Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Bus Eka Surabaya Jogja Lahir untuk “Menebus Dosa” Tragedi Maut 1981, 30 Tahun Lebih Mengaspal Tak Berkhianat Soal Waktu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Juli 2024
A A
Bus PATAS Eka Surabaya-Jogja Tak Berkhianat Soal Waktu MOJOK.CO

Ilustrasi bus PATAS (CEPAT) Eka Surabaya-Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bus PATAS Eka jurusan Surabaya-Jogja memberi kesan nagih dalam perjalanan menyisir Jalur Selatan. Perjalanan dari Jogja ke Surabaya juga sebaliknya terlalui dengan ringkas dan menyenangkan.

***

Pengalaman naik bus PATAS atau CEPAT di Jalur Pantura membuat saya agak sangsi untuk naik bus kelas eksekutif. Sebab ternyata sama saja. Tak ada bedanya dengan bus kelas ekonomi.

Dalam benak saya, naik bus PATAS bisa meringkas waktu di perjalanan, alias bisa tiba di tujuan lebih cepat. Oleh karena itu, tak jadi soal jika akhirnya harus membayar mahal.

Namun, apa yang pernah saya alami di Jalur Pantura (Surabaya-Semarang) bertahun-tahun lalu tidak demikian. Naik PATAS, bayar mahal, tapi ternyata waktu tibanya tidak lebih cepat dari bus kelas ekonomi.

Begitu juga saat tujuh bulan ini tinggal di Jogja. Dari arah Jogja ke Semarang saya selalu naik bus PATAS. Tapi hasilnya juga sama saja, tak ada cepat-cepatnya. Alhasil saya mulai ragu untuk naik bus PATAS untuk rute mana saja karena buang-buang duit.

Bersabar dalam perjalanan panjang Surabaya-Jogja

Keraguan itu akhirnya terbawa juga untuk bus-bus rute Surabaya-Jogja. Selama enam bulan terakhir, saya kerap naik bus ekonomi Sumber Selamat dengan ongkos Rp99 ribu. Jika berangkat dari Jogja jam 1 siang, biasanya saya akan tiba di Surabaya sekitar jam 10 malam. Perjalanan yang panjang dan menguras energi memang.

Pacar saya berkali-kali menyarankan agar saya mencoba naik PATAS. Entah Sugeng Rahayu atau Eka. Tapi saya sudah kelewat ragu.

Sebab, saya sempat membaca ulasan seorang penumpang yang mengeluhkan perjalanan dengan bus PATAS Sugeng Rahayu. Sudah bayar mahal, lewat tol, tapi kok waktu tibanya sama saja dengan saat naik Sumber Selamat ekonomi.

Meski kasusnya terjadi pada Sugeng Rahayu, tapi kesangsian saya sudah terlanjur menyamaratakan dengan bus Eka. Alhasil, selama enam bulan terakhir riwa-riwi Surabaya-Jogja, saya lebih memilih bersabar naik bus ekonomi: menempuh perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan.

Bus Eka tak berkhianat soal waktu

Saya akhirnya memutuskan naik bus PATAS Eka pada Jumat (12/7/2024) dalam perjalanan Jogja-Surabaya, dengan harapan saya bisa lekas tiba di Terminal Bungurasih agar waktu saya tidak habis di jalan.

Pada keberangkatan kali itu saya membayar Rp145 ribu. Bonus sebotol air mineral dan kupon makan di RM Duta Ngawi, Jawa Timur.

Bus Eka yang saya tumpangi itu jlong-jlong dalam naik tol. Ia baru naik tol selepas Solo. Lalu turun di Ngawi untuk istirahat. Kemudian baru naik tol lagi selepas Madiun dan sisanya bablas sampai Terminal Bungurasih.

Ternyata bus Eka tidak berkhianat soal waktu. Sebelum lepas landas dari Terminal Giwangan Jogja jam 1 siang, saya sempat bertanya pada kondektur bus, kira-kira jam berapa saya akan tiba di Surabaya? Ia menjawab perkiraan jam setengah 9 malam. Benar saja, saya tiba di Surabaya jam 9 malam. Tak selarut saat naik ekonomi.

Iklan

Oleh karena itu, saat balik dari Surabaya ke Jogja, saya pun memutuskan naik bus Eka lagi.

Bus PATAS Eka Surabaya-Jogja Tak Berkhianat Soal Waktu MOJOK.CO
Bus Eka Surabaya-Jogja tak berkhianat soal waktu. (Aly Reza/Mojok.co)

“Mau full tol atau nggak, Mas?” tanya seorang agen di Terminal Bungurasih saat saya memasuki lorong keberangkatan bus.

“Full tol, Pak,” jawab saya spontan.

“Langsung naik yang depan sana,” jawabnya sembari mengarahkan saya ke bus Eka yang parkir di lorong depan.

Perjalanan balik ke Jogja ternyata lebih ringkas lagi. Saya harus menyerahkan uang sebesar Rp155 ribu, bonus air mineral dan kupon makan. Tapi yang membedakan bus tersebut dengan bus saat saya berangkat ke Kota Pahlawan, ia benar-benar full tol dari Surabaya hingga Solo. Bus istirahat sekitar 20 menit di RM Duta di Tol Ngawi, lalu tancap lagi tanpa jeda hingga di Terminal Tirtonadi Solo. Bus Eka itu membawa saya tiba di Jogja jam 7 malam (berangkat dari Surabaya jam 1 siang).

Baca halaman selanjutnya…

Menebus dosa tragedi maut 1981

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 19 Juli 2024 oleh

Tags: bus ekabus jurusan surabaya jogjabus patas surabaya jogjaJogjapemilik bus ekasejarah bus ekaSurabayatarif bus ekatarif bus patastarif bus patas surabaya jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kuliah, kerja, sukses.MOJOK.CO

Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.