Lulusan SMA tersebut mengaku cara di atas ia pelajari sambil jalan atau trial and error, selain menonton tutorial di Youtube. Sebab, ia pernah rugi selama dua minggu berturut-turut karena puluhan kilo taoge yang ia buat sempat busuk.
Sontak, kejadian itu membuat Azizah sedih hingga nyaris tak ingin melanjutkan usahanya. Namun, berkat proses belajarnya, ia kini mampu menghasilkan taoge sebanyak 27 kilogram per hari dengan keuntungan puluhan juta.
Kuntungan bisa dua kali lipat dari modal
Tak hanya masalah mengolah taoge, Azizah mengaku kebingungan untuk memperjualbelikan taoge tersebut di Tuban. Ia tak tahu bagaimana cara mencari pasarnya, serta bagaimana mengemasnya, hingga menjualnya dengan harga berapa?.
“Awalnya aku nggak memikirkan hal itu sama sekali, sehingga waktu produknya sudah jadi aku bingung mau diapakan,” kata Azizah.
Beruntung, perempuan lulusan SMA itu tak malu bertanya langsung ke bulek-nya yang punya pengalaman dagang di pasar tradisional. Berkat saran dari bulek-nya, Azizah akhirnya tahu cara berdagang.
“Aku mulai kemasi taoge ke plastik yang ukurannya 13×29. Satu plastik isinya 250 gram terus aku iket jadi tiga plastik. Satu iket tadi aku jual dengan harga Rp2 ribu ke pedagang sayur keliling. Nanti mereka jual satu plastiknya Rp1 ribu,” tutur Azizah.
Tak hanya menjual taoge ke pedagang sayur keliling, Azizah juga membuka lapaknya di pasar tradisional dekat rumahnya di Tuban. Setiap pukul 02.00 WIB ia sudah harus bangun dan mempersiapkan diri berangkat ke pasar.
Meski lelah, tapi ia lakoni pekerjaan itu dengan gembira. Dari penjualan taogenya itu, Azizah mampu meraup untung sekitar Rp5 juta dalam sebulan. Bahkan dari gajinya itu, ia mampu membeli sepeda motor pribadi.
“Sejujurnya pekerjaan ini nggak pernah ada dalam list cita-citaku, tapi justru pekerjaan ini lah yang berhasil membawaku sejauh ini. Menjadikanku pribadi yang kuat, sabar, dan selalu bersyukur pada apa yang Allah kasih,” ucap lulusan SMA tersebut.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Rintihan Pedagang Cendol di Jakarta, Kerja Mati-matian Hanya Dapat Upah Kecil demi “Menggaji” DPR agar Hidup Sejahtera atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













