Tidak semua generasi sandwich (individu yang menanggung beban finansial dan emosional pribadi, orang tua, istri dan anaknya) adalah anak pertama. Beban itu juga diturunkan ke anak terakhir atau si bungsu yang selalu dianggap remeh. Padahal, tak semua anak bungsu alias anak bontot atau anak ragil hidupnya selalu dimanja.
***
Apakah kamu sudah menonton film Home Sweet Loan?. Film yang tayang pada September 2024 ini mampu memunculkan dua pendapat yang berlawanan. Mereka yang pro berujar, peran Kaluna sebagai anak bungsu berhasil menggambarkan realitas kehidupan saat ini.
Namun, ada pula yang kontra kalau peran anak bungsu dalam Home Sweet Loan tidak terlalu menggambarkan realitas kehidupan saat ini. Jurnal berjudul “Penerimaan Generasi Z terhadap Peran Anak Bungsu sebagai Generasi Sandwich pada Film Home Sweet Loan” berhasil membuktikan 4 dari 5 generasi Z mengaku pro. Artinya, sebagian orang mengaku relate dengan karakter Kaluna sebagai anak bungsu di film Home Sweet Loan.
Dalam film tersebut, Kaluna adalah anak bungsu dari tiga bersaudara yang bermimpi punya rumah sendiri. Namun, ia juga harus menanggung beban keluarganya (generasi sandwich). Tak hanya beban finansial, tapi juga merawat orang tuanya.
Kaluna di dunia nyata
Nyatanya, di luar sana, ada Kaluna-kaluna lain yang menanggung beban serupa. Rania* (32) misalnya. Sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara, Rania jadi harapan satu-satunya di keluarga yang harus memenuhi ekspektasi dari orang tuanya.
Saat kakak-kakaknya tidak kuliah, ia lah yang mampu meraih pendidikan tinggi hingga memperoleh sarjana. Usai menyelesaikan kuliah, Rania tak bisa bebas melamar kerja di luar kota.
Sebagai anak terakhir, Rania merasa perlu bertanggung jawab merawat ibunya yang tinggal sendirian di rumah. Sementara kakak-kakaknya bebas merantau.
“Kakak-kakakku seolah lepas tangan menafkahi keluarga kami usai ayah meninggal, alhasil aku yang menanggung kebutuhan hidup ibu. Bukannya aku nggak ikhlas, tapi aku berharap kakak-kakakku juga peduli bahkan saat ibu sakit mereka nggak pernah jenguk,” kata Rania.
Kini, ibu Rania sudah hampir berumur 80 tahun. Untuk jalan pun susah, sehingga ia harus membantu semua aktivitas ibunya termasuk saat ke kamar mandi. Guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Rania lebih banyak mengambil freelance job yang bisa dilakukan secara work from anywhere (WFA).
Anak bungsu: si paling kuat tahan banting
Bukan tidak mungkin memang, anak bungsu dituntut untuk mandiri sama seperti halnya kakak pertama atau anak sulung. Tanggungjawabnya pun bisa jadi lebih berat dari kakak-kakaknya. Seperti yang dirasakan Meila* (24).
“Dimata orang tuh anak bungsu selalu yang paling dimanja, padahal aku hidup di akhir hayat orang tuaku,” kata Meila, Jumat (9/1/2026).
Meila adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Jarak usia Meila dan kakaknya terbilang jauh yakni 10 tahun. Karena jarak usia tersebut, hubungan keduanya tak terlalu dekat. Ia juga tak punya teman bermain di rumah.
Linda Blair dalam bukunya Birth Order: What Your Position in the Family Really Tells You About Your Character berujar seorang anak yang berjarak lima tahun atau lebih dari saudaranya, sering kali justru terlihat seperti anak tunggal.
“Mereka menyaksikan ‘dunia dewasa’ saudara dan orang tua mereka dari kejauhan,” kata Linda Blair.
Alhasil, Meila lebih sering menghabiskan waktu untuk membantu ibunya yang baru pensiun pada Januari 2025 lalu. Sementara ayahnya meninggal sejak dirinya duduk di bangku kelas 3 SD. Kondisi itu membuat Meila jadi pribadi yang tumbuh penuh empati alih-alih manja.
“Dulu waktu kecil aku sering cerita ke ibu kalau ada masalah, tapi entah kenapa seiring bertambahnya usia aku menuntut diriku agar lebih mandiri sehingga tak jadi beban ibu,” kata Meila.
Diburu ekspektasi dengan tenggat waktu yang mepet
Nasib Meila memang berbeda dengan kisah anak bungsu biasanya. Psikolog Klinis Dewasa, Nirmala Ika menjelaskan dalam bukunya “Rumah Tempat Cinta Bertumbuh” bahwa anak bungsu umumnya tumbuh dengan perhatian dan arahan dari orang tua maupun kakak-kakaknya.
Sehingga, perilakunya sering dianggap wajar saat tak paham dengan konteks masalah atau ditolerir saat mereka melakukan kesalahan. Pada umumnya, kata Nirmala, anak bungsu tidak mendapatkan tuntutan yang berlebih.
“Oleh karena itu, mereka cenderung menjadi orang yang bergantung, kurang berambisi tapi berjiwa bebas dan kreatif,” jelas Nirmala.
Namun, apa yang Meila alami bukan berarti tak nyata. Nirmala menjelaskan ada beberapa faktor yang memengaruhi karakter khas seorang anak, yaitu perbedaan situasi dalam keluarga, harapan, dan kondisi anak itu sendiri.
Satu-satunya kondisi yang sama antara Meila dengan anak bungsu lainnya adalah jadi harapan terakhir dari orang tua mereka. Meila yang merasa belum mampu membahagiakan ibunya, terus berharap agar ibunya diberi umur yang panjang hingga bisa melihat kesuksesan dirinya.
Sebab semakin hari, Meila menyadari kalau usia ibunya semakin senja, tapi belum banyak yang ia bisa berikan. Misalnya saja, dapat kerja dan punya kehidupan yang mapan.
“Rasanya seperti berkejaran dengan waktu,” ucapnya dengan suara bergetar, “meski begitu, aku harus tetap kuat dan menerima segala apa pun kondisinya.”
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Wong Liyo Ngerti Opo: Adik Korbankan Mimpi Kuliah PTN, Biar Kakak Saja yang Jadi Sarjana sementara Adik Urus Orang Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














