Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ibu-Ibu Rembang “Dipaksa” Kerja Pabrik karena Para Suami Tak Bisa Lagi Jadi TKI di Malaysia, Kaget Ternyata Kerja Secapek Itu, Baru 3 Hari Langsung Berhenti

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 April 2024
A A
Ibu-Ibu di Rembang Dipaksa Kerja karena Suami yang TKI Sudah Tak Berdaya MOJOK.CO

Ilustrasi - Ibu-ibu di Rembang bekerja di pabrik pengolahan Seafood. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ibu-ibu di Rembang, Jawa Tengah kini mau tak mau harus ikut bekerja. Sebab, jika hanya menjadi ibu rumah tangga, pasti akan keteteran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kondisi tersebut harus mereka jalani karena masa kejayaan para suami sebagai seorang TKI telah habis.

***

Hampir setiap tamu yang berkunjung ke rumah Malikah (43) di momen Lebaran 1445 H/2024  M kemarin pasti menanyakan hal yang sama: ada kerjaan atau tidak. Rata-rata adalah dari kalangan ibu-ibu usia 40-an tahun yang memang satu desa dengan Malikah sendiri.

Di desanya, Manggar, Sluke, Rembang, Malikah bisa dibilang menjadi salah satu ibu-ibu yang cukup berpengalaman di pekerjaan yang ia jalani. Yakni sebagai buruh di sebuah pabrik pengolahan sea food di pusat kota Rembang.

“Saya mulai kerja tahun 2018 di TPI Tasik Agung. Karena lagi butuh kerja, saya coba-coba. Tapi kemudian berlanjut sampai sekarang,” ujar Malikah saat berbincang dengan saya, Minggu, (14/4/2024).

Sejak 2018 sampai sekarang, Malikah sudah terhitung lima kali pindah pabrik. Dari buruh biasa, Malikah kemudian menjadi mandor seperti sekarang ini. Itulah kenapa banyak ibu-ibu di desanya di Rembang yang meminta info-info pekerjaan pada Malikah.

Masa kejayaan suami sebagai TKI sudah habis

Saya tidak menemukan data tertulis mengenai persentase TKI di Desa Manggar, Rembang. Namun, sudah menjadi pengetahuan umum di Rembang bahwa Desa Manggar adalah salah satu desa pemasok TKI terbanyak di Rembang. Di mana mayoritas menjadi TKI di Malaysia.

Di Desa Manggar, Rembang, menjadi TKI memang meningkatkan status sosial seseorang di mata masyarakat setempat. Pasalnya, menjadi TKI dengan pekerjaan sebagai kuli di Malaysia bisa mendapat gaji setara dengan gaji pokok PNS di Indonesia. Gaji yang tentu sulit didapat jika menjadi kuli bangunan di negeri sendiri.

Atas perolehan gaji yang besar tersebut, para TKI itu tampak hidup sangat berkecukupan. Oleh karena itu, mayoritas para suami “memanjakan” istri masing-masing. Istri hanya diam diri di rumah, tinggal menerima kiriman uang setiap bulan.

“Tapi ya para suami yang jadi TKI itu tentu jarang pulang. Ada yang bisa pulang setahun sekali setiap Lebaran. Tapi ada juga yang dua sampai tiga tahun baru pulang,” jelas Malikah

Sayangnya, masa-masa jaya tersebut seiring waktu mulai habis. Para suami di Desa Manggar dalam kurun lima tahun terakhir sejak pandemi Covid-19 sudah jarang ada yang bisa balik lagi menjadi TKI di Malaysia.

“Dengar-dengar untuk mengurus permit semakin susah. Terutama buat yang usianya sudah 50-an ke atas. Biayanya juga makin tinggi. Jadi nggak bisa balik lagi,” jelas Malikah.

Kalau toh ada yang tetap bisa balik ke Malaysia, kebanyakan menempuh jalur ilegal. Dan itu sangat berisiko. Sementara para suami yang tidak bisa balik akhirnya bekerja serabutan. Senemu-nemunya proyek di Indonesia. Paling sering di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga Batam.

“Meskipun upah murah ya tetap diambil. Karena mau dapat duit dari mana lagi,” kata Malikah yang suaminya sendiri merupakan seorang TKI asal Rembang.

Iklan

Ibu-Ibu di Rembang “dipaksa kerja” untuk penuhi kebutuhan sehari-hari

Karena pemasukan suami semakin berkurang, lebih-lebih karena kerjaan yang tidak tentu (kadang dapat proyek kadang juga tidak), maka banyak sepasang suami istri di Desa Manggar yang mulai keteteran memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi jika memiliki anak yang masih sekolah.

Awalnya, kata Malikah, hutang dan menjual-jual beberapa aset yang dimiliki menjadi solusi. Tapi banyak ibu yang menyadari kalau mereka tidak bisa terus-menerus seperi itu. Alhasil, banyak ibu-ibu di Desa Manggar, Rembang yang menjadi buruh di pabrik pengolahan sea food di Rembang.

“Dulu bisa dihitung jari, tapi sekarang banyak sekali ibu-ibu di sini (Desa Manggar) yang ikut jadi buruh,” jelas ibu dua anak itu.

Makin banyak pula ibu-ibu yang kalau ketemu Malikah bertanya perihal lowongan. Malikah, karena merasa berempati, biasanya berupaya mencarikan ibu-ibu itu pekerjaan menjadi buruh harian (bukan buruh tetap). Syukur-syukur jika memang pabrik sedang butuh buruh tetap.

“Buruh harian itu ya kalau pengolahan sedang membludak baru dipanggil. Tapi kan nggak setiap hari. Pokoknya dalam sehari kerja itu dapat upah Rp50 ribu sampai Rp80 ribu,” beber Malikah.

Meski begitu, ibu-ibu di Desa Manggar, Rembang sudah merasa sangat senang dan terbantu. Setidaknya ada jaga-jaga buat beli minyak goreng atau uang saku anak.

Ibu-Ibu di Rembang rasakan kerasnya dunia kerja

Terbiasa tak bekerja berat lalu tiba-tiba harus ikut banting tulang tentu tak mudah bagi para ibu-ibu di Desa Manggar, Rembang. Seperti misalnya pengakuan dari Las (40), tetangga dari Malikah.

Ia coba-coba ikut Malikah bekerja di pabrik pengolahan sea food sebelum Ramadhan 1445 H/2024 M. Sudah jauh-jauh hari ia memang minta tolong ke Malikah kalau ada info tambahan tenaga ia mohon untuk diajak. Sampai akhirnya Malikah mengajaknya. Namun, baru tiga hari ikut kerja, Las merasa tak sanggup.

“Perjalanan Sluke ke Rembang kan jauh, berangkatnya harus pagi-pagi sekali. Tapi paginya kan juga harus mengurus rumah dulu. Terus pulangnya sampai rumah antara Magrib atau Isya. Sampai di rumah nggak langsung istirahat, masih ngurus rumah dulu. Itu kerasa capek sekali,” tutur Las.

“Belum lagi kerjanya berdiri seharian. Rasanya remuk,” sambungnya.

Ibu-Ibu di Rembang Dipaksa Kerja karena Suami yang TKI Sudah Tak Berdaya MOJOK.CO
Suasana di salah satu pabrik pengolahan seafood di Rembang tempat Malikah bekerja. (Aly Reza/Mojok.co)

Akan tetapi, Las menyadari kalau ia pun harus terlibat dalam urusan mencari nafkah. Karena suaminya yang kini bekerja serabutan pun sangat keteteran untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

“Kalau nggak ada pilihan lain, mungkin ikut Malikah lagi,” kata Las.

Las jelas bukan satu-satunya. Ada banyak ibu-ibu di Desa Manggar, Rembang yang merasa bahwa kerja seharian ternyata begitu melelahkan. Tapi mereka tidak punya pilihan lain. Mereka harus ikut bekerja.

“Memang sekarang yang ibu-ibu incar kerja di pabrik kayak Malikah. Karena upahnya lumayan. Walaupun memang rekasa,” ucap ibu yang satu anaknya baru saja masuk SMK itu.

Di samping itu, kata Las, tidak sedikit ibu-ibu lain yang mencoba bekerja di bidang lain karena tahu beratnya bekerja di pabrik. Misalnya ada yang jadi tukang bersih-bersih di sebuah penginapan. Ada yang jadi pelayan di sebuah warung bakso di kecamatan. Ada pula yang mencoba peruntungan menjual jajanan anak-anak di sekolah. Hanya saja hasilnya memang masih jauh dari cukup.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bagi Orang Rembang Jadi TKI di Malaysia Lebih Terhormat ketimbang Sarjana, Gara-Gara Sarjana Banyak yang Nganggur dan Jadi Beban Orang Tua Padahal Kuliah sampai Jual Sawah

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 24 April 2024 oleh

Tags: jawa tengahloker rembanglowongan kerja rembangpabrik di jawa tengahpabrik di rembangpabrik pengolahan ikanpabrik pengolahan sea foodpilihan redaksirembangTKItki di rembangtki malaysia
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Bapak Rela Jual Tanah demi Membeli Innova Reborn Setelah Tahu Bahwa Reborn Bukan Sekadar Mobil Terbaik 2025, tapi Investasi yang Nggak Bisa Rugi

25 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang Doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek Mojok.co

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek

28 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.