Kue Putu. Jajanan tradisional asal Tiongkok ini tak lekang oleh waktu. Konon, namanya diambil dari teks sastra lama Serat Centhini yang ditulis tahun 1814 pada masa kerajaan Mataram. Kini, ia masih populer di Jogja, terutama untuk kudapan pendamping tiap waktu.
***
Gunawan (73) segera menghentikan sepeda motornya di tengah hujan saat salah satu kru Mojok keluar memanggil nama barang dagangannya itu dari balik pintu.
“Putu Pak!” Teriaknya yakin usai mendengar bunyi ‘tuuut’ nyaring dari celah kecil tabung bambu yang menghasilkan uap panas.
Melihat pelanggannya sudah siaga di depan pagar, Gunawan langsung memarkirkan motornya tanpa melepas jas hujan berwarna hijau yang ia kenakan. Selanjutnya, ia mulai menyiapkan bahan-bahan seperti adonan tepung beras, gula merah, dan kelapa parut.
“40 ya, Pak.” kata kru Mojok.
“Siap, Mas,” ujar Gunawan sembari menyiapkan 5 cetakan batang bambu berukuran sekitar 5 sentimeter untuk dikukus, di mana satu putunya dipatok harga Rp1000.
Di hari itu, Gunawan bak penyelamat bagi kru Mojok yang tak bisa pulang tenggo alias pulang tepat waktu karena terjebak hujan. Sementara, perut kami sudah mulai keroncongan menunggu rintik yang tak kunjung reda.
Sembari mengukus 40 putu dan 15 putu lainnya–pesanan dari pengendara mobil yang tiba-tiba berhenti dan ikut beli, Gunawan bercerita soal sepak terjangnya menjual putu selama 51 tahun.
Keliling ke kota-kota besar untuk jualan kue putu
Gunawan berasal dari Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Saat usianya 22 tahun, Gunawan sudah memilih berdagang putu karena cara memasaknya yang sederhana, serta bahannya yang mudah dijumpai.
Setelah beberapa bulan berjualan di Wonogiri, Gunawan mulai berani melakukan ekspansi ke Jogja, Semarang, hingga Surabaya untuk menambah pangsa pasar. Dulu, tutur Gunawan, jualannya belum menggunakan sepeda motor seperti sekarang melainkan berjalan sambil membawa “dapur mini”.
Di Semarang misalnya, Gunawan sering mangkal di daerah Tlogosari. Kadang-kadang ia harus berjalan jauh dan masuk ke permukiman untuk menjemput pelanggan. Di Kota Lumpia itu lah Gunawan bertemu dengan pujaan hatinya, hingga akhirnya menikah dan memiliki 4 orang anak.

Merasa puas jualan di Kota Semarang, Gunawan akhirnya meneruskan perjalanan sampai ke Surabaya. Tepatnya di daerah Kapasari, Kecamatan Genteng hingga Stadion Gelora 10 November, Kecamatan Tambaksari.
Ia berujar, dari beberapa kota yang pernah ia jajaki, Surabaya adalah kota terbaik. Saking betahnya, Gunawan sampai berjualan selama 6 tahun di sana.
“Soalnya Surabaya itu nggak pernah sepi, ramai terus meskipun sudah malam. Sampai ada istilah ‘wong-wonge nggak tau turu’,” kata Gunawan.
Namun, karena usianya sudah senja, Gunawan memilih kembali jualan di Jogja agar lebih dekat saat pulang ke Wonogiri untuk mengunjungi anak-anaknya saban hari libur. Di Giwangan, Kota Jogja ia sudah siap berjualan dari pukul 15.00 WIB menuju daerah Kaliurang, Kabupaten Sleman sampai pukul 21.00 WIB menggunakan sepeda motor.
Meski usianya sudah lebih dari 70 tahun, tapi fisik Gunawan masih tampak bugar. Ia pun terkekeh saat saya memuji kesehatannya, sekaligus bersyukur karena masih bisa berjualan putu sampai sekarang.
“Demi anak-anak, saya harus kuat karena yang terakhir ini baru masuk kelas 1 SMA,” ujar Gunawan.
Jajanan tradisional yang masih digemari
Selain perubahan dari jalan kaki ke sepeda motor, usaha putu kini juga dituntut kreatif karena dipengaruhi oleh harga kebutuhan pokok yang makin mahal. Salah satunya tepung beras yang harganya cenderung naik seiring dengan kenaikan harga bahan baku beras.
“Makanya, sekarang jadi lebih mahal Rp1000 per cetakan putu. Kalau dulu masih Rp250,” kata Gunawan, “sekarang juga nggak pakai daun suji buat pewarna karena langka dan jadi mahal.”

Meski begitu, Gunawan percaya jika kue putu adalah jajanan tradisional yang tak lekang oleh waktu karena mudah disukai rasanya, baik dari usia anak-anak hingga tua. Buktinya, persediaan 3 kilogram tepung beras yang ia bawa dari zaman ke zaman selalu habis per harinya.
“Saya nggak pernah hitung habis berapa, tapi kebanyakan satu pelanggan itu bisa beli puluhan. Ada yang 30 sampai 50. Terutama di hari Minggu, pelanggannya paling ramai,” kata Gunawan.
Lebih dari ‘Pencari Uang Tenaga Uap’
Nama putu tak sekadar dari akronim ‘Pencari Uang Tenaga Uap’, tapi memiliki filosofis yang mendalam. Melansir dari Good News from Indonesia, kue putu menggambarkan simbol kesabaran, kebersamaan, hingga kerja keras.
Dari proses pembuatannya yang lama, kita belajar bahwa putu mencerminkan cara hidup yang tidak tergesa-gesa tapi penuh ketekunan dan kesabaran.
Lalu, bunyi khasnya yang nyaring terdengar seolah menjadi panggilan bagi masyarakat agar tak sekadar membeli, tapi juga berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati momen tersebut sambil makan jajanan manis seperti putu.
Lebih dari itu, nilai-nilai kehidupan pada pedagang kue putu seperti Gunawan juga mengajarkan kita tentang kerja keras seorang bapak mencari nafkah untuk menghidupi keluarga tercinta.
Di tengah perkembangan kuliner saat ini, para pedagang juga masih bisa mempertahankan eksistensi kue putu dengan bahan yang mudah dijumpai, sekaligus menciptakan penghidupan yang cukup dari sesuatu yang tampaknya sederhana.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kebaikan Hati Pedagang Salak Kaliurang Jogja, Selamatkan Saya yang “Terjebak” Berjam-jam di Lereng Merapi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













