Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Menumbuhkan Harapan di Rumah Kecil Bernama Dzikrul Hikmah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 November 2025
A A
lksa dzikrul hikmah.MOJOK.CO

Ilustrasi - Menumbuhkan Harapan di Rumah Kecil Bernama Dzikrul Hikmah (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sore itu, Senin (27/10/2025), langit Kudus mulai berubah jingga. Dari halaman asrama Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Dzikrul Hikmah, terdengar suara anak-anak yang baru selesai mengaji. Sebagian masih berada di dalam musala, menunggu waktu maghrib tiba, sementara sebagian lain berlarian ke kamar mandi membawa ember dan handuk. 

Di pojok halaman, Irsyad Fadil Nur Ramadan (17) duduk di lantai sambil menatap langit yang perlahan memudar. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma tanah basah seusai hujan mengguyur.

“Dulu, jam segini biasanya saya bantu ibu di rumah,” ujar remaja asal Kecamatan Jati ini, lirih. “Kadang rindu rumah, tapi kalau tidak ke sini, mungkin saya sudah berhenti sekolah.”

Irsyad sudah tinggal di LKSA Dzikrul Hikmah sejak duduk di bangku sekolah dasar. Keterbatasan ekonomi membuat keluarganya tak sanggup lagi membiayai pendidikan. Ia masih ingat hari pertama datang ke asrama itu. Ada rasa canggung, sedih, dan bingung bercampur jadi satu. Namun seiring waktu, rasa asing itu pelan-pelan berubah menjadi kenyamanan. 

“Di sini, orang-orangnya baik. Saya belajar banyak hal, bukan cuma pelajaran sekolah, tapi juga cara hidup.”

Kini, Irsyad menempuh pendidikan di SMK Wisudha Karya Kudus jurusan Teknika Kapal Niaga. Ia berhasil memperoleh beasiswa pendidikan dari Bakti Sosial Djarum Foundation (BSDF). 

lksa dzikrul hikmah.MOJOK.CO
Potret Irsyad, salah satu anak asuh di LKSA Dzikrul Hikmah. Ia sudah “nyantri” di sini sejak masih SD. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Tak jauh dari tempat Irsyad duduk, tampak Aglis Fitri Wijayanti (17). Berbeda dengan Irsyad, ia baru setahun tinggal di Dzikrul Hikmah. 

“Awalnya ragu, apakah memang harus mondok. Tapi setelah lulus SMP, orang tua bilang belum sanggup biayai sekolah. Akhirnya saya ke sini,” kisahnya. 

“Soalnya saya kira mondok itu terkurung, ternyata di sini malah bisa belajar banyak hal—terutama mandiri.”

Sama seperti Irsyad, Aglis pun juga berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan dari Bakti Sosial Djarum Foundation. Kini, ia menempuh pendidikan di sekolah yang sama dengan Irsyad, hanya beda jurusan, yakni Nautika Kapal Niaga. 

Di LKSA itu, keduanya tumbuh dalam suasana yang membuat mereka percaya bahwa masa depan bukan soal dari mana seseorang berasal, tapi tentang siapa yang mau mendampingi mereka tumbuh.

Awal dari rumah dhuafa

Kisah LKSA Dzikrul Hikmah bermula dari keprihatinan keluarga Ilham Wahyu, sang pengasuh. Ia masih ingat bagaimana dulu, di sekitar rumahnya, banyak anak yatim kesulitan bersekolah karena keterbatasan ekonomi. 

“Waktu itu, keluarga kami cuma ingin bantu,” ujarnya.

Dari niat sederhana itu, berdirilah sebuah panti asuhan, tempat anak-anak yang kurang beruntung bisa bernaung. Seiring waktu, anak-anak yang datang makin banyak. Kebutuhan mereka pun tak lagi sebatas makan dan tempat tidur. 

Iklan

“Kami sadar, anak-anak ini perlu pendidikan, bimbingan, juga kasih sayang yang stabil,” kata Ilham. 

lksa dzikrul hikmah.MOJOK.CO
Kegiatan rutin tiap ba’da Maghrib di LKSA Dzikrul Hikmah, mengaji bersama. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Maka, pada 2013, rumah dhuafa yang awalnya bernama panti asuhan itu resmi menjadi Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Dzikrul Hikmah. Anak-anak yang diasuh pun tak cuma dari kategori yatim, tapi anak-anak kurang beruntung lain sesuai kategorisasi kementerian sosial. Kini, sekitar tiga puluh anak tinggal di sana. Laki-laki dan perempuan, usia SD hingga SMA.

Dari “panti asuhan” ke “LKSA”

Perubahan nama dari panti asuhan menjadi LKSA bukan sekadar administratif. Bagi Ilham, istilah “panti asuhan” membawa beban psikologis yang tidak kecil bagi anak-anak. 

“Kalau dengar kata panti, anak-anak sering minder. Tapi kalau dibilang LKSA, mereka merasa bagian dari lembaga yang setara dengan sekolah atau pesantren. Lebih percaya diri,” ujarnya.

Pola asuh di Dzikrul Hikmah juga menyesuaikan. Mereka menerapkan kurikulum semi-pesantren. Anak-anak punya jadwal ibadah dan pengajian yang teratur, tapi mereka juga bebas memilih sekolah dan bidang yang diminati. 

“Yang penting, mereka disiplin, sopan, dan tahu tanggung jawab.”

lksa dzikrul hikmah.MOJOK.CO
Dari kanan: Aglis, Ilham, Irsyad. Perubahan nama dari panti asuhan menjadi LKSA mengatasi beban psikologis yang selama ini dirasakan para anak asuh. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Anak-anak belajar bukan hanya dari pelajaran sekolah, tapi juga dari rutinitas harian: mencuci pakaian, menyapu kamar, menyiapkan sarapan, hingga membantu memasak. Semua dilakukan bergantian. 

“Mereka tidak hanya kami rawat, tapi kami didik supaya mandiri,” kata Ilham. “Kemandirian itu yang nanti jadi bekal utama mereka.”

Pendekatan baru dalam pengasuhan

Founder dan CEO LED Consultant, Ryan Singgih, adalah salah satu pendamping yang ditunjuk oleh Bakti Sosial Djarum Foundation untuk mendampingi lembaga-lembaga kesejahteraan sosial anak di Kudus, termasuk LKSA Dzikrul Hikmah. Ia sepakat dengan Ilham bahwa perubahan paradigma dari panti asuhan menuju LKSA sebagai langkah besar dalam cara orang melihat anak-anak yang diasuh.

“Dulu, panti asuhan dipandang sebagai tempat menampung anak-anak yatim atau miskin,” ujarnya. “Sekarang pendekatannya berbeda: LKSA bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang tumbuh yang meniru struktur keluarga.”

Ryan menekankan pentingnya menganggap anak-anak LKSA sebagai bagian dari keluarga “normal.” Menurutnya, jika mereka diperlakukan seperti anak-anak pada umumnya, tanpa stereotipe buruk yang melekat, maka mereka tidak akan merasa berbeda.

“Perasaan ‘normal’ itu penting untuk membangun kepercayaan diri.”

Selain pengasuhan yang hangat, bagi Ryan, LKSA di bawah binaan Bakti Sosial Djarum Foundation juga memberi pelatihan soft skills, seperti public speaking, perencanaan masa depan, toleransi, nasionalisme, hingga keterampilan sosial. 

“Anak-anak tidak cukup hanya disekolahkan. Mereka harus punya kemampuan hidup, seperti cara berpikir, berkomunikasi, dan mengenal diri sendiri.”

Ia menambahkan, anak-anak LKSA umumnya memiliki kemandirian yang luar biasa. Mulai dari bangun pagi sendiri, mencuci baju sendiri, menyiapkan makan sendiri–hal-hal yang kadang sudah jarang dilakukan anak-anak sebayanya.

“Dari kebiasaan sederhana itu tumbuh rasa tanggung jawab dan harga diri.”

Rumah yang mengajarkan tumbuh bersama

Sore hari saat waktu salat maghrib tiba, suasana LKSA Dzikrul Hikmah berubah hening. Anak-anak khusyu’ menjalankan salat berjamaah. Setelahnya, mereka–termasuk Irsyad dan Aglis–sudah harus siap mengikuti rangkaian acara wajib di malam hari, seperti mengaji.

lksa dzikrul hikmah.MOJOK.CO
Suasana petang di LKSA Dzikrul Hikmah. Sebelum mengaji, beberapa anak asuh melakukan aktivitas masing-masing: membersihkan kamar, halaman, atau sekadar bermain bersama teman lain. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Di penghujung obrolan, Ilham menjelaskan, tempat itu bukan sekadar asrama, melainkan rumah yang mengajarkan arti tumbuh bersama. Mereka datang dengan berbagai latar belakang yang berbeda, tapi hidup berdampingan dengan tujuan yang sama. Ilham menatap anak-anak itu dengan mata hangat. 

“Kami tidak sedang menampung anak-anak. Kami hanya membantu mereka menemukan rumah baru tempat mereka tumbuh.”

Di antara tawa, jadwal belajar, dan doa yang mengalun setiap malam, anak-anak LKSA Dzikrul Hikmah tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan siap melangkah ke dunia luar. Mereka tidak hanya diasuh untuk hidup. Mereka dididik untuk menghadapi hidup, dengan kepala tegak dan hati yang lapang.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Darul Hadlonah Rembang: Beri Bekal Keterampilan ke Anak-anak Bermasalah Sosial untuk Arungi Kehidupan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 20 November 2025 oleh

Tags: dzikrul hikmahlembaga kesejahteraan sosial anaklksalksa dzikrul hikmahpanti asuhan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Cerita Pengasuh Anak Seribu Pulau dan Hal-hal Kecil yang Membuat Bahagia setelah Menangis MOJOK.CO
Ragam

Cerita Pengasuh Anak Seribu Pulau dan Hal-hal Kecil yang Membuat Bahagia setelah Menangis

26 November 2025
LKSA Marganingsih Lasem: rumah bagi anak-anak timur menyemai mimpi luhur MOJOK.CO
Ragam

Marganingsih Lasem: Rumah bagi Anak-anak Timur Menyemai Mimpi Luhur, Harmoni di Antara Kaum Santri, Tionghoa, dan Jawa

26 November 2025
lksa samsah.MOJOK.CO
Ragam

Ketika Anak Asuh dan Pengasuh Sama-Sama Belajar Memahami Manusia di LKSA Samsah Kudus

25 November 2025
Al Akrom: pondok pesantren sekaligus LKSA di tengah pedesaan Pati yang menempa anak-anak tak bertuntung jadi tahfiz Al Qur'an melek zaman MOJOK.CO
Ragam

Sebuah Tempat di Tengah Pedesaan Pati yang Menempa Anak-anak Jadi Penghafal Al-Qur’an nan Melek Zaman

24 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Hidup di Desa.MOJOK.CO

Jadi Anak Terakhir di Desa Itu Serba Salah: Dituntut Merawat Ortu, tapi Selalu Dinyinyiri Tetangga karena Tak Merantau

7 Januari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026
kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026
daftar isi dan daftar pustaka skripsi.MOJOK.CO

Daftar Isi dan Daftar Pustaka: “Sepele” tapi Bikin Saya Nyaris Tak Lulus Kuliah, Menyesal Tak Pernah Mempelajari Cara Membuatnya

5 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.