Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Berguru pada Gowok: Ajari Laki-laki Puaskan Istri di Ranjang, Karena Orgasme adalah Hak Perempuan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 Juni 2025
A A
Film Gowok: Kamasutra Jawa garapan Hanung Bramantyo tegaskan bahwa orgasme adalah hak perempuan MOJOK.CO

Ilustrasi - Film Gowok: Kamasutra Jawa garapan Hanung Bramantyo tegaskan bahwa orgasme adalah hak perempuan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di tengah-tengah Desa Bumirejo, Kebumen, berlatar tahun 1950-an, 1965, hingga 1980-an, berdiri sebuah padepokan bernama Padepokan Gowokan. Di sanalah seorang perempuan akan mengajari laki-laki dari kalangan bangsawan untuk menjadi lelananging jagat (lelaki sejati) melalui ritual Gowok. Begitulah premis utama film Gowok: Kamasutra Jawa, film terbaru Hanung Bramantyo.

Dalam beberapa catatan, Gowok adalah praktik di mana laki-laki diajari banyak hal terkait kehidupan berumah tangga. Salah satu yang paling vital adalah: mengajari kehidupan ranjang agar laki-laki bisa memuaskan istrinya.

Perjalanan mencari Gowok

Kepingan sejarah mengenai keberadaan Gowok yang pernah eksis langsung membuat Hanung Bramantyo tertarik untuk menelusurinya.

Pertama, tentu karena Gowok menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa tempo dulu yang kini nyaris terlupakan. Hanung merasa perlu mengangkatnya sebagai pengingat bahwa tradisi seperti itu pernah ada sebelum akhrinya dinilai tabu.

“Kita mengenal Kamasutra Hindu. Isinya bagaimana istri memuaskan suami. Nah kalau Gowok ini sebaliknya, suamilah yang harus memuaskan istri. Saya menyebutnya Kamasutra Jawa. Kekhasannya itu yang membuat saya tertarik,” ungkap Hanung Bramantyo dalam special screening film Gowok: Kamasutra Jawa di Empire XXI Jogja, Minggu (1/6/2025) malam WIB.

Special screening film Gowok bersama Hanung Bramantyo dan pemeran di Jogja MOJOK.CO
Special screening film Gowok bersama Hanung Bramantyo dan pemeran di Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

Hanung lantas mencoba menelusuri sumber-sumber primer perihal Gowok. Sayangnya, dia tak kunjung menemukan sumber yang memberi gambaran mendalam perihal praktik tersebut.

Akhirnya Hanung bertemu dengan novel Nyai Gowok karya Budi Sardjono yang, sekalipun fiksi, tapi berangkat dari riset yang dilakukan oleh Budi. Novel itulah yang kemudian Hanung jadikan sebagai gambaran untuk menggarap film terbarunya.

“Fungsi film ini untuk memberi wacana yang masih belum primer, masih sekunder, supaya memantik siapapun untuk membicarakan ini agar nanti beranjak ke penelitian mendalam,” sambung Hanung.

Lubang untuk banyak burung

Praktik Gowok konon dikenalkan oleh seorang perempuan Tionghoa bernama Goo Wok Niang. Dia berlabuh di Jawa bersama dengan rombongan Laksamana Cheng Ho.

Di negeri asalnya, Goo Wok Niang memang sudah melakukan praktik Gowokan: mengajari kehidupan rumah tangga untuk anak-anak bangsawan. Termasuk pelajaran seksual.

Sementara Budi Sardjono selaku penulis novel Nyai Gowok menyebut, “gowok” juga berasal dari bahasa Jawa yang berarti lubang atau celah. Lebih spesifik lagi: lubang atau celah di pohon yang biasanya digunakan burung untuk membuat sarang.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Lola Amaria (@lola.amaria)

Iklan

Dalam tradisi Gowokan, ini adalah simbol: pohon adalah padepokan Gowokan, sementara burung adalah laki-laki yang datang untuk belajar.

“Gowok mengajari wanita, jika postur tubuh laki-laki seperti ini harus gimana cara melayaninya. Mendewasakan laki-laki biar jadi lelananging jagat,” beber Budi yang juga hadir dalam special screening.

“Tantangan Gowok itu melawan pantangan. Pertama, tidak boleh jatuh cinta pada laki-laki yang dididik.Kedua tidak boleh hamil. Kalau hamil reputasinya sebagao Gowok gagal. Mangkanya dulu sebelum ada KB, ada pijet walik. Rahimnya dibalik biar nggak hamil,” sambungnya.

Gowok: orgasme adalah hak perempuan

Bagi Hanung Bramantyo, Gowok tidak sekadar cerita sejarah. Lewat film ini dia juga ingin menyampaikan bahwa perempuan juga berhak mendapat kepuasan melalui hubungan seksual (suami istri).

“Orgasme adalah hak perempuan. Jangan pernah mau perempuan diminta untuk memuaskan laki-laki terus menerus. Kenapa selama ini perempuan nggak pernah mikir orgasme? Karena mikir pokoknya yang penting suami puas. Itu karena kultur kita. Akhirnya ketika perempuan bicara soal orgasme, dianggap tabu,” beber Hanung.

Hanung Bramantyo mendasari argumennya pada ayat yang termaktub dalam Q.S. al-Baqarah ayat 187: Hunna libāsul lakum wa antum libāsul lahunn (Mereka istri-istri adalah pakaian bagimu (suami), dan kamu sekalian (suami) adalah pakaian bagi mereka (istri).

“Perempuan dan laki-laki itu ibarat pakaian, saling melengkapi, saling memberi kenyamanan. Tapi kenapa yang diajarkan perempuan yang harus memuaskan laki-laki? Padahal ayat itu berisi “saling”,” papar Hanung.

Ada juga Q.S. al-Nisa ayat 34: Arrijalu qowwamuna ala al-nisa. Selama ini, ayat itu diartikan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Tapi dari yang Hanung Bramantyo pelajari, “qowwamuna” artinya: bertanggung jawab.

Dalam konteks rumah tangga, tanggung jawab laki-laki (suami) juga menyangkut tanggung jawab memberi hak kepuasan bagi perempuan (istri). Tidak melulu sebaliknya.

Keliaran dan keberanian yang disensor

Hanung Bramantyo memiliki ide-ide liar dalam penggarapan film Gowok: Kamasutra Jawa. Maklum saja, selain karena membahas isu tabu, motifnya menggarap film ini juga karena ingin memperbanyak film dengan wacana ‘65-an, tahun-tahun penuh tragedi dalam sejarah bangsa Indonesia.

“Indonesia banyak sekali cerita yang bersifat tragedi dalam kehidupan berbangsa dari zaman raja-raja. hingga sekarang ini. Nah, tragedi 65 nggak banyak yang berani mengeksplorasi. Jadi saya memberanikan diri untuk itu,” ungkapnya. Apalagi situasi 65 sangat emosional bagi Hanung.

“Saya lahir 1 Oktober. Di hari itu mesti bendera setengah tiang (simbol berkabung). Saya dulu tanya ke ibu: Kok tiap saya ulang tahun semua orang malah berkabung. Ibu menjelaskan soal Komunis. Ditambah lagi, setiap tanggal itu ada pemutaran film G30S,” sambungnya.

Terlalu banyak fakta yang disembunyikan dari tragedi ’65. Melalui film terbarunya ini, Hanung mencoba memberi wacana baru perihal setiuasi mencekam di tahun-tahun tersebut.

Meski penuh keberanian, tapi Hanung mengakui kalau ada bagian-bagian dari ide liarnya yang harus disensor. Oleh karena itu, dia membagi film Gowok: Kamasutra Jawa ke dalam dua versi: 17+ dan 21+. Film ini dijadwalkan tayang serentak di layar lebar pada 5 Juni 2025.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Film dan Series Indonesia Isinya Selalu Adegan Panas nan Erotis, Tapi Itu Bukan Berarti Mesum atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Juni 2025 oleh

Tags: film gowokfilm hanung bramantyofilm terbarugowokHanung Bramantyokamasutra jawapilihan redaksireview film gowok
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co
Urban

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik

9 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.