis’ - Curhatan Para Pekerja yang Kena PHK Akibat Efisiensi Anggaran Prabowo.MOJOK.CO
Ragam

‘Anak Dikasih Makan Siang Gratis, tapi Ortu Menangis’ – Curhatan Para Pekerja yang Kena PHK Akibat Efisiensi Anggaran Prabowo

12 Februari 2025
'WiFi Diputus, Listrik Dimatikan, Pegawai Dirumahkan' - Imbas Kebijakan Efisiensi Anggaran Prabowo bagi ASN di Jogja.MOJOK.CO
Aktual

‘WiFi Diputus, Listrik Dimatikan, Pegawai Dirumahkan’ – Imbas Kebijakan Efisiensi Anggaran Prabowo bagi ASN di Jogja

7 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Open To Work.MOJOK.co

Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba

9 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah PTN Surabaya pertama kali makan di restoran All You Can Eat (AYCE): norak, mabuk daging, hingga sedih karena hanya beri kenikmatan sesaat MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

6 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.