Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Mendalam

Hari-hari Mahasiswa Malang yang Jalani Kumpul Kebo: Latihan Berumah Tangga, Hidup Layaknya Suami Istri meski Tak Siap Menikah

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
23 Juli 2025
A A
mahasiswa malang, mahasiswa jogja, kumpul kebo, kohabitasi, kos LV.MOJOK.CO

Ilustrasi - kumpul kebo alias kohabitasi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saling meninggalkan setelah hidup bersama

Jose tak berpikir jauh kalau suatu saat pacarnya akan meninggalkannya, misalnya untuk mencari pasangan hidup yang pasti-pasti: Pasti mengajak menikah dan membangun rumah tangga. Tidak sekadar tidur dan hidup bareng.

Yang dia tahu, saat ini hubungannya masih baik-baik saja. Pertemuan Jose dan pacarnya memang sudah tidak seintens zaman sama-sama masih jadi mahasiswa di Malang. Karena setelah lulus, sang pacar memilih pulang ke kampung halamannya di Kediri, Jawa Timur.

Hanya saja, setiap akhir pekan atau libur panjang, sang pacar biasanya akan datang ke Malang untuk menemui Jose. Sang pacar masih menginap di paviliun yang mereka gunakan untuk kohabitasi sejak masa mahasiswa di Malang dulu.

“Tapi memang ada temenku, awalnya kohabitasi, tapi akhirnya berpisah. Ya biasa saja. Nggak ada yang aneh,” tutur Jose.

Karena memang tujuannya seperti itu. Kohabitasi alias kumpul kebo memungkinkan sepasang muda-mudi untuk tinggal bareng dan berpisah tanpa dibayangi kerepotan-kerepotan prosedural. Kalau sudah menikah, berpisah akan menjadi rumit karena harus menjalani serangkaian proses perceraian.

“Sementara, di tengah hubungan, beda prinsip dan visi itu niscaya terjadi menurutku. Pernikahan itu mengikat dan jadi nggak sehat. Jika sudah nggak satu visi, kenapa masih harus melanjutkan rumah tangga? Nanti malah saling menyakiti. Sedangkan kalau berpisah (bercerai), stigma moral-sosial-agama menghantui,” pungkas Jose.

Kohabitasi mahasiswa Malang: simulasi berumah tangga

Agak sulit menemukan perempuan yang terbuka bercerita perihal kehidupan kohabitasi yang mereka pilih. Tapi dengan jaminan penyamaran identitas dan hak untuk tidak menjawab beberapa pertanyaan, Vanya (23), bukan nama asli, mau berbagi dengan Mojok, Selasa (22/7/2025) malam.

Vanya saat ini masih menjadi mahasiswa aktif di Malang. Dia mengaku sudah sejak semester 3 memilih kohabitasi dengan sang pacar yang asal Lampung.

“Kohabitasi yang kami jalani jangan diasosiasikan kami punya kebebasan tanpa tanggung jawab ya. Kami tinggal bareng, tapi ada batas-batas tertentu yang tidak kami langgar,” jelas Vanya.

Mangkanya Vanya lebih nyaman menyebutnya kohabitasi, bukan kumpul kebo. Kumpul kebo itu jika sudah terjadi hubungan yang melewati batas (anggap saja hubungan tubuh layaknya suami istri).

Vanya menyebut kohabitasi yang dia jalani adalah simulasi untuk berumah tangga. Karena dia dan pacarnya toh sudah berkomitmen untuk menikah kelak. Jadi dengan kohabitasi tersebut, mereka mencoba berlatih memecahkan masalah dalam rumah tangga, manajemen keuangan, upaya saling mengenal lebih dalam. Intinya mereka berlatih membangun sebuah rumah tangga yang ideal.

“Misalnya, pacarku nggak bisa masak, ya dia belajar masak kalau pagi-pagi aku masakin buat dia. Kami juga sering salat berjamaah bareng. Buka puasa dan sahur bareng. Terus sama-sama ngatur keuangan, nabung buat bekal nikah kelak,” kata Vanya.

Mahasiswa Malang pilih kumpul kebo alias kohabitasi MOJOK.CO
Ilustrasi pasangan kohabitasi. (Soroush Karimi/Unsplash)

Hadapi razia dan konsekuensi hukum

Vanya menyadari, konsep tinggal bersama sebelum menikah masih merupakan hal tabu. Di Malang sendiri pun sebenarnya dilarang melalui Perda Kota Malang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Larangan Tempat Pelacuran dan Perbuatan Cabul, Perda Kota Malang Nomor 6 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Usaha Pemondokan dan Perda Kota Malang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Ketertiban Umum dan Lingkungan.

Sementara secara nasional, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 pasal 412 ayat 1 disebutkan, “Setiap orang yang melakukan hidup bersama sebagai suami istri di luar perkawinan dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 bulan atau pidana denda paling banyak kategori II.”  Artinya, selain rentan razia, praktik ini juga berkonsekuensi hukum bagi pelakunya.

Iklan

“Haha nggak kepikiran bakal bagaimana kalau kena razia. Tapi yang jelas, kami punya argumen, kalau kami nggak berbuat yang nggak senonoh,” tekan Vanya.

Kumpul kebo hingga open BO

Mojok beberapa kali menerima cerita perihal “betapa bebasnya” kehidupan mahasiswa di Malang. Dan kumpul kebo memang bukan barang baru di kota ini.

Paling baru, merujuk laporan Detik Jatim, sebanyak 31 pasangan muda (mayoritas mahasiswa) di Malang—persisanya di Lowokwaru—terjaring razia oleh Satpol PP pada Maret 2025 lalu. 5 di antaranya disebut melakukan praktik open BO. Sementara sisanya kumpul kebo.

Dari hasil pendataan, diketahui mayoritas pasangan tersebut merupakan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di luar Kota Malang, seperti Kediri, Lampung, Sumatera, Lamongan, dan Solo.

Risiko buruk yang harus diperhitungkan

Dalam artikelnya, Yulinda membeber rentetan dampak buruk dari praktik kohabitasi alias kumpul kebo. Terutama bagi perempuan dan anak karena tidak adanya ikatan hukum.

“Jika pasangan kohabitasi berpisah, tidak ada aturan hukum yang mengatur pembagian harta, hak nafkah, warisan, hingga hak asuh anak,” jelas Yulinda.

Kohabitasi, lanjut Yulinda, juga dapat menurunkan kepuasan hidup dan memicu masalah kesehatan mental. Sebab, praktik ini tidak menawarkan komitmen dan kepastian masa depan yang jelas.

Merujuk data PK21 yang Yulinda nukil, tercatat sebanyak 69,1% pasangan kohabitasi pernah mengalami konflik verbal, 0,62% mengalami konflik serius seperti pisah ranjang, dan 0,26% mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sementara bagi anak-anak yang lahir dari hubungan ini, akan sangat rentan mengalami gangguan tumbuh kembang hingga mengalami tekanan emosional akibat stigma sosial.

“Anak bisa merasa tidak diakui dan mengalami kebingungan identitas, bahkan mendapat diskriminasi dari keluarga sendiri karena statusnya dianggap ‘anak haram’,” beber Yulinda.

Risiko-risiko tersebut, sepatutnya diperhitungkan sebelum pasangan muda memilih hidup dengan model kohabitasi.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pesan Sederhana Ibu untuk Anak yang Merantau (Jadi Mahasiswa), Kerap Diabaikan Berujung Penyesalan Abadi di Kemudian Hari atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2025 oleh

Tags: kohabitasikumpul kebomahasiswa malangmahasiswa malang kumpul keboMalangpergaulan mahasiswa malangpilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO
Edumojok

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO
Sehari-hari

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co
Edumojok

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gagal kuliah di PTN karena tidak lolos SNBP, padahal masih ada jalur SNBT dan UM UGM

Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan

1 April 2026
Jalan rusak di Taniwel, Maluku. MOJOK.CO

Ratusan Anak Sekolah di Kabupaten Seram Bagian Barat Dibiarkan Menderita dari Tahun ke Tahun oleh Maluku

30 Maret 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Pekerja Jakarta resign setelah terima THR dan libur Lebaran

Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja “Toxic”

30 Maret 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.