Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Derita Lulusan Teknik Perminyakan: Dikira Bergaji Besar sampai Jadi Sasaran Utang Tetangga, padahal Hidup Pas-pasan di Perantauan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Mei 2025
A A
Derita Lulusan Teknik Perminyakan: Dikira Bergaji Besar sampai Jadi Sasaran Utang Tetangga, padahal Hidup Pas-pasan di Perantauan.MOJOK.CO

Ilustrasi - Derita Lulusan Teknik Perminyakan: Dikira Bergaji Besar sampai Jadi Sasaran Utang Tetangga, padahal Hidup Pas-pasan di Perantauan (Ega Fanshuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kerja di industri minyak dan gas (migas) nggak sekonyong-konyong langsung banyak duit. Sialnya, banyak orang mengira kalau lulusan Teknik Perminyakan bakal langsung dapat gaji besar.

Hal ini dirasakan Mahfud (24), lulusan Teknik Perminyakan di sebuah PTN Jogja. Kepada Mojok, ia mengaku langsung jadi sasaran pinjam duit teman dan tetangga.

“Di desa tuh, orang dianggap punya banyak duit kalau kerja di bank, jadi PNS, atau kerja di tambang kayak aku ini,” tawanya, ketika Mojok temui, Rabu (7/5/2025) malam.

Gaji lulusan Teknik Perminyakan pada tahun pertama masih di bawah Rp4 juta

Setelah lulus kuliah Teknik Perminyakan pada awal 2024 lalu, Mahfud langsung diterima kerja di sebuah perusahaan kontraktor produksi migas. Perusahaan ini adalah tempat dia magang ketika masih kuliah.

Pada tahun pertamanya bekerja, Mahfud tak memberitahu orang tuanya berapa gajinya. Ia cuma mengatakan kalau gaji yang dia terima sudah bersih karena disediakan fasilitas mes dan uang makan siang.

“Jujur, belum PD bilang ke orang tua kalau gaji tahun pertamaku itu under 4 juta, tiga koma sekian lah. Karena itu masih terlalu kecil untuk standard pekerja di migas,” ungkapnya.

Kerja di perusahaan migas memang menawarkan gaji yang menggiurkan. Namun, Mahfud menegaskan bahwa itu butuh proses. Ada jenjang karier, ada juga jabatan-jabatan yang memang digaji langsung besar.

Sementara karena dia bekerja sebagai staf lapangan, tahun pertama pula, gaji yang diterima pun masih kecil. Berbeda dengan pegawai lama atau jajaran direksi.

“Memang ada prosesnya, senior yang sudah kerja setahun lebih dapat gaji sampai 8 juta. Masalahnya kan aku masih baru,” kata lulusan Teknik Perminyakan ini.

Orang tua telanjur membanggakan pencapaiannya ke saudara dan tetangga

Sialnya, orang tua Mahfud terlalu membanggakan pencapaiannya. Ia paham orang tuanya bangga karena anaknya bisa kerja di tempat yang menjanjikan.

Selain itu, di keluarganya cuma dirinya yang berhasil lulus kuliah sampai kerja di industri migas. Dua kakaknya lulusan SMA, sementara adiknya masih SD. Di lingkungan desanya pun masih sedikit yang kuliah, apalagi ke jurusan seprestius dia, Teknik Perminyakan.

Masalahnya, kata Mahfud, pencapaiannya itu terlalu “dilebih-lebihkan”. Terutama soal gajinya yang oleh orang tua malah dibesar-besarkan.

“Aku ingat banget pas lebaran kemarin, gimana waktu ngumpul keluarga ortuku bangga-banggain aku. Sampai bilang kalau gajiku belasan juta lagi,” kata Mahfud, geleng-geleng.

Mau membantah, tidak enak. Tapi kalau diam saja, informasi itu amat keliru. Jujur saja, Mahfud mengaku dalam situasi dilema. 

Iklan

“Tapi ya akhirnya aku biarin aja karena pikirku nggak bakal ada apa-apa.”

Baca halaman selanjutnya…

Jadi sasaran utang, padahal sengsara di perantauan.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 9 Mei 2025 oleh

Tags: gaji teknik perminyakanlulusan teknik perminyakanteknik perminyakanteknik perminyakan ptn
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Pendidikan karakter Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta Surabaya melalui halal food dan halal living MOJOK.CO

Rasa Sanga (6): Melalui Halal Food dan Halal Living, Sunan Ampel Membentuk Karakter Generasi Islam Berkualitas

13 Maret 2026
Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.