Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Dusun Mlangi Jogja, Meski Berjuluk Kampung Santri tapi Warganya Malah Lebih Pilih Mondok di Luar

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
14 Maret 2024
A A
Salat Tarawih Tengah Malam di Masjid Gedhe Kauman Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi Tarawih di Masjid Gedhe Kauman, Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski berjuluk Kampung Santri, ternyata banyak di antara anak-anak muda di Dusun Mlangi yang justru lebih memilih nyantri di pondok pesantren luar daerah.

Fakta tersebut saya dapat saat menghabiskan sore di Masjid Pathok Negara, Dusun Mlangi, Sleman, Jogja pada Senin, (11/3/2024) lalu. Ahmad Jamaluddin (34), warga setempat yang sore itu menemani saya membeberkan beberapa fakta seputar Dusun Mlangi kepada saya.

“Anak saya nanti rencananya juga saya pondokkan di Telagrejo,” ujar laki-laki yang akrab dengan panggilan Jamal itu.

Sejak lulus SMP pada 2006, Jamal memang sempat mendambakan bisa nyantri di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API), Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Akan tetapi, lantaran kendala biaya, laki-laki asal Purbalingga, Jawa Tengah itu akhirnya memilih nyantri di Pondok Pesantren Ar Risalah, Dusun Mlangi, Jogja.

Di Ponpes Ar Risalah, Mlangi, Jamal terbebas dari biaya apapun alias gratis tis tis.

“Cuma tugasku selama di pondok itu masakin santri, sekitar 40 sampai 50 orang. Makannya sehari dua kali,” jelas Jamal.

Pemuda Mlangi lebih pilih mondok di luar

Seturut keterangan Jamal, meskipun memiliki belasan pondok pesantren, tapi banyak anak-anak muda di Dusun Mlangi yang memilih mondok di luar Jogja.

“Jadi pondok Mlangi itu isinya banyak dari orang luar. Sementara orang Mlanginya sendiri malah mondoknya di luar,” jelas Jamal.

Seturut pengalaman Jamal, beberapa anak muda di Mlangi memilih mondok di luar Mlangi—bahkan luar Jogja—tidak lain dalam rangka mendalami kitab kuning. Misalnya saja yang paling banyak adalah ke Lirboyo, Jawa Timur. Atau kalau  jika mau agak dekat ya ke Ponpes API Tegalrejo, Magelang.

Jika sudah mendalami kitab kuning dari pondok-pondok besar di luar Jogja, maka saat pulang kampung siap berkontribusi untuk memerpkuat status Kampung Santri yang Dusun Mlangi sandang.

“Di Mlangi memang ada ngaji kitab kuning. Tapi tentu nggak sedalam dan sebanyak pondok-pondok seperti Lirboyo,” ujar Jamal.

Lebih-lebih, kata Jamal, saat ini pondok-pondok di Mlangi mulai memiliki sekolah-sekolah umum. Hal itu pula yang menurut penilaian Jamal membuat porsi ngaji kitab kuning di beberapa pondok di Mlangi agak berkurang.

“Kalau santri sekarang kebanyakan mau mondok ya karena ada sekolahnya. Yang nggak ada sekolahnya (di Mlangi) santrinya nggak banyak,” kata Jamal.

Karena harus menyesuaikan dengan kebutuhan santri-santri zaman sekarang, yang cenderung lebih berorientasi pada pendidikan formal, maka metode pembelajaran di beberapa pondok pesantren di Mlangi pun sedikit berubah.

Iklan

Jika dulu ada pendalaman pada ilmu alat seperti Nahwu dan Sharaf lengkap beserta hafalannya, kini para santri hanya ditekankan yang penting paham saat kiai atau ustaz menerangkan isi suatu kitab. Tak ada penekanan bahwa seorang santri harus bisa atau bahkan menguasai kitab gundul (kitab kuning tanpa harakat dan makna).

Dusun Mlangi tak akan berhenti jadi Kampung Santri

Sore itu, saya sempat mengikuti bocah-bocah Mlangi yang bermain petasan di pelataran Masjid Pathok Negara. Saya lantas menanyai satu di antara mereka, panggilannya Bombom (9), ia tak mau menyebut nama aslinya.

Bombom bercerita bahwa Ramadan adalah hari menyenangkan bagi bocah-bocah Mlangi. Sebab, pesta petasan tak akan dimarahi oleh orang-orang tua. Sebab, seperti yang saya tulis dalam reportase sebelumnya, menyalakan petasan di bulan Ramadan dan Lebaran sudah menjadi semacam tradisi yang melekat pada Dusun Mlangi.

“Aku nanti pengin mondok,” ujar Bombom kepada saya. “Tapi pengin mondok yang jauh.”

Menelusuri Selawat Kojan Dusun Mlangi, Jogja MOJOK.CO
Bocah-bocah yang bermain di pelataran Masjid Pathok Negara, Mlangi. (Aly Reza/Mojok.co)

Kakak Bombom juga saat ini tengah mondok di luar Jogja. Hanya saja Bombom tak terlalu tahu pondok pesantren mana yang jadi tempat kakaknya nyantri.

Yang jelas, dari cerita-cerita yang sang kakak tuturkan, mondok yang jauh dari rumah itu punya sensasi yang menyenangkan. Terutama saat Ramadan, karena nanti akan ada sensasi mudik-mudiknya. Itulah yang membuat Bombom tertarik untuk juga mondok di luar Jogja seperti sang kakak.

Cita-cita bocah-bocah itu untuk nyantri membuat Jamal optimis bahwa Dusun Mlangi masih akan jadi Kampung Santri di Jogja.

Baca halaman selanjutnya…

Tak harus nyantri untuk jadi santri

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2024 oleh

Tags: dusun mlangiJogjakampung santrikampung santri mlangimlangimlangi jogjapondok pesantren di jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

orang tua.MOJOK.CO

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Sejahtera ekonomi di Negeri Jiran ketimbang jadi WNI. Tapi berat terima tawaran lepas paspor Indonesia untuk jadi WN Malaysia MOJOK.CO

WNI Lebih Sejahtera Ekonomi dan Mental di Malaysia tapi Susah Lepas Paspor Indonesia, Sial!

21 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Beasiswa LPDP selamatkan hidup seorang difabel yang kuliah S2 di Amerika Serikat (AS). MOJOK.CO

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.