Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Mendalam

Nestapa Kelas Menengah yang Sebenarnya Tergolong Miskin, tapi Negara Nggak Mau Mengakuinya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
24 Juni 2025
A A
negara nggak perlu malu mengakui banyak kelompok miskin di Indonesia. MOJOK.CO

kelas menengah yang tak tergolong miskin makin menderita. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sejumlah pengamat mendorong Badan Pusat Statistika (BPS) lebih jujur dalam melaporkan data kelompok miskin di Indonesia. Pasalnya, data itu jauh berbeda dengan standar perhitungan batas garis kemiskinan dari World Bank. Jika data itu dipaksakan, kelompok menengah ke bawah akan lebih menderita.

Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan, seseorang dikatakan miskin jika pengeluarannya kurang dari Rp535.547 per bulan. Perhitungan garis kemiskinan ini dinilai tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. 

Menurut standar perhitungan dan laporan World Bank, ada lebih dari 190 juta warga miskin di Indonesia. Sementara, data BPS menyebut hanya ada 24 juta kelompok miskin di Indonesia pada tahun 2024.

Kelompok miskin butuh bansos, tapi…

Kemiskinan memang menjadi masalah pelik. Indonesia sendiri tercatat sebagai negara dengan tingkat kemiskinan tertinggi kedua di ASEAN. Pakar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair, Bagong Suyanto menilai selama ini pendekatan karitatif yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat belum cukup. 

Pendekatan karitatif adalah bantuan yang didasarkan pada rasa belah kasih. Dalam hal ini, pemerintah hanya memberikan bantuan berupa materi, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), dan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Bantuan semacam itu dampaknya hanya jangka pendek, tidak untuk jangka panjang. Di mana, masyarakat atau kelompok miskin jadi tidak bisa mandiri.

“Program seperti itu hanya memperpanjang nafas, bukan memberdayakan masyarakat atau kelompok miskin untuk mandiri,” ujar Bagong dikutip dari laman resmi Unair, Senin (23/6/2025).

Belum lagi, jika program tersebut tidak tepat sasaran. Linda (22), anak bungsu dari enam bersaudara mengaku pernah menjumpai keluarga yang kesulitan mencari bantuan sosial. 

Beruntung kepala RT di kampungnya masih baik hati memberikan Linda surat keterangan tidak mampu untuk kuliah. Sebab, kata dia, tidak semua orang diberi. Bukan karena kepala RT itu selektif tapi kuotanya justru dibagi-bagi ke kerabat dekat.

“Menurut pengamatanku bansos di kampungku ini kurang merata. Kebanyakan yang menerima adalah saudara atau kerabat dari RT/RW,” kata Linda, Senin (23/6/2025).

Linda sendiri memang mengaku berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Ayahnya sudah meninggal saat dia berusia 12 tahun. Sedangkan ibunya harus banting tulang guna mencukupi kebutuhan keluarga. 

Pekerjaan apapun, akan ibunya lakoni, seperti berjualan baju, tempe penyet, hingga sembako. Di usianya yang semakin tua, Linda pun harus membantu ibunya.

Pelan-pelan mengentas kemiskinan 

Sementara itu, menurut Bagong, pemerintah dapat meningkatkan literasi keuangan masyarakat, alih-alih hanya memberi modal usaha. Selain pengetahuan, pemerintah juga dapat memberikan bantuan dalam bentuk aset produksi.

“Contohnya, tukang becak yang diberi becak sendiri atau penjahit yang diberi mesin jahit, itu akan menaikkan pendapatan mereka secara signifikan,” jelasnya.

Baca Halaman Selanjutnya

Kemiskinan adalah persoalan multidimensi

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 24 Juni 2025 oleh

Tags: bansoskelompok menengahkelompok miskinkeluarga miskinstandar miskin
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Artikel Terkait

2.000 KPM di Brebes Keluar dari Jerat Kemiskinan, Siap Hidup Mandiri MOJOk.CO
Kilas

 2.000 KPM di Brebes Keluar dari Jerat Kemiskinan, Siap Hidup Mandiri

15 Agustus 2025
Gaji Besar di Kemensos Tapi Nggak Kuat Lihat Kelakuan Teman yang Korup. MOJOK.CO
Ragam

Rasanya Kerja di Kemensos: Gaji Besar, Tapi Nggak Kuat Lihat Kelakuan Teman yang Korup

5 November 2024
Beras Langka Gara-Gara Bansos Bikin Anak Kos Jogja Merana, Boncos Kalau Jajan di Burjo Terus.mojok.co
Aktual

Beras Langka Gara-Gara Bansos Bikin Anak Kos Jogja Merana, Boncos Kalau Jajan di Burjo Terus

12 Februari 2024
Cek Bansos Kemensos di Ponsel, Cara Paling Mudah Anti Ribet MOJOK.CO
Kilas

Cek Bansos Kemensos di Ponsel, Cara Paling Mudah dan Anti Ribet

18 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan MOJOK.CO

Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan

7 Januari 2026
kecanduan gadget pada anak. MOJOK.CO

Petaka yang Terjadi Saat Orang Tua Sibuk Mengejar Dunia dan Anak yang Terlalu Sering Menggunakan Gawai hingga Candu

7 Januari 2026

Video Terbaru

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.