Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Mahasiswa di Jogja Mengeluh: Jam Malam di Kampus Itu Buat Kuliah Kayak Formalitas Saja

Khoirul Atfifudin oleh Khoirul Atfifudin
1 Agustus 2023
A A
Mahasiswa di Jogja Mengeluh: Jam Malam di Kampus itu Buat Kuliah Kayak Formalitas Saja. MOJOK.CO

Ilustrasi Mahasiswa di Jogja Mengeluh: Jam Malam di Kampus itu Buat Kuliah Kayak Formalitas Saja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagian besar kampus di Jogja memberlakukan jam malam bagi mahasiswanya. Alasannya soal keamanan kampus. Sebuah alasan yang menurut mahasiswa nggak masuk akal.

***

Sebagai mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga, Muhammad Khuluqul Karim (23) prihatin lantaran kampusnya saat sore hari terlihat sepi. Bahkan dari sekian banyak organisasi mahasiswa, hanya ada tiga yang masih sering beraktivitas di kampus: Mapala, Teater Eska, dan beberapa anak dari UKM Silat. Mereka masih bisa seperti itu karena bersikeras atau eyel-eyelan terutama dengan pihak keamanan kampus.

Untuk mahasiswa lainnya acap menghabiskan waktu di luar kampus. Ini lantaran di UIN Sunan Kalijaga terdapat pembatasan jam malam yang secara tertulis hanya sampai pukul 21:00 WIB. Tapi kata Khuluq masih bisa dinegosiasi sampai pukul 22:00 WIB – 23:00 WIB. 

Walau demikian tetap saja adanya pembatasan jam malam membuat Khuluq yang berstatus sebagai lurah (jabatan kultural) di Teater Eska merasa resah. Mengingat kampus saat malam hari menjadi minim atau malah tidak ada aktivitas sama sekali. 

Ruang intelektualitas dan kreativitas pindah ke warung kopi

Padahal sudah semestinya mahasiswa perlu membuat kampus menjadi hidup. Pun idealnya perguruan tinggi wajib memberikan ruang untuk mengaktualisasikan bakat dan minat mahasiswanya. 

Apalagi kampus kerap menuntut agar peserta didiknya bisa terus berkarya dan membanggakan almamater. Sementara hal itu kontradiksi lantaran kampus tidak memberikan akses ruang dan waktu. 

Berhubung kampus telah memberangus kebebasan itu membuat mahasiswa harus lari ke kedai kopi atau tempat nongkrong lainnya. 

“Bahasa kasarnya adalah kegagalan kampus dalam menciptakan ruang intelektualitas dan kreativitas. Banyaknya pembatasan itu justru warung kopi yang mengambil alih sebagai ruang untuk mahasiswa,” kata Khuluq pada Jumat, (21/07) yang saya temui di sekretariat Teater Eska.

Saat menanyakan ke pihak kampus tentang pembatasan jam malam, kata Khuluq jawaban mereka selalu sederhana: ada pada regulasi untuk menciptakan keamanan dan ketertiban. Keamanan dan ketertiban di sini lalu saya kaitkan dan coba tanyakan tentang kekhawatiran orang-orang semisal terjadi mesum, kerusakan fasilitas, dan lain sebagainya. 

Warung kopi atau kafe jadi tempat mahasiswa diskusi mahasiswa karena jam malam di kampus. (Khoirul Atfifudin/Mojok.co)
Warung kopi atau kafe jadi tempat mahasiswa diskusi mahasiswa karena jam malam di kampus. (Khoirul Atfifudin/Mojok.co)

Tapi pria dari Gresik ini memberikan sanggahan dalam bentuk kasus nyata. Bahwa sewaktu pandemi, UIN Sunan Kalijaga pernah tutup dan tidak boleh ada aktivitas di dalamnya tetapi justru ada banyak fasilitas yang rusak. Seperti keramik pecah, barang-barang hilang. Dari bukti, indikasi pelakunya adalah orang luar UIN Sunan Kalijaga. 

“Terus beberapa warga yang komplain karena ada orang mesum di UIN dan kabarnya itu orang luar UIN. Nah makanya keberadaan kita di kampus bisa mencegah hal-hal itu,” imbuhnya. 

Jam malam itu membatasi kegiatan produktif mahasiswa 

Khuluq memiliki anggapan bahwa mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga butuh akses ruang publik di kampus selama 24 jam. Sebab ketika ada pembatasan jam malam itu justru membatasi mahasiswa untuk produktif. Hal itulah yang juga diamini oleh Siti Umrotus Sholichah (22) dan Safina Rosita Indrawati (22), mahasiswi dari Universitas Ahmad Dahlan. 

Saya menemui keduanya pada sore hari setelah saya ngobrol bersama Khuluq. Di Basa-Basi Nologaten itu Sholichah dan Safina bercerita bagaimana dirinya dan rekan-rekan organisasi harus terburu-buru dalam mengadakan diskusi karena kampusnya mau ditutup. Pernah juga saat menggelar nobar film mereka kena tegur satpam karena membuat acara sampai pukul 23:00 WIB. 

Iklan

“Bahkan itu pas peluncuran majalah LPM POROS (pers mahasiswa UAD), barang-barang kita masih di lingkungan kampus eh tahu-tahu gerbang udah dikunci. Harusnya kan diangkut dulu terus gerbang baru mengunci, nah ini kita masih di situ,” kenang Sholichah sambil mengingat-ngingat kejadian menyebalkan itu.

“Jadi UAD (kampus 4) itu ada branding besar, kampus serasa mal, karena punya eskalator dan lift. Tapi ternyata jam malamnya juga mengadopsi dari mall: tutup jam 10,” kata Sholichah tertawa getir.

Kampus yang tidak memiliki working space

Kampus 4 UAD berada di Jalan Ringroad Selatan, Kragilan, Tamanan, Kec. Banguntapan, Kabupaten Bantul. Kampus ini terbilang paling megah dari kampus-kampus UAD yang lain.

Lebih parahnya lagi jam operasional di perpustakaan UAD sungguh membuat Sholichah dan Safina merasa marah dan kecewa. Karena ruang itu hanya sampai pukul 16:00 WIB saja. Belum lagi saat jam 12:00 WIB hingga 13:00 WIB perpustakaan ikut istirahat. 

Mereka mempermasalahkan jam operasional perpustakaan lantaran tempat ini menjadi satu-satunya ruang yang cocok untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Sebab menurut pengakuannya, kampus 4 UAD sama sekali tidak memiliki working space yang benar-benar mumpuni. 

Tapi sial, jam operasional perpustakaan kampus 4 UAD mengecewakan untuk mengerjakan tugas. Sholichah dan Safina akhirnya harus pergi ke kedai kopi untuk merampungkan tugas.

95% tugas kuliah selesai di kedai kopi

Mereka mengatakan nyaris setiap hari mengerjakan tugas di kedai kopi. Keduanya juga beranggapan bahwa kampus hanya untuk kelas saja. Dan mahasiswa sudah tidak percaya kalau gedung-gedung itu bisa menunjang tugas kuliah maupun organisasi. 

“Kampus itu hanya sebatas formalitas. Bahkan saya berani jamin 80% tugas mahasiswa bisa selesai di warung kopi, bukan di kampus!,” tegas Sholichah. 

Tentu ketika mahasiswa lebih memilih mengerjakan tugas di kedai kopi, hal itu justru akan merogoh pengeluaran lebih banyak. Seperti halnya Sholichah dan Safina yang mengaku sehari bisa habis Rp25 ribu hanya untuk mengerjakan tugas di kedai. Belum lagi kalau pesan kopi lebih dari sekali, beli makanan kecil, uang transport, dan lain sebagainya. 

“Itu seharusnya jadi refleksi kampus. Ok fine, kita boleh mem-branding kampus dengan sedemikian rupa, tapi juga harus tanggung jawab ke mahasiswanya. Karena kita bayar dan kita harusnya bisa mengakses ruang-ruang yang bisa menunjang aktivitas kita,” kata Sholichah. 

Baca halaman selanjutnya…

Jam malam di kampus karena keamanan, ah itu cuma alasan saja

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 2 Agustus 2023 oleh

Tags: jam malamjam malam kampusKampuskuliahliputanMahasiswa
Khoirul Atfifudin

Khoirul Atfifudin

Penyuka musik dan tertarik menulis.

Artikel Terkait

Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
perubahan iklim, cuaca ekstrem mojok.co

Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim

24 April 2026
YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”, Definisi Rindu Itu Bersifat Universal.MOJOK.CO

YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal

28 April 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.