Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Melacak Gerak Sayap Predator Terlangka di Jawa Lewat Genggaman Ponsel

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 Desember 2025
A A
elang jawa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Melacak Gerak Sayap Predator Terlangka di Jawa Lewat Genggaman Ponsel (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tali berwarna biru itu ditarik perlahan. Kunci yang mengganjal pintu terlepas, dan kandang kayu yang dilapisi jaring seketika terbuka. 

Sejenak, Elang Jawa di dalamnya terdiam. Kepalanya menoleh, matanya menyapu sekeliling. Hutan di depannya terbentang hijau dan sunyi, seolah menunggu keputusan terakhir.

Detik berikutnya, sayapnya mengepak kuat. Udara terbelah. Tubuh cokelat keemasan itu terangkat dan melesat. Ia sempat terbang ke sisi kiri, sebelum akhirnya berbelok ke arah kanan, menukik tajam, lalu menghilang di balik kanopi pepohonan.

Pelepasliaran, yang dilakukan di Danau Situ Gunung, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pada Sabtu (13/12/2025) itu selesai dalam hitungan detik. Namun, bagi para peneliti, justru di situlah cerita dimulai.

elang jawa.MOJOK.CO
Potret Raja Dirgantara, Elang Jawa yang dilepasliarkan di TNGGP, Sukabumi, Sabtu (13/12/2025). Elang Jawa bukan predator ceroboh. Ia tahu kapan harus menyerang dan kapan membatalkan. Jika mangsa terlalu besar atau lingkungan terlalu terbuka, serangan bisa dihentikan. (Mojok.co/Eko Susanto)

Di punggung Elang Jawa yang diberi nama “Raja Dirgantara” itu, terpasang sebuah alat kecil. Ringan, nyaris tak terlihat dari kejauhan. Bukan untuk menahan, bukan pula untuk mengikat. 

Alat itu dilekatkan agar manusia dapat tetap “mengikuti” perjalanan seekor predator yang kini kembali sepenuhnya menjadi milik hutan. Sejak momen itu, elang tersebut tak lagi bisa dipantau dengan mata.

Pergerakan Elang Jawa terpantau di ponsel

Beberapa langkah dari lokasi pelepasliaran, suasana mendadak sunyi. Para peneliti saling bertukar pandang, lalu beberapa di antaranya menunduk ke arah layar ponsel di tangan mereka.

Tak lama kemudian, dari ponsel tersebut, sebuah titik muncul. Kecil. Diam sesaat. Lalu bergerak perlahan. Di layar ponsel itulah, perjalanan Elang Jawa yang baru saja dilepas kembali ke alam mulai terbaca.

elang jawa.MOJOK.CO
Aplikasi pemantauan Elang Jawa menggunakan metode GPS-GSM. Momen pelepasliaran sendiri bukanlah garis akhir, tetapi pintu masuk ke fase pemantauan yang lebih komprehensif: pemantauan. (dok. istimewa/tangkapan layar aplikasi pemantauan dari ponsel Oki Hidayat, peneliti BRIN)

Bagi Usep Suparman, peneliti Elang Jawa dari Raptor Conservation Society (RCS), momen setelah pelepasliaran selalu menjadi yang paling menegangkan. Elang Jawa boleh saja telah menghilang dari pandangan, tetapi nasibnya belum sepenuhnya aman. 

“Di lapangan, berkaca dari pengalaman yang dulu-dulu, kita sering kehilangan jejak,” ujarnya kepada Mojok usai pelepasliaran Raja Dirgantara, Sabtu (12/13/2025). “Kalau elang sudah terbang jauh, kita tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.” 

Kini, layar ponsel memberi petunjuk awal. Memang bukan jaminan keselamatan, tetapi cukup untuk membuat para peneliti setidaknya mengetahui arah gerak dan keberadaannya.

Usep menambahkan, sejak dilepasliarkan, tugas panjang para peneliti justru baru dimulai. Baginya, pelepasliaran bukanlah garis akhir, melainkan pintu masuk ke fase pemantauan yang lebih komprehensif dan menuntut kesabaran. 

Kemajuan teknologi semakin membantu proses konservasi

Setiap pergerakan Raja Dirgantara, kini dipantau lewat teknologi GPS yang terpasang di punggungnya. Alat kecil ini diharapkan mampu membuka gambaran utuh tentang bagaimana seekor Elang Jawa menata kembali hidupnya di alam liar.

Usep berharap, dari Raja Dirgantara, mereka bisa memperoleh data jelajah yang akurat. Bukan sekadar ke mana ia terbang, tetapi seberapa luas wilayah yang digunakannya, bagaimana pola geraknya, dan ruang ekologi seperti apa yang benar-benar dibutuhkan Elang Jawa untuk bertahan. Data semacam inilah yang selama ini sulit didapat secara utuh.

Iklan

“Selama ini, akurasinya tidak maksimal,” kata Usep. Selama ini, pengamatan visual kerap terputus oleh medan, cuaca, dan keterbatasan manusia mengikuti pergerakan predator yang bisa melayang jauh dalam waktu singkat. 

Metode pemasangan GPS sebenarnya bukan hal baru. Dua Elang Jawa sebelumnya pernah dilepasliarkan dengan perangkat serupa, masing-masing di kawasan Gunung Salak dan Puncak. Namun, teknologi yang digunakan kala itu masih menyisakan banyak celah.

elang jawa.MOJOK.CO
Potret peneliti RCS, Usep Suparman. (Mojok.co/Eko Susanto)

Untuk mempermudah gambaran, Usep mengibaratkan metode lama seperti mencoba memahami kehidupan seseorang hanya dari foto-foto yang diambil setahun sekali. 

“Kita tahu wajahnya, tapi tidak tahu rutinitasnya,” ujarnya. Sementara teknologi telemetri dan GPS, kata Usep, membuat peneliti seolah menonton siaran langsung (live streaming). Kita bisa melihat ke mana Elang Jawa pergi, di mana ia beristirahat, dan potensi bahaya apa yang mendekatinya setiap hari.

Sebelum GPS-GSM digunakan, tim RCS mengandalkan radio telemetri berbasis sinyal. Alat itu juga dipasang di tubuh Elang Jawa, tetapi data yang dihasilkan harus dilacak dan diolah secara manual. Prosesnya memakan waktu, tenaga, dan sering kali tidak cukup presisi. 

“Jadi GPS tracking itu salah satu metode untuk mengetahui seberapa jauh daerah jelajah dan seberapa luas habitat yang Elang Jawa gunakan,” imbuh Usep.

Tiga puluh tahun meneliti Elang Jawa membuat Usep percaya bahwa konservasi tak bisa berhenti pada cara-cara lama. Teknologi, baginya, bukan sekadar alat bantu, melainkan jembatan untuk memperpanjang napas hidup satwa kharismatik hutan Jawa itu. 

Ia menyebut, populasi Elang Jawa yang kini teridentifikasi di alam berkisar antara 2.000 hingga 3.000 individu. Angka itu, menurutnya, menjadi indikator bahwa upaya perlindungan selama tiga dekade terakhir menunjukkan hasil. 

“Itu berarti aman dan sukses dalam memproteksi Elang Jawa itu sendiri,” ujarnya.

Dulu andalkan satelit Argos, kini pakai GPS-GSM

Dari sisi ilmiah, pilihan menggunakan teknologi pelacakan berbasis GPS-GSM juga memiliki dasar yang kuat. Peneliti Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Oki Hidayat, menjelaskan bahwa pergerakan hewan dalam lanskap setidaknya terbagi ke dalam tiga pola. Antara lain home range, dispersal, dan migrasi. 

“Elang Jawa, sebagai raptor endemik dengan sebaran terbatas, lebih banyak bergerak dalam home range, wilayah jelajah di sekitar sarang untuk berburu dan beraktivitas sehari-hari. Bisa juga dispersal ketika individu muda mencari wilayah baru,” jelasnya kepada Mojok, Sabtu (12/13/2025).

Untuk memahami pola-pola itu, alhasil teknologi pelacakan menjadi krusial. Selama ini, sistem satelit Argos merupakan metode yang paling umum digunakan dalam studi pergerakan satwa liar, termasuk raptor. 

Namun, berdasarkan kajian tim riset Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa, sistem tersebut memiliki keterbatasan. Akurasinya relatif rendah, berkisar antara 150 hingga 1.000 meter, dengan data yang tidak selalu terkirim secara cepat. Terutama di wilayah tropis seperti Indonesia, di mana satelit hanya melintas beberapa kali dalam sehari.

“Argos ini melintas cuma dua kali sehari di Indonesia, jadi data tidak bisa terkirim secara cepat,” ungkapnya. Keterbatasan ini membuat Argos kurang ideal untuk memantau satwa dengan pergerakan lokal dan detail perilaku yang halus, seperti Elang Jawa. 

Sementara teknologi GPS-GSM menawarkan pendekatan berbeda. Akurasi lokasinya mencapai 3–10 meter, dan data dapat dikirim secara realtime atau near real time melalui jaringan seluler. Perangkatnya pun lebih kecil dan ringan, di bawah 30 gram, serta lebih hemat daya karena modem GSM hanya aktif saat mengirim data.

“Untuk raptor endemik seperti Elang Jawa, yang distribusinya lokal dan hidup di wilayah dengan cakupan sinyal seluler cukup baik, GPS-GSM jauh lebih efektif,” jelas Oki. Data pergerakan pun bisa langsung diakses melalui aplikasi di ponsel.

elang jawa.MOJOK.CO
Infografis perbandingan metode pelacakan Elang Jawa menggunakan teknologi satelit Argos dan GPS-GSM. Data diolah dari penjelasan peneliti BRIN, Oki Hidayat, kemudian di-generated menggunakan tool AI Notebooklm. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Dari genggaman ponsel itulah, titik-titik kecil di layar tak lagi sekadar koordinat. Ia berubah menjadi cerita tentang ruang hidup, ancaman, dan peluang bertahan seekor Elang Jawa bernama Raja Dirgantara yang kini terbang bebas.

Bagi Oki Hidayat, penggunaan teknologi GPS-GSM dalam pemantauan Elang Jawa pada dasarnya adalah sebuah ikhtiar. Bukan sekadar soal kecanggihan alat atau kecepatan data yang diterima peneliti, tetapi upaya untuk memastikan setiap langkah konservasi berdiri di atas informasi yang jelas dan terukur. 

“Dengan mengetahui ke mana Elang Jawa terbang, seberapa luas wilayah jelajahnya, dan ruang apa saja yang paling sering digunakannya, keputusan perlindungan bisa diambil dengan lebih tepat.”

Oki menilai, selama ini banyak upaya konservasi berjalan dengan keterbatasan data. Akibatnya, perlindungan habitat sering bersifat umum dan tidak selalu menyasar area yang benar-benar penting bagi satwa. 

Alhasil, teknologi pelacakan berbasis GPS-GSM membuka peluang untuk memperbaiki pendekatan tersebut. Data pergerakan yang dikumpulkan secara realtime memungkinkan peneliti memahami kebutuhan ruang Elang Jawa secara lebih detail, sekaligus mengenali titik-titik yang rentan terhadap gangguan manusia.

Perlu adanya sinergi dari banyak pihak

Oki juga berharap, ke depan, teknologi ini dapat digunakan secara lebih luas dan konsisten. Tidak hanya untuk memantau individu hasil rehabilitasi, tetapi juga untuk memperkaya basis data ekologi Elang Jawa di berbagai bentang alam. Dengan data yang memadai, upaya pelestarian tidak lagi bergantung pada asumsi, melainkan pada bukti lapangan yang terus diperbarui.

Namun, Oki juga menegaskan bahwa teknologi tidak akan bekerja sendirian. Data hanya akan bermakna jika ditindaklanjuti dengan perlindungan habitat, pengelolaan kawasan yang bijak, serta keterlibatan para pemangku kepentingan di lapangan. 

“Makanya perlu kembali dipertegas, dalam konteks inilah pelacakan menggunakan teknologi GPS-GSM menjadi bagian penting dari kerja konservasi yang lebih besar.”

elang jawa.MOJOK.CO
Potret Direktur BLDF Jemmy Chayadi. Ia mengatakan pihaknya berkomitmen penuh dalam upaya konservasi Elang Jawa, terutama di Gunung Muria (Mojok.co/Eko Susanto)

Pendekatan berbasis data ini mulai menemukan bentuk nyatanya di sejumlah lokasi. Saat ini, Djarum Foundation terlibat aktif dalam pelestarian satwa terancam punah di Gunung Muria, termasuk Elang Jawa dan macan tutul, dengan memadukan perlindungan satwa dan pemulihan habitat bersama masyarakat setempat.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Upaya “Mengadopsi” Sarang-Sarang Sang Garuda di Hutan Pulau Jawa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2025 oleh

Tags: elangelang jawaGPSgps gsmgps pada elang jawagsmmemantau elang jawapilihan redaksisatelit argos
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO
Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO
Ragam

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO
Ragam

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.