Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
14 Januari 2026
A A
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

ilustrasi - Gunawan, pedagang putu di Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kue Putu. Jajanan tradisional asal Tiongkok ini tak lekang oleh waktu. Konon, namanya diambil dari teks sastra lama Serat Centhini yang ditulis tahun 1814 pada masa kerajaan Mataram. Kini, ia masih populer di Jogja, terutama untuk kudapan pendamping tiap waktu. 

***

Gunawan (73) segera menghentikan sepeda motornya di tengah hujan saat salah satu kru Mojok keluar memanggil nama barang dagangannya itu dari balik pintu.

“Putu Pak!” Teriaknya yakin usai mendengar bunyi ‘tuuut’ nyaring dari celah kecil tabung bambu yang menghasilkan uap panas.

Melihat pelanggannya sudah siaga di depan pagar, Gunawan langsung memarkirkan motornya tanpa melepas jas hujan berwarna hijau yang ia kenakan. Selanjutnya, ia mulai menyiapkan bahan-bahan seperti adonan tepung beras, gula merah, dan kelapa parut.

“40 ya, Pak.” kata kru Mojok.

“Siap, Mas,” ujar Gunawan sembari menyiapkan 5 cetakan batang bambu berukuran sekitar 5 sentimeter untuk dikukus, di mana satu putunya dipatok harga Rp1000.

Di hari itu, Gunawan bak penyelamat bagi kru Mojok yang tak bisa pulang tenggo alias pulang tepat waktu karena terjebak hujan. Sementara, perut kami sudah mulai keroncongan menunggu rintik yang tak kunjung reda.

Sembari mengukus 40 putu dan 15 putu lainnya–pesanan dari pengendara mobil yang tiba-tiba berhenti dan ikut beli, Gunawan bercerita soal sepak terjangnya menjual putu selama 51 tahun.

Keliling ke kota-kota besar untuk jualan kue putu

Gunawan berasal dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Saat usianya 22 tahun, Gunawan sudah memilih berdagang putu karena cara memasaknya yang sederhana, serta bahannya yang mudah dijumpai.

Setelah beberapa bulan berjualan di Wonogiri, Gunawan mulai berani melakukan ekspansi ke Jogja, Semarang, hingga Surabaya untuk menambah pangsa pasar. Dulu, tutur Gunawan, jualannya belum menggunakan sepeda motor seperti sekarang melainkan berjalan sambil membawa “dapur mini”.

Di Semarang misalnya, Gunawan sering mangkal di daerah Tlogosari. Kadang-kadang ia harus berjalan jauh dan masuk ke permukiman untuk menjemput pelanggan. Di Kota Lumpia itu lah Gunawan bertemu dengan pujaan hatinya, hingga akhirnya menikah dan memiliki 4 orang anak.

Gunawan penjual putu. MOJOK.CO
Gunawan, penjual putu yang bekerja sudah sekitar 51 tahun. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Merasa puas jualan di Kota Semarang, Gunawan akhirnya meneruskan perjalanan sampai ke Surabaya. Tepatnya di daerah Kapasari, Kecamatan Genteng hingga Stadion Gelora 10 November, Kecamatan Tambaksari. 

Ia berujar, dari beberapa kota yang pernah ia jajaki, Surabaya adalah kota terbaik. Saking betahnya, Gunawan sampai berjualan selama 6 tahun di sana.

Iklan

“Soalnya Surabaya itu nggak pernah sepi, ramai terus meskipun sudah malam. Sampai ada istilah ‘wong-wonge nggak tau turu’,” kata Gunawan.

Namun, karena usianya sudah senja, Gunawan memilih kembali jualan di Jogja agar lebih dekat saat pulang ke Wonogiri untuk mengunjungi anak-anaknya saban hari libur. Di Giwangan, Kota Jogja ia sudah siap berjualan dari pukul 15.00 WIB menuju daerah Kaliurang, Kabupaten Sleman sampai pukul 21.00 WIB menggunakan sepeda motor.

Meski usianya sudah lebih dari 70 tahun, tapi fisik Gunawan masih tampak bugar. Ia pun terkekeh saat saya memuji kesehatannya, sekaligus bersyukur karena masih bisa berjualan putu sampai sekarang. 

“Demi anak-anak, saya harus kuat karena yang terakhir ini baru masuk kelas 1 SMA,” ujar Gunawan. 

Jajanan tradisional yang masih digemari

Selain perubahan dari jalan kaki ke sepeda motor, usaha putu kini juga dituntut kreatif karena dipengaruhi oleh harga kebutuhan pokok yang makin mahal. Salah satunya tepung beras yang harganya cenderung naik seiring dengan kenaikan harga bahan baku beras.

“Makanya, sekarang jadi lebih mahal Rp1000 per cetakan putu. Kalau dulu masih Rp250,” kata Gunawan, “sekarang juga nggak pakai daun suji buat pewarna karena langka dan jadi mahal.”

Jajanan tradisional. MOJOK.CO
Jajanan tradisional putu. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Meski begitu, Gunawan percaya jika kue putu adalah jajanan tradisional yang tak lekang oleh waktu karena mudah disukai rasanya, baik dari usia anak-anak hingga tua. Buktinya, persediaan 3 kilogram tepung beras yang ia bawa dari zaman ke zaman selalu habis per harinya.

“Saya nggak pernah hitung habis berapa, tapi kebanyakan satu pelanggan itu bisa beli puluhan. Ada yang 30 sampai 50. Terutama di hari Minggu, pelanggannya paling ramai,” kata Gunawan.

Lebih dari ‘Pencari Uang Tenaga Uap’

Nama putu tak sekadar dari akronim ‘Pencari Uang Tenaga Uap’, tapi memiliki filosofis yang mendalam. Melansir dari Good News from Indonesia, kue putu menggambarkan simbol kesabaran, kebersamaan, hingga kerja keras. 

Dari proses pembuatannya yang lama, kita belajar bahwa putu mencerminkan cara hidup yang tidak tergesa-gesa tapi penuh ketekunan dan kesabaran.

Lalu, bunyi khasnya yang nyaring terdengar seolah menjadi panggilan bagi masyarakat agar tak sekadar membeli, tapi juga berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati momen tersebut sambil makan jajanan manis seperti putu.

Lebih dari itu, nilai-nilai kehidupan pada pedagang kue putu seperti Gunawan juga mengajarkan kita tentang kerja keras seorang bapak mencari nafkah untuk menghidupi keluarga tercinta. 

Di tengah perkembangan kuliner saat ini, para pedagang juga masih bisa mempertahankan eksistensi kue putu dengan bahan yang mudah dijumpai, sekaligus menciptakan penghidupan yang cukup dari sesuatu yang tampaknya sederhana.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kebaikan Hati Pedagang Salak Kaliurang Jogja, Selamatkan Saya yang “Terjebak” Berjam-jam di Lereng Merapi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2026 oleh

Tags: jajanan tradisionalJogjakue putupedagang di Jogjapedagang putupencari uang tenaga uap
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Artikel Terkait

Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
flu.mojok.co
Aktual

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Kuliah Scam Itu Omongan Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

Kuliah Scam Itu Omongan Orang Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

8 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian .MOJOK.CO

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.