Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Mendalam

Kemiskinan Membunuhmu, Pemerintah Mengabaikanmu

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Juli 2025
A A
kemiskinan orang miskin dilarang punya anak banyak mojok.co

Ilustrasi - Kemiskinan Membunuhmu, Pemerintah Mengabaikanmu (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Miskin itu politis. Ada banyak orang meninggal karena hidup dalam belenggu kemiskinan. Namun, di mana peran pemerintah?

***

Gerimis tipis membasahi Jogja pada Sabtu (5/7/2025) malam. Di warung kopi yang mulai remang, asap rokok masih mengepul. Asap ini mengiringi perdebatan sengit antara beberapa mahasiswa semester akhir, yang semakin malam makin tak terlihat ujungnya.

“Ah, bagiku orang miskin itu cuma kurang kerja keras,” cetus Budi, salah satu mahasiswa yang ngotot dengan pendiriannya malam itu. “Sudah tahu hidup susah, bukannya kerja lebih keras, malah ngeluh terus,” imbuhnya.

Lawan bicaranya, Rudi, hanya tersenyum tipis. Sesekali matanya melihat jarum jam. Matanya sudah memerah, terlihat mengantuk, tapi ada perdebatan yang kudu diselesaikan.

“Apakah semudah itu? Apakah benar, semua orang punya start yang sama?,” ungkapnya, dengan sesekali menyeruput kopi yang tinggal tersisa ampasnya saja.

“Bayangin: seorang anak di pelosok Papua, tanpa listrik, tanpa akses internet, tanpa sekolah yang layak, apakah ia punya kesempatan yang setara dengan anak di pusat Jakarta yang punya semua fasilitas?”.

Pertanyaan itu menggantung di udara, menantang logika yang terlalu sederhana.

Soal kemiskinan yang terus diperdebatkan

Seperti yang diungkap Rudi, di balik setiap kata “malas” atau “kurang usaha”, sebenarnya memang ada bayang-bayang gelap yang menyelimuti jutaan manusia. Sebuah bayang-bayang yang bukan tercipta dari kelemahan pribadi, melainkan dari struktur tak terlihat namun begitu kokoh menjerat: “kemiskinan struktural”.

Sederhananya: bagaimana bisa seorang anak bermimpi jadi dokter, jika ia bersekolah di gubuk reot, tak punya guru yang memadai, atau bahkan harus putus sekolah untuk membantu orang tua mencari nafkah.

Sekali lagi, ini bukan pilihan yang disengaja, melainkan keterbatasan yang dipaksakan oleh sistem. Terbaru, Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 ini menetapkan bahwa seseorang dikatakan miskin jika pengeluarannya kurang dari Rp535.547 per bulan. 

Kendati demikian, perhitungan garis kemiskinan ini dinilai tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Sebab, menurut standar perhitungan dan laporan World Bank, ada lebih dari 190 juta warga miskin di Indonesia. Sementara, data BPS menyebut hanya ada 24 juta kelompok miskin di Indonesia pada tahun 2024.

 

View this post on Instagram

 

Iklan

A post shared by Perupadata (@perupadata)


Sudah datanya kurang relevan, angkanya pun tak sepenuhnya merefleksikan dalamnya jurang penderitaan warga. Karena kalau kita menengok Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) yang dirilis BPS, justru menunjukkan banyak yang hidup jauh di bawah garis tadi. Miris.

Secara harafiah, kemiskinan memang membunuhmu

Konsekuensi paling tragis dari kemiskinan struktural adalah dampaknya terhadap angka kematian. Ya, kemiskinan secara harafiah memang membunuhmu. Kisah-kisah pilu yang kerap kita lihat, baik di media online atau media sosial, adalah gambaran nyata bagaimana kondisi ini merenggut nyawa. 

Salah satunya seperti yang dialami Guntur Siahaan, seorang pasien dari keluarga miskin di Jambi. Pada Agustus 2023, Guntur meninggal dunia setelah diduga ditolak berobat lebih lanjut di RSUD Raden Mattaher Jambi karena ketiadaan biaya dan surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang belum selesai diurus.

Seperti diwartakan CNN Indonesia, pihak keluarga bercerita bahwa mereka diminta pulang untuk mengurus SKTM. Padahal kondisi Guntur sudah sangat membutuhkan penanganan darurat. Alhasil, Guntur pun pulang tinggal nama.

Tak hanya itu, cerita tragis juga datang dari Sukati. Ia adalah seorang pasien miskin di Tuban yang meninggal pada Mei 2024. Penyebabnya, keluarganya kesulitan menggunakan SKTM untuk berobat di RSUD dr. Koesma. 

Kendala administrasi dan birokrasi, meskipun ada jaminan kesehatan, seringkali menjadi tembok tebal bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan pertolongan medis tepat waktu. Kedua kasus ini hanyalah puncak gunung es dari banyak kisah serupa yang tidak terekspos, di mana akses kesehatan yang terhambat menjadi faktor fatal.

Kemiskinan dan kematian punya korelasi yang kuat

Dampak mematikan kemiskinan bukan hanya menjadi fenomena lokal. Di Amerika Serikat, misalnya, sejumlah penelitian menunjukkan adanya korelasi kuat antara kemiskinan dan angka kematian yang lebih tinggi. 

Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of the American Medical Association (2023) menemukan fakta mengejutkan. Kata laporan itu: kemiskinan dikaitkan dengan setidaknya 183.000 kematian di AS pada tahun 2019 di kalangan orang dewasa berusia 15 tahun ke atas. 

“Angka ini menempatkan kemiskinan sebagai penyebab kematian terbesar keempat, setara dengan merokok, dan bahkan melampaui obesitas atau demensia jika dihitung dari kemiskinan kumulatif,” tulis David Brady dalam laporan tersebut, dikutip Mojok pada Selasa (8/7/2025).

poverty.MOJOK.CO
Survival Curves for Individuals Currently in Poverty and Those Currently Not in Poverty in the US (JAMA)

Studi itu menunjukkan, bagaimana kurangnya pendapatan secara sistematis memperpendek harapan hidup, membuat individu lebih rentan terhadap berbagai penyakit dan kondisi fatal. Seseorang yang menjadi “1 persen teratas pendapatan tertinggi” di AS bisa hidup 14,6 tahun lebih lama dibandingkan mereka yang menjadi 1 persen terbawah.

Penelitian lain, diterbitkan di The Lancet Public Health (2021), juga memaparkan bahwa kemiskinan adalah faktor risiko signifikan untuk kematian dini. Bahkan setelah mengontrol faktor-faktor lain seperti pendidikan dan perilaku kesehatan.

Studi ini menyoroti bahwa kebijakan yang bertujuan mengurangi kemiskinan dapat memiliki dampak yang sama besar atau bahkan lebih besar pada harapan hidup dibandingkan intervensi medis individual. 

Dua penelitian ini menarik kesimpulan yang sama: menjadi miskin, berarti harus siap mengalami kesulitan dalam mengakses fasilitas kesehatan.

Gizi buruk, lingkungan kotor, dan kematian dini

Fenomena serupa, meski dengan data yang berbeda, juga terjadi di Indonesia. Kemiskinan secara langsung memengaruhi apa yang disebut penentu sosial kesehatan (social determinants of health/SDOH).

Masyarakat miskin cenderung hidup dengan nutrisi buruk. Mereka kerap tak mampu membeli makanan bergizi, terjebak dalam pilihan pangan murah yang tinggi gula, garam, dan lemak. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan prevalensi stunting (gizi buruk kronis) di Indonesia masih tinggi, yaitu 21,5 persen pada 2023. 

kemiskinan, stunting.MOJOK.CO
ILustrasi – Tingkat stunting di Indonesia. (gambar: Freepik)

Angka ini bukan sekadar statistik; ini berarti jutaan anak terhambat tumbuh kembangnya, dengan tubuh kecil dan otak yang tak berkembang optimal—menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan kematian di kemudian hari. Anak-anak dengan gizi buruk rentan terhadap infeksi mematikan seperti diare dan ISPA.

Tak hanya itu, keluarga miskin sering kali menghadapi akses terbatas ke air bersih dan sanitasi layak. Mereka banyak yang tinggal di lingkungan tanpa fasilitas memadai ini, yang ironisnya menjadi penyebab utama penyakit menular.

Data BPS per 2023 juga mengungkapkan bahwa masih ada 11,8 persen rumah tangga yang belum memiliki akses terhadap sanitasi layak. Lebih dari 15 persen bahkan belum memiliki akses air minum layak. 

Kondisi ini menjadi sarang penyakit menular yang mematikan, seperti diare, yang masih menduduki posisi teratas sebagai penyebab kematian balita di Indonesia.

Parahnya lagi, orang miskin sering terpapar pada lingkungan hidup yang tidak aman dan beracun. Permukiman kumuh, yang dihuni mayoritas penduduk miskin, seringkali berada di daerah rawan bencana seperti banjir atau longsor, atau dekat sumber polusi. Udara yang kotor, sampah menumpuk, dan kondisi sanitasi yang buruk meningkatkan risiko penyakit pernapasan, kulit, dan infeksi lainnya.

Ketimpangan akses kesehatan, jurang antara hidup dan mati

Pemerintah boleh saja gembar-gembor telah menggalakkan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan. Tujuan yang mereka klaim: memberikan jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi seluruh rakyat Indonesia agar dapat hidup sehat, produktif, dan sejahtera.

Kendati demikian, masyarakat miskin masih kerap menghadapi kualitas dan akses pelayanan kesehatan yang rendah. Hambatan non-finansial, seperti biaya transportasi, hilangnya pendapatan harian karena berobat, atau birokrasi yang rumit seringkali menghalangi mereka untuk mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, ini berujung pada diagnosis terlambat, pengobatan tidak tuntas, dan peningkatan risiko komplikasi fatal. 

Ketimpangan akses layanan kesehatan juga terlihat pada ketersediaan tenaga medis. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, distribusi dokter dan fasilitas kesehatan masih menumpuk di perkotaan dan wilayah barat Indonesia, meninggalkan banyak daerah perdesaan dan terpencil dengan rasio dokter per populasi yang sangat rendah, bahkan di bawah standar WHO (1 dokter per 1.000 penduduk). 

kemiskinan.MOJOK.CO
Permukiman kumuh, yang dihuni mayoritas penduduk miskin, seringkali berada di daerah rawan bencana. (gambar: Freepik)

Contoh paling nyata dari fenomena ini adalah kasus baru-baru ini. Melansir laporan Youtube Tribunnews, seorang ibu hamil dari keluarga miskin, yang tengah dalam kondisi kritis, harus melintasi tiga sungai menggunakan perahu kecil karena tidak ada fasilitas kesehatan memadai di desanya.

Ia harus menempuh perjalanan berjam-jam, melalui arus sungai penuh gelombang menuju puskesmas terdekat. Naas, sang ibu dan bayinya meninggal dunia sebelum sempat mendapat penanganan medis optimal. 

Pemerintah cuma menambal kebocoran, bukan memperbaiki pipa

Itu baru satu hal. Selama ini, ada indikasi bahwa langkah-langkah yang diambil pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan masih belum cukup, bahkan terkesan mengabaikan. 

Seperti yang dipaparkan sebelumnya, Pemerintah Indonesia memang memiliki berbagai program pengentasan kemiskinan, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), hingga Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

Namun, evaluasi dari berbagai lembaga, termasuk riset dari universitas di Indonesia, sering menyoroti bahwa efektivitas program-program ini belum optimal.

Sebuah studi dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2022, secara tegas menyoroti bahwa peningkatan anggaran untuk program-program sosial tidak selalu linear dengan penurunan angka kemiskinan yang signifikan. Program yang ada pun, dianggap belum sepenuhnya menyentuh akar masalah. 

Studi tersebut menggarisbawahi bahwa program bansos yang bersifat konsumtif, meski penting untuk memenuhi kebutuhan dasar, belum mampu menciptakan kemandirian ekonomi atau mengatasi hambatan struktural yang menghimpit kaum miskin. 

Menurut Dr. Pande Made Kutanegara, peneliti senior PSKK UGM, bantuan tunai hanya meredakan gejala, bukan penyakitnya. 

“Selama akses ke pendidikan dan kesehatan berkualitas, serta lapangan kerja yang layak tidak merata, kemiskinan akan terus berulang,” ujarnya.

Ini mengindikasikan bahwa tanpa intervensi struktural yang lebih mendalam, program-program ini seperti menambal kebocoran tanpa memperbaiki pipa yang rusak.

kemiskinan.MOJOK.CO
Tanpa intervensi struktural, program pengentasan kemiskinan hanya sia-sia (gambar: Freepik)

Salah satu masalahnya adalah ketidaktepat sasaran data kemiskinan, sehingga bantuan tidak selalu sampai kepada mereka yang paling membutuhkan. Data TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan) sering menunjukkan adanya exclusion error (penduduk miskin yang seharusnya menerima bantuan tetapi tidak terdaftar) dan inclusion error (penduduk tidak miskin yang justru menerima bantuan). Akibatnya, ya, kebocoran dan inefisiensi. 

Banyak program pengentasan kemiskinan tak jelas, rakyat makin susah

Selain itu, kurangnya koordinasi antarprogram dan birokrasi yang berbelit kerap menghambat pencapaian tujuan pengentasan kemiskinan. Masih mengutip data TNP2K, meskipun anggaran dialokasikan, penurunan angka kemiskinan seringkali berjalan lambat dan tidak sebanding dengan besaran investasi, terutama dalam menekan kemiskinan ekstrem.

Pada September 2023, angka kemiskinan ekstrem di Indonesia masih di angka 1,12 persen, yang berarti sekitar 3,05 juta jiwa masih hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem—sangat rentan terhadap konsekuensi mematikan dari kemiskinan.

Anggaran negara untuk pengentasan kemiskinan memang meningkat setiap tahun. Pada RAPBN 2024, belanja perlindungan sosial dialokasikan sebesar Rp493,5 triliun, angka yang signifikan. Namun, perbandingannya dengan sektor lain, atau efisiensi penggunaannya, masih perlu dikaji lebih dalam. 

Sebagai contoh, alokasi anggaran untuk infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi layak di daerah-daerah terpencil masih jauh dari memadai untuk menjangkau seluruh penduduk miskin. Ini bukan sekadar kegagalan implementasi, melainkan cerminan dari prioritas yang mungkin belum sepenuhnya berpihak pada nasib kelompok miskin.

Pada akhirnya, perdebatan Budi dan Rudi memang tak berujung. Namun, setidaknya kita menjadi paham bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang politis. Tak selesai hanya karena kamu malas atau rajin.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Gawai adalah Candu: Cerita Mereka yang Mengalami Pembusukan Otak karena Terlalu Banyak Menonton Konten TikTok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2025 oleh

Tags: kemiskinankemiskinan struturalpenduduk miskinpilihan redaksiwarga miskin
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Bagi Gen Z, Menikah di Gedung Lebih Praktis dan Murah daripada di Rumah Sendiri, Tapi Harus Siap Jadi Bahan Omongan Tetangga di Desa

22 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi
Edumojok

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026
Wawancara beasiswa LPDP
Edumojok

Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Salat tarawih 8 rakaat di masjid 23 rakaat. Siasat mengejar sunnah di tengah lelah MOJOK.CO

Tarawih 8 Rakaat di Masjid yang Jemaahnya 23 Rakaat, Ganggu karena Pulang Dulu tapi Jadi Siasat Mengejar Sunnah di Tengah Lelah

19 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Yamaha Mio Sporty 2011 selalu mogok di Jogja. MOJOK.CO

Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru

20 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.