Dengan kondisi lingkungan yang “sekadarnya”, Sunan Giri tetap bisa membuat sebuah “karya rasa” yang tidak hanya efisien sebagai ketahanan pangan, tapi juga efektif sebagai medium transfer nilai-nilai Islam kepada masyarakat Jawa tempo dulu.
***
Usai menuntaskan masa nyantri ke sang ayah (Syekh Maulana Ishaq) di Samudera Pasai, Raden Paku—yang juga bernama Arab Ainul Yaqin—kembali ke Jawa Timur. Tepatnya di Gresik, tempat ia dibesarkan oleh saudagar perempuan besar: Nyai Gede Pinatih.
Ia pulang dengan membawa amanah besar dari sang ayah: membangun pusat pendidikan Islam di kawasan Gresik. Menimbang, pada saat itu, pusat pembelajaran Islam di Jawa Timur—dan disebut paling awal di Jawa—baru berpusat di Pesantren Ampeldenta asuhan Sunan Ampel di Surabaya. Seperti termuat dalam penelitian M. C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since c.1200 (2008).
Raden Paku kemudian memilih membangun pesantren di kawasan perbukitan di Kebomas, Gresik. Pesantren itu kemudian juga difungsikan sebagai pusat pemerintahan Islam Giri Kedaton. Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2006) mencatat, pendirian pesantren itu terjadi pada 1487 Masehi.
Karena berada di atas perbukitan (pegirian), Raden Paku kemudian digelari “Sunan Giri” oleh masyarakat setempat.
Kupat keteg, kuliner yang menjadi bukti kreativitas Sunan Giri
Sunan Giri memang dikenal sebagai salah satu Wali Sanga yang kreatif. Ia mencoba mengenalkan Islam dengan cara yang asyik dan kalcer.
Di antara contohnya, sebagaimana mengutip Sunan Giri (Sejarah Hidup dan Perjuangan Wali Tanah Jawa) (2024) karya Masykur Arif, Sunan Giri menciptakan beberapa tembang dolanan (lagu untuk mengiringi permainan anak-anak) yang bernuansa rancak, tapi sarat nilai ke-Islaman.
Tembang-tembang dolanan gubahannya yang sangat populer seperti: Cublak-Cublak Suweng (tentang mencari harta sejati kebahagiaan batin) agar tidak tersesat oleh nafsu duniawi) dan Padhang Bulan (mengajak anak-anak untuk tidak tidur terlalu sore dan keluar rumah menikmati keindahan alam sembari mensyukuri nikmat Tuhan).
Kuliner pun kemudian menjadi salah satu medium dakwah Sunan Giri. Yakni melalui kupat keteg yang lahir dari daya pikir Sunan Giri untuk menciptakan sebuah makanan yang efisien di tengah kondisi perbukitan Kebomas, juga bisa disisipi nilai-nilai Islam.
Kupat keteg: kuliner untuk mengasuh santri dari berbagai penjuru di tengah keterbatasan perbukitan kapur
Sejak berdiri, tak butuh waktu lama bagi Pesantren Sunan Giri untuk menjadi jujukan bagi para santri yang ingin memperdalam Islam. Santri yang datang tidak hanya dari daerah-daerah di Jawa-Madura.
Agus Sunyoto menyebut, ada juga yang datang dari Lombok, Makassar, bahkan Maluku. Jumlah santrinya ada ratusan orang.
Persoalannya, seperti digambarkan H. J. de Graaf dan Theodore G. Th. Pigeaud dalam Kerajaan Islam Pertama di Jawa (1985), kondisi pesantren Sunan Giri berada di kawasan bukit kapur yang relatif kering. Jelas tidak bisa ditanami padi. Tanaman yang bisa tumbuh di sana adalah umbi-umbian.
Kenapa Sunan Giri memilih area perbukitan? Konon, dari Samudera Pasai ia membawa segenggam tanah pemberian Syekh Maulana Ishaq. Sunan Giri dianjurkan membangun pesantren di daerah yang tanahnya memiliki karakter sama dengan tanah segenggam yang ia bawa dari Samudera Pasai tersebut.
Selain itu ada beberapa faktor. Jika menggunakan analisis penelitian H. J. de Graaf dan Theodore G. Th. Pegeaud, pusat kekuasaan Giri dibangun di bukit tidak lain adalah agar mudah dipertahankan secara militer dan dapat mengawasi wilayah pesisir Gresik. Mengingat, area yang awalnya merupakan pesantren itu di kemudian waktu bertransformasi menjadi pusat pemerintahan Islam.
Sementara jika menggunakan analisis Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960), masyarakat Jawa tempo dulu sering memaknai wilayah dataran tinggi (gunung atau bukit) sebagai axis mundi (titik penghubung antara dunia manusia dan dunia spiritual). Dengan begitu, Giri Kedaton dikesankan sebagai pusat otoritas spiritual Islam di Jawa.
Tidak ada catatan spesifik tentang jenis tanaman apa yang tumbuh di kawasan Pesantren Giri waktu itu. Hanya saja, merujuk penelitian Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid I (2005), jenis tanaman yang bisa tumbuh di daerah dengan kondisi seperti kawasan Pesantren Sunan Giri adalah umbi-umbian.
Cerita tutur yang berkembang, untuk mendapat beras, maka para santri yang mukim di perbukitan harus turun ke daerah Gresik bawah untuk membeli beras.
Karena sulitnya akses pada padi (beras), Sunan Giri pun berpikir: kupat (ketupat) adalah solusi untuk asupan pangan para santri.
Sebab, kupat bisa bertahan hingga tiga hari jika proses pembuatan dan penyimpanannya tepat. Sejumlah penelitian ilmiah menyebut demikian. Meliputi cara masak yang benar-benar tanak hingga digantung untuk meluruhkan sisa-sisa air pasca ditanak.
Dengan membuat kupat, maka paling tidak hanya butuh sekali masak untuk tiga hari kedepan. Itu memungkinkan para santri tidak perlu sering-sering naik-turun bukit. Sementara umbi-umbian menjadi alternatif asupan selingan.
“Air endapan minyak”: rahasia cita rasa
Ini yang disebut khas dari kupat keteg Sunan Giri. Keteg berarti keruh. Karena memang bentuk kupat keteg lebih keruh dari kupat pada umumnya.
Rupa keruh tersebut dipengaruhi dari air yang digunakan untuk menanak: air endapan minyak di kawasan perbukitan Giri.
Cerita tutur yang berkembang memang menyebut air itu berasal dari sumber-sumber air dengan kandungan minyak. Namun, bisa saja itu hanya air yang tampak berminyak. Bukan bercampur dengan minyak bumi.
Sebab, kondisi air di kawasan perbukitan kapur memiliki kandungan mineral kalsium tinggi, magnesium, dan bahan organik alami dari tanah. Dalam beberapa kasus, kombinasi tersebut dapat menghasilkan lapisan tipis seperti minyak di permukaan air.
Fenomena serupa dijelaskan dalam kajian hidrogeologi United States Geological Survey: bahwa biofilm bakteri besi dan bahan organik di air tanah sering menimbulkan efek “sheen” atau kilap seperti minyak, padahal bukan minyak bumi.
Konon, air keteg itu justru membuat kupat menjadi lebih awet dan memiliki cita rasa gurih tanpa banyak bumbu. Selain fakta bahwa memang sumber mata air tersebut yang tersedia di tengah kondisi perbukitan Giri di masa itu.
I’tiraf: pengakuan kesalahan dan simbol kemenangan atas nafsu
Kupat kemudian menjadi salah satu media dakwah filosofis nan sufistik Sunan Giri. Baik di kalangan santri maupun masyarakat setempat.
Kupat adalah akronim dari ngaku lepat (mengakui kesalahan atau dalam bahasa Arab: i’tiraf). Sebagai bentuk ajaran muhasabah (pentingnya introspeksi), sebagaimana ditekankan Al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw:
Q.S. Al-Hasyr: 18: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
H.R at-Tirmizi: Dari Abu Ya’la yaitu Saddad ibn Aus r.a. dari Nabi saw. Beliau bersabda, orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupannya setelah mati. Sedangkan orang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan harapan kosong.
Quote Umar ibn Khattab: Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal.
Itulah kenapa, selain menjadi makanan pokok sehari-hari, berdasarkan cerita tutur masyarakat setempat menyebut, Sunan Giri kerap mengajak santri dan masyarakat setempat meriung untuk bareng-bareng menikmati kupat keteg di momen malam selawe (25 Ramadan).
Pertama, itu adalah malam pertengahan di 10 malam terakhir bulan Ramadan. Hari-hari ketika umat Islam dianjurkan untuk beriktikaf: mendekat kepada Allah Swt. Untuk menghadap dan mendekat kepada Allah Swt, maka seorang muslim harus menjernihkan batinnya. Salah satu upayanya adalah dengan refleksi atas khilaf-khilaf yang sudah dilakukan untuk kemudian mohon ampun pada Allah Swt.
Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam menyebutnya proses tazkiyat al-nafs: mensucikan batin dari debu-debu (khilaf) yang menyelimuti cahaya di dalamnya. Itulah kenapa kupat dibuat dengan janur. Dalam falsafah Islam-Jawa, janur merupakan akronim dari jatining nur (kesejatian diri yang bercahaya). Dengan begitu, tidak akan ada dinding pemisah antara hamba dengan pencipta-Nya (Zat yang Sejati).
Kedua, mendekati lebaran yang tinggal lima hari lagi, maka dianjurkan untuk saling mengakui kesalahan satu sama lain (tradisi masyarakat Indonesia: dengan saling mengucapkan “mohon maaf lahir batin”).
Ketiga, kupat disebut juga merupakan simbolisasi dari nafsu papat (empat nafsu) manusia sebagaimana diuraikan Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: ammarah (nafsu yang mendorong pada keburukan), lawwamah (nafsu yang mengombang-ambing, mendorong berbuat buruk untuk kemudian menyesalinya), mulhamah (nafsu yang mengilhami manusia untuk benar-benar membedakan mana baik/buruk), dan mutmainnah (nafsu yang mendorong untuk benar-benar menghadap pada Allah Swt).
Meriung untuk menikmati kupat keteg di malam 25 Ramadan menjadi simbolisasi, bahwa hingga akhir Ramadan, umat Islam telah berhasil mengontrol nafsunya dari ammarah, lawwamah, hingga ke tahap mulhamah dan mutmainnah: menuju kembali ke fitri (suci) pada momen Idulfitri.
Kelangkaan
Tradisi malam selawe sebenarnya masih terus berlangsung di kawasan makam Sunan Giri hingga saat ini. Hanya saja, kupat keteg sendiri memang cenderung langka seiring waktu.
Kupat keteg umumnya disajikan dengan siraman gula merah dan parutan kelapa.
Namun, karena kelangkaan sumber “air minyak” membuat warga setempat agak sulit untuk membuat kupat keteg sebagaimana resep awalnya. Kendati kuliner peninggalan Sunan Giri ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbud Ristek pada 2025 lalu.
Rasa Sanga merupakan konten khusus Liputan Mojok untuk Ramadan 2026/1447 H. Menarik benang merah khazanah kuliner Jawa dari riwayat Wali Sanga.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Rasa Sanga (3): Urap Daun Mengkudu, Cara Sunan Kalijaga Mengajarkan Kemandirian Pangan dan Locavore pada Masyarakat Demak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













