Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Demak, Kota Wali yang Terancam Hilang karena Tenggelam, Tinggal Menghitung Mundur

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
21 Juli 2025
A A
Demak tenggelam.MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setiap pagi, saat roda-roda truknya membelah gelapnya ufuk timur, Paiman (49) menghela napas. Bukan karena lelah, melainkan karena pemandangan di depannya: jalanan Pantura Demak yang kian hari kian tergenang.

Air asin dari laut utara Jawa, yang dulu hanya datang saat pasang tertinggi, kini menjadi pemandangan harian. Ia merenggut perlahan demi perlahan daratan Demak.

“Dulu, genangan itu cuma pas air laut pasang besar saja, Mas. Sekarang, hampir tiap hari harus lewat air segini,” ujar sopir truk asal Wonogiri ini, Sabtu (19/7/2025).

Pantura Demak bukanlah jalan yang asing baginya. Selama lebih dari 20 tahun, sopir truk ekspedisi ini akrab dengan rute Semarang-Surabaya. Boleh dibilang, ia juga menjadi saksi hidup betapa cepatnya air laut merenggut lahan di pesisir Demak. 

“Kadang macet panjang karena kendaraan mogok. Waktu tempuh jadi molor jauh. Bukan cuma rugi waktu, tapi juga khawatir mesin rusak kena air asin terus,” keluhnya soal banjir rob di jalanan Demak.

Kota Wali di ambang “kematian lahan”

Demak sendiri dikenal sebagai “Kota Wali”. Disebut demikian karena perannya dulu sebagai pusat penyebaran Islam di Jawa. Di kabupaten seluas 996,9 km² ini juga terdapat Masjid Agung Demak sebagai bukti kegagahan Kesultanan Demak di masa lalu.

Sayangnya, kini Demak menghadapi kenyataan pahit. Penurunan muka tanah (land subsidence) yang masif, abrasi pantai yang tak terkendali, serta dampak kenaikan muka air laut global, telah menciptakan kombinasi mematikan. 

Desa-desa pesisir seperti Sayung dan Bedono sudah menjadi ikon kesuraman, dengan rumah-rumah yang ditinggalkan, dan jalanan yang sepenuhnya terendam.

“Ini sih bukan rob biasa. Ini tanahnya yang terus turun,” terang Irul, seorang sopir partikelir yang menemani perjalanan saya melintasi jalanan Pantura Demak pada Senin (14/7/2025) lalu.

Saya menyaksikan betul tembok bangunan yang berada di jalanan tersebut, terdapat noda coklat setinggi betis orang dewasa. Artinya, air yang menerjang daratan memang setinggi itu; dan pasti sering terjadi.

Sementara di dekat tol seksi 2 Sayung-Demak, rumah-rumah mulai ditinggal pemilik karena sudah sepenuhnya tenggelam. Kata Irul, yang tak terlalu sering melintas rute tersebut, seingatnya beberapa bulan yang lalu di sana masih berupa daratan.

Namun kini, rumah-rumah di sana sudah tak jelas nasibnya. “Wah, ini sih udah jadi laut. Bentar lagi hilang kalau airnya makin ke darat,” ujarnya.

Kombinasi maut yang mempercepat Demak menghilang dari peradaban

Tragedi yang menimpa Demak, mau diakui atau tidak, merupakan kombinasi maut dari berbagai faktor. Namun, yang menjadi pemicu utamanya sudah jelas: penurunan muka tanah (land subsidence); sebuah fenomena di mana daratan ambles secara perlahan. 

Berdasarkan data dari Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Diponegoro (Undip), laju penurunan muka tanah di beberapa titik pesisir Demak bisa mencapai 10-20 cm per tahun. Angka ini sangat mengkhawatirkan karena jauh melampaui rata-rata global.

Iklan

Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh pengambilan air tanah yang berlebihan untuk kebutuhan rumah tangga, industri, dan pertanian, yang menguras lapisan akuifer di bawah tanah dan menyebabkan tanah di atasnya ambles. Laporan ini kira-kira sama dengan temuan Mongabay pada 2024 lalu.

Bersamaan dengan itu, garis pantai Demak juga terus-menerus terkikis ganasnya gelombang laut. Kondisi ini diperparah oleh kerusakan pada ekosistem hutan bakau (mangrove), yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung alami dari gempuran ombak. 

Diperkirakan lebih dari 2.000 hektar lahan mangrove telah hilang dalam dua dekade terakhir. Sebagian besar akibat konversi menjadi tambak atau area lain, sehingga menghilangkan benteng pertahanan alami yang krusial ini.

Akibatnya, limpahan air laut ke daratan saat pasang tinggi, atau yang dikenal sebagai banjir rob, kian intens dan meluas setiap tahunnya. Rob ini menjadi indikator jelas bahwa permukaan tanah sudah jauh di bawah muka air laut normal, membuat daerah pesisir Demak terus-menerus terendam, bahkan tanpa hujan deras sekalipun.

Perantau yang kehilangan asa dengan kampung halamannya

Ratusan kilometer ke selatan, di kota pelajar Jogja, kecemasan serupa menghantui benak Iqbal (21). Ia merupakan mahasiswa PTS Jogja yang berasal dari Demak. 

Ia mengaku, setiap kali melihat berita tentang rob atau kondisi kampung halamannya di media sosial, hatinya terasa teriris.

“Sebagai orang Demak, saya itu bangga dengan sebutan Kota Wali. Sejarahnya kuat, nilai religiusnya tinggi,” tutur Iqbal, Minggu (20/7/2025).

“Tapi kalau terus-menerus terendam begini, bagaimana nasib peninggalan sejarah dan kebudayaan kami? Bagaimana nasib keluarga saya di sana?” imbuhnya, cemas.

Iqbal, yang sedang menempuh pendidikan di bidang tata kota, mengaku sering memikirkan solusi untuk kampung halamannya. Ia sering berdiskusi bersama teman-teman sedaerah bahkan dosen, mengenai cara menyelamatkan kampung halamannya.

Sebab, menurut data dari Climate Central, tanpa intervensi masif, sebagian besar wilayah pesisir Demak, termasuk area padat penduduk dan beberapa infrastruktur penting, berisiko tinggi terendam permanen pada tahun 2040-2050. Laporan Mongabay bahkan menyebut 2030.

Meski masih beberapa tahun, dampaknya kini sudah terasa. Sekarang ada lebih dari 10 desa di Kecamatan Sayung dan Karangtengah telah terendam parah; memengaruhi setidaknya 7.000 kepala keluarga.

Pemerintah memang telah mengambil langkah, seperti pembangunan tanggul raksasa dan proyek rehabilitasi mangrove. Tercatat, sekitar 10 km dari total target 20 km tanggul laut di Demak telah rampung. Ribuan hektar mangrove juga telah ditanam kembali dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, efektivitas jangka panjang dan keberlanjutan proyek ini masih menjadi pertanyaan di tengah laju ancaman yang sangat cepat.

“Masalahnya kompleks, bukan cuma soal tanggul raksasa, tapi juga bagaimana menghentikan penurunan tanah karena pengambilan air, dan bagaimana mengembalikan ekosistem mangrove itu sendiri,” jelas Iqbal.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kudus: Kota Sekecil Itu Berjibaku agar Tak Jadi “Kota Sampah” di Jawa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2025 oleh

Tags: banjir demakbanjir panturademakdemak tenggelamkabupaten demakpanturapilihan redaksirob demak
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO
Edumojok

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO
Edumojok

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO
Sehari-hari

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.