Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Mendalam

Pengadaan Smart TV di Sekolah, Borok Lama Kulit Baru: Saat Kesejahteraan Guru yang Diinginkan, tapi Malah TV yang Datang

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 September 2025
A A
smart tv, prabowo.MOJOK.CO

Ilustrasi - Pengadaan Smart TV di Sekolah, Borok Lama Kulit Baru (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Program pengadaan Smart TV ke sekolah-sekolah ibarat borok lama di kulit yang baru. Ia nggak penting, cuma buang-buang anggaran, dan rawan korupsi.

***

Ruang kelas di sekolah-sekolah negeri sebentar lagi akan punya wajah baru. Bukan lagi papan tulis putih dan spidol hitam yang mendominasi, melainkan layar besar berteknologi digital.

Presiden Prabowo Subianto sudah mengumumkan target ambisiusnya: 330 ribu sekolah akan mendapat Smart TV hingga akhir 2025.

“Idealnya satu ruang kelas satu layar,” kata Prabowo dalam sela-sela kunjungannya ke Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 di Jakarta Selatan, Kamis (11/9/2025) lalu.

Gagasan ini terdengar menjanjikan. Smart TV disebut-sebut mampu membuka akses konten belajar digital, mendukung guru, sekaligus mengurangi kesenjangan pendidikan.

Pemerintah bahkan menyiapkan anggaran besar: Rp2 triliun, yang dialokasikan khusus untuk smart classroom, termasuk Smart TV. Namun, di balik gegap-gempita janji itu, pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan: apakah Smart TV benar-benar akan menjawab kebutuhan sekolah, atau sekadar menjadi proyek mercusuar yang membebani anggaran?

Angka yang tak wajar di tiap unit Smart TV

Kontroversi langsung mencuat setelah Tempo melaporkan bahwa harga pengadaan setiap unit Smart TV mencapai Rp26 juta. Angka itu dianggap tidak wajar, terlebih jika dibandingkan dengan harga pasar yang bisa jauh lebih rendah untuk spesifikasi serupa.

Indonesian Corruption Watch (ICW) juga mengkritik pola pengadaan yang dilakukan tanpa tender—metode yang memang sah secara hukum tapi rentan disalahgunakan.

“Tanpa tender membuka ruang besar bagi praktik penyelewengan,” ungkap Koordinator Badan Pekerja ICW Wana Alamsyah kepada Tempo, dikutip Senin (15/9/2025).

Proyek ini juga dinilai berpotensi sarat masalah bukan hanya karena harga, tetapi juga karena minimnya jaminan keberlanjutan pemanfaatan di sekolah.

Bahkan, masalah lain justru datang dari dasar pijakan program itu sendiri. Meski sudah diumumkan presiden, pelaksanaannya masih menunggu Instruksi Presiden (Inpres).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah bahkan mengatakan pihaknya “menunggu arahan lebih lanjut”. Kebijakan raksasa bergulir lebih cepat daripada persiapan di lapangan.

Nasibnya bakal sama seperti kasus Chromebook?

Sementara pemerintah pusat berbicara soal transformasi digital, sekolah-sekolah di lapangan masih bergulat dengan masalah klasik: listrik tak stabil, internet yang lemah, hingga ketiadaan tenaga teknis yang bisa mengoperasikan perangkat baru.

Iklan

Alhasil, Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, pun menilai program Smart TV hanyalah pengulangan pola lama.

“Seperti biasa, program-program seperti itu tidak pernah dibicarakan dari bawah, tapi semua atas ide pusat. Smart TV bisa mengalami nasib sama dengan Chromebook, yang tidak banyak dimanfaatkan untuk pembelajaran,” katanya saat dihubungi Mojok, Senin (15/9/2025).

Menurutnya, pola top-down ini rawan salah arah karena tidak berbasis kajian kebutuhan nyata.

“Mestinya berdasarkan pemetaan dari bawah, bukan suka-suka pejabat pusat—yang ujung-ujungnya ternyata ada niat lain,” ujarnya. Ia juga mengingatkan risiko korupsi jika pola pengadaan semacam ini terus dibiarkan.

Lebih penting lagi, Ubaid menggarisbawahi bahwa ada prioritas lain yang seharusnya dikejar pemerintah: pembiayaan sekolah tanpa pungutan, sesuai amanat Mahkamah Konstitusi, serta peningkatan kualitas guru.

“Kalau dua hal itu tidak dibereskan, percuma bicara digitalisasi,” katanya.

Banyak guru dan sekolah belum siap

Pandangan ini mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Tanpa pondasi pendidikan yang kuat, alat canggih bisa saja tidak lebih dari hiasan. Dengan demikian, pertanyaan kunci berikutnya: seberapa siap guru menghadapi perangkat baru ini?

Survei Kominfo (2022) menunjukkan lebih dari 40 persen guru di Indonesia belum merasa percaya diri menggunakan perangkat digital secara rutin dalam pembelajaran, terutama di daerah non-kota. Padahal, literatur internasional seperti laporan OECD menekankan bahwa literasi digital guru adalah syarat mutlak sebelum sekolah dijejali perangkat digital.

Idealnya, semua guru harus siap.

Tapi faktanya, baru sepertiga yang merasa mampu. Artinya, pemerintah sedang mendorong percepatan digitalisasi dengan perangkat bernilai puluhan juta rupiah, sementara SDM yang akan memakainya belum siap sepenuhnya.

Satu unit Smart TV setara 5 tahun gaji guru honorer

Dari sisi biaya, Rp26 juta per unit Smart TV juga menimbulkan pertanyaan. Angka itu setara dengan 52-86 bulan gaji guru honorer yang rata-rata hanya menerima Rp300-500 ribu per bulan. Dengan kata lain, satu unit Smart TV sama dengan gaji 4–7 tahun seorang guru honorer.

Atau, jika mau dibelikan buku saja, misalnya, uang sebesar itu bisa menghasilkan lebih dari 500 eksemplar buku teks pelajaran—cukup untuk melengkapi koleksi satu sekolah menengah.

smart tv.MOJOK.CO
Infografis perbandingan harga smart tv dengan gaji guru honorer dan perbandingan lain. (Infografis oleh Ahmad Effendi)

Bahkan, dengan harga Chromebook edisi edukasi yang sekitar Rp4-5 juta, Rp26 juta bisa dibelikan lima hingga enam laptop yang bisa dipakai langsung siswa dan guru.

Pertanyaan sederhana muncul: lebih bermanfaat mana untuk pembelajaran sehari-hari, satu TV di dinding kelas atau enam laptop yang bisa dipakai interaktif?

Kekhawatiran publik tidak lepas dari pengalaman masa lalu. Pada 2021–2023, pemerintah membagikan lebih dari 400 ribu Chromebook ke sekolah-sekolah. Program itu digadang-gadang bisa mendukung pembelajaran secara daring dan digitalisasi kelas.

Namun, laporan dari lapangan menunjukkan banyak perangkat yang mangkrak karena internet lemah, guru tidak terlatih, dan perawatan tidak jelas. Bahkan ada sekolah yang menyimpan Chromebook di gudang karena tidak tahu bagaimana menggunakannya.

Hal serupa juga pernah terjadi pada pengadaan laboratorium komputer dan perpustakaan digital di era sebelumnya. Barang datang, pemanfaatan tak berjejak.

Perangkat datang duluan, kesiapan menyusul belakangan

Kritik terhadap pola semacam ini sejalan dengan temuan peneliti Faisal Mustafa dan kawan-kawan peneliti. Dalam risetnya berjudul “The Challenges and Solutions of Technology Integration in Rural Schools” (2023), ia menunjukkan bahwa integrasi teknologi di sekolah pedesaan kerap gagal karena tidak ada pelatihan guru, infrastruktur tidak mendukung, serta pengadaan dilakukan tanpa memperhatikan kebutuhan lokal.

Situasi di Indonesia saat ini mencerminkan pola serupa: perangkat datang lebih dulu, kesiapan menyusul belakangan.

Smart TV tentu punya potensi jika benar-benar digunakan secara konsisten. Dengan akses konten visual yang luas, ia bisa membantu guru memperkaya materi. Tapi tanpa anggaran perawatan dan tanpa kesiapan infrastruktur, bayangan ribuan layar yang hanya menyala ketika pejabat berkunjung bukanlah hal mustahil.

Digitalisasi pendidikan memang tidak bisa dihindari. Dunia berubah, dan sekolah perlu menyesuaikan diri. Tetapi, sebagaimana diungkap Mustafa, “sejarah menunjukkan bahwa transformasi tidak cukup dijalankan dengan menjejali sekolah dengan perangkat baru.”

Tanpa melibatkan guru, murid, dan kebutuhan riil sekolah, program apapun rawan mandek. Smart TV bisa jadi peluang, bisa juga jebakan. Pertanyaannya kini: apakah pemerintah akan belajar dari kegagalan program sebelumnya, atau sekadar mengulang pola lama dengan wajah baru?

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kasus Nadiem Makarim Menunjukkan Kalau Lembaga Pendidikan Sudah Jadi “Inkubator Koruptor” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 24 November 2025 oleh

Tags: chromebookmasalah pendidikan indonesiapendidikan indonesiapengadaan smart tvpilihan redaksisekolah pelosoksmart tv
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO
Edumojok

Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO
Esai

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Resign after lebaran karena muak dengan kantor toxic demi work life balance di Jogja MOJOK.CO
Urban

Nekat Resign After Lebaran karena Muak Kerja di Kantor Toxic, Pilihan “Ngawur” untuk Cari Happy tapi Stres Tetap Tak Terhindarkan

30 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Arti Sukses dan Cuan di Mata Petani Cabai Rawit MOJOK.CO

Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot

26 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.