Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Panggung

Captain Jack: Antara Debu, Air Mata, dan Anthem Masa Muda

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
19 September 2025
A A
captain jack.MOJOK.CO

Ilustrasi - Captain Jack: Antara Debu, Air Mata, dan Anthem Masa Muda (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Captain Jack lebih dari sebuah band. Lagu-lagunya merupakan anthem masa muda: tentang pencarian jati diri, pemberontakan, dan perlawanan atas ketidakadilan.

***

Asap rokok menggantung di udara Lapangan Kenari, Jogja. Lampu sorot menembus kepulan debu, menciptakan bayangan yang seolah menari bersama dentuman bass dan drum. 

Penonton sudah berdesakan. Sebagian memegang bendera hitam lusuh bertuliskan nama band favorit, dan sebagian lagi menyiapkan tubuh untuk melompat ke lautan manusia.

Lalu, riuh itu pecah. Teriakan ribuan orang menyambut kembalinya sebuah nama yang lama hilang dari panggung: Captain Jack.

Bagi banyak orang, malam itu hanyalah konser. Tapi bagi saya, itu adalah perjumpaan dengan masa lalu, sekaligus pengingat bahwa musik bisa menjadi rumah tempat kita pulang.

Reuni jiwa dan pesan buat yang sudah berpulang

CherryPop 2025, yang digelar awal Agustus lalu, menjadi panggung spesial. Setelah lama vakum, Captain Jack baru dua kali tampil: di Prambanan dan Madiun. Dua event internasional itu kebetulan saya hadiri. 

cherrypop, captain jack.MOJOK.CO
Sebelum main di Cherrypop 2025, Captain Jack baru main di dua panggung selepas vakum. Di Prambanan dan Madiun. Dua-duanya event internasional. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Namun, entah mengapa, penampilan di Lapangan Kenari malam itu terasa berbeda. Ada nuansa emosional yang sulit dijelaskan—mungkin karena mereka tampil di tanah kelahiran sendiri. Rasanya seperti menyaksikan U2 di Dublin, Irlandia, rumah bagi sang legenda musik rock itu.

“Orang Jogja mulih. Ini bukan cuma konser, tapi reuni jiwa,” kata Ilham, seorang penonton asal Kotagede yang saya temui di kerumunan. Ia adalah fans Captain Jack, atau biasa disebut monster jackers.

Di balik sorak-sorai Ilham dan ribuan penonton lain, ingatan saya melayang ke masa SMP-SMA. Captain Jack adalah salah satu band yang menemani perjalanan remaja, masa ketika mimpi dan idealisme sedang dibentuk. 

Poster mereka dulu menempel di dinding kamar saya, bersanding dengan Megadeth dan Slayer—paduan aneh, tapi begitulah semangat remaja.

Bagi saya, lagu-lagu Captain Jack bukan sekadar musik, melainkan anthem perlawanan. Di saat kita masih mencari jati diri, lirik mereka menawarkan keberanian untuk melawan ketidakadilan, sekaligus keyakinan bahwa suara kecil pun bisa berarti. 

Saat hidup terasa berat, lagu-lagu itu hadir bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai penguat.

Ada pula kenangan jenaka. Saya pernah berdebat panjang dengan seorang kawan: apakah “Kupu-Kupu Baja” ditulis untuk perempuan? 

Iklan

“Kupu-Kupu Baja” adalah lagu terbaik Captain Jack, versi kami berdua.

Sayangnya, perdebatan itu tak pernah selesai. Sampai akhirnya, di Cherrypop 2025, saya berhasil mewawancarai mereka langsung. Jawaban mereka tegas: “ya, lagu itu memang didedikasikan untuk perempuan”.

Maka, untuk sahabat saya yang kini sudah berpulang, izinkan saya menyampaikan dengan senyum getir: aku memenangkan debat kusir itu, Kawan.

Captain Jack, band yang berani melawan kemapanan

Bagi saya, Captain Jack bukanlah nama besar di televisi atau chart musik nasional. Popularitas mereka jauh kalau dibandingkan dengan, misalnya, .Feast, FSTVLST, atau Morfem–band kesayangan “anak-anak skena”. Namun, justru karena itu, mereka istimewa. 

captain jack, cherrypop.MOJOK.CO
Captain Jack adalah satu dari sedikit band yang berani melawan kemapanan. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Sejak berdiri awal 2000-an, mereka memilih jalur independen. Sempat menandatangani kontrak dengan label besar, lalu keluar lagi karena merasa terjebak dalam komersialisasi.

“Waktu itu kami merasa musik kami kehilangan ruh. Akhirnya kami memilih kembali ke jalur indie,” ungkap Novan, sang vokalis, dalam wawancara lama yang dikutip Liputan6, 2011 lalu.

Keputusan itu bukan tanpa risiko. Namun, keberanian mereka menjadikan Captain Jack legenda kecil di kalangan pendengar setia. Mereka bahkan pernah merilis album dalam format USB, jauh sebelum tren digital melanda. Bagi mereka, musik bukan sekadar produk, melainkan pernyataan sikap.

Maka dari itulah, Captain Jack, meskipun sempat vakum, jiwanya tak pernah kemana-kemana. Sebab, mereka adalah satu dari sedikit band yang berani melawan kemapanan.

Dari lagu ke perlawanan sosial

Tak cuma itu, ada satu hal yang bikin saya kepincut dengan band ini. Mereka bukan hardcore, bukan juga band punk. Tapi lirik-lirik dalam lagu Captain Jack konsisten mengangkat isu sosial.

Misalnya, dalam EP The Fall of Concept (2008), mereka menyuarakan keresahan terhadap kemunafikan dan kekuasaan. Lagu-lagu di minialbum jadi semacam manifesto—mengingatkan kita bahwa musik bisa berfungsi sebagai media kritik.

Tidak heran bila banyak anak muda di era 2000-an menjadikan lagu mereka sebagai latar perjuangan sehari-hari. 

“Aku dulu dengar Captain Jack pas kuliah. Liriknya kayak tamparan buat sistem, bikin kita semangat demo,” kata Bima, penonton asal Solo yang juga hadir di Cherrypop 2025.

Mungkin inilah kekuatan utama Captain Jack: mereka mampu menghadirkan bahasa sederhana, tapi sarat makna. Bukan teori panjang, bukan jargon politik. Hanya lagu, tapi cukup untuk membakar semangat.

Aneh, menyaksikan Captain Jack kok malah mau nangis?

Kembali ke panggung Cherrypop 2025. Malam itu, begitu intro lagu pertama dimainkan, penonton langsung riuh. Arena berubah jadi lautan manusia. Mereka hanyut dalam moshing dan crowd-surf, meliar hingga debu mengepul tinggi. 

Suara sound system memang jauh dari sempurna, bahkan kadang pecah. Mereka juga sempat menghentikan show karena masalah teknis. Tapi siapa peduli? Energi yang dipancarkan band itu jauh lebih besar daripada sekadar kualitas teknis.

captain jack, cherrypop.MOJOK.CO
Ribuan penonton melayangkan jari tengah, sebuah statement untuk memperingati kembalinya anthem “Pengkhianat” yang dibawakan malam itu. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Anehnya, saya hanya berdiri terpaku, menatap panggung, menikmati setlist dari awal hingga akhir. Di saat banyak orang melompat-lompat penuh tenaga, saya justru hampir menitikkan air mata. Ada sesuatu yang lebih besar daripada musik yang sedang dimainkan—perasaan pulang ke rumah setelah bertahun-tahun terpisah.

Atmosfer malam itu mengingatkan saya bahwa musik bukan hanya milik band, tetapi juga milik penontonnya. Setiap orang datang dengan kisah masing-masing. Ada yang sekadar ingin nostalgia, ada pula yang datang bersama anak mereka, memperkenalkan musik masa muda kepada generasi baru.

“Saya dulu dengerin Captain Jack waktu masih pacaran. Sekarang bawa anak ke sini. Rasanya kayak ngenalin sejarah keluarga,” ujar Wening, salah satu penonton dari Bantul, yang malam itu datang bersama suami dan anaknya.

Inilah bukti bahwa Captain Jack telah melewati lintas generasi. Dari kamar remaja penuh poster hingga lapangan terbuka penuh debu, mereka tetap punya tempat di hati penggemar.

25 tahun yang tetap relevan bagi generasi sekarang

Kini, tanpa menghitung masa vakum mereka, Captain Jack telah berusia 25 tahun. Namun, meskipun terpisah gap generasi, lagu-lagu mereka malah kian terdengar relatable.

Di era musik digital, di mana sebuah lagu bisa viral semalam lewat algoritma, kisah Captain Jack justru terasa menyejukkan. Mereka bukan band yang lahir dari TikTok atau Spotify. Mereka adalah band yang bertahan dengan jujur, meski tanpa panggung besar, tanpa sponsor berlimpah.

Keberanian mereka tetap relevan. Di tengah industri yang sering menggilas idealisme, Captain Jack mengingatkan kita bahwa musik bisa tetap menjadi wadah perlawanan, sekaligus ruang intim bagi personal dan kolektif.

cherrypop.MOJOK.CO
Saat konser usai, ribuan orang enggan bubar. Mereka meneriakan “Captain Jack! Captain Jack!”, seolah tak ingin show berakhir. (Mojok.co/Ahmad Effebdi)

Bagi saya pribadi, malam itu meneguhkan satu hal: musik adalah arsip hidup. Ia menyimpan jejak masa muda, pergulatan batin, dan bahkan debat konyol dengan kawan lama. Ketika Captain Jack memainkan lagunya, saya bukan hanya mendengar musik. Saya mendengar gema masa lalu, harapan masa kini, dan mungkin optimisme masa depan.

Saat konser usai, ribuan orang masih bertahan, enggan bubar. Sorakan “Captain Jack! Captain Jack!” menggema di Lapangan Kenari, seperti doa yang enggan berakhir.

Saya berjalan pulang dengan sepatu berdebu, dada penuh rasa haru. Malam itu, saya kembali menjadi remaja yang dulu menempelkan poster band di dinding kamar. Malam itu, saya kembali diingatkan bahwa musik tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya menunggu saat yang tepat untuk hidup lagi.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Saya Percaya, Album “Kalatidha” Down for Life adalah Soundtrack Terbaik untuk Kehidupan yang Buruk atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 19 September 2025 oleh

Tags: captain jackcherrypopcherrypop 2025monster jackersMusikpilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
iphone 11, jasa sewa iphone jogja.MOJOK.CO

User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

14 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Lebaran, mudik, s2.MOJOK.CO

Bawa Pulang Gelar S2 Saat Mudik ke Desa Dicap Gagal, Bikin Tetangga “Kicep” Usai Buatkan Orang Tua Rumah

13 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan pesawat

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.