Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Sisi Gelap Korean Food di Jogja, Oknum Penjualnya Pakai Cara Nakal yang Bahayakan Pembeli

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 Juli 2024
A A
Sisi Gelap Korean Food di Jogja, Oknum Penjualnya Pakai Cara Nakal yang Bahayakan Pembeli.MOJOK.CO

Ilustrasi Sisi Gelap Korean Food di Jogja, Oknum Penjualnya Pakai Cara Nakal yang Bahayakan Pembeli (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Semakin kesini, korean food makin mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Padahal, kalau dilihat dari kacamata budaya, citarasa makanan Korea tak selalu bisa cocok dengan lidah masyarakat Indonesia, khususnya orang Jogja.

Korean food dominan dengan rasanya yang pedas. Bahkan pedasnya seringkali ekstrem. Sementara Jogja, sudah lekat dengan makanan-makanan bercita rasa manis. 

Kendati demikian, hegemoni makanan Korea seperti tak terelakan lagi. Di Jogja, booth korean food konsisten menghiasi setiap event, tak peduli apapun temanya. Restoran berskala mewah sampai tingkat UMKM juga mulai menjamur. Makanan ini juga semakin mudah dijumpai karena banyak orang menjajakannya di pinggiran jalan.

Banyak penelitian menyebut, budaya Korea baik melalui K-Pop maupun drakor, turut mendorong tren gandrung korean food ini. 

Saya jadi teringat kejadian yang belum lama saya alami, tepatnya pada Sabtu (13/7/2024) malam. Selepas menyaksikan konser di Stadion Wilis, Madiun, saya bermaksud berwisata kuliner di sekitaran venue acara. Sayangnya, karena waktu sudah larut malam, warung makan seperti nasi pecel sudah tutup.

Alhasil, saya dan kawan memutuskan berkeliling. Dan, yang di luar dugaan, korean food jadi pilihan kami malam itu. Alasannya sebenarnya sangat sederhana, pertama, karena itu yang pertama kami jumpai. Kedua, hawa dingin mendesak naluri kami buat makan yang pedes-pedes.

Momen tersebut membuat saya merenung, baik di Jogja ataupun Madiun, baik siang maupun tengah malam, ternyata korean food tetap saja ada yang memburu. 

Namun, di momen itu juga saya menjadi teringat dengan cerita seorang kawan yang pernah “bermain” di industri korean food. Cerita tersebut menyadarkan bahwa di balik kecintaan masyarakat pada makanan korea, ada sisi gelap yang mengiringinya.

Odeng berbahan berbahaya

Sekitar awal 2023 lalu, Rini* (19) membuat bisnis kecil-kecilan sebagai tugas mata kuliah kewirausahaan di kampusnya. Mahasiswa salah satu PTS di Jogja memilih berjualan korean food.

“Selain karena aku pecinta drakor, di Jogja korean food itu pasarnya luas. Gampang dijualnya,” ujarnya tatkala bercerita kepada Mojok, Kamis (11/7/2024).

Kebetulan juga, Rini punya koneksi ke salah satu pengelola event di Jogja. Jadi, rencananya masakan koreanya akan dijual pada acara-acara tertentu, selain membuka juga pre-order buat mahasiswa di kampusnya.

Rini dan teman-teman kelompoknya pun menemui beberapa penjual makanan Korea. Niatnya, selain untuk kerjasama dalam hal produksi, ia juga ingin belajar pembuatannya.

“Di tempatku beliau ini jualan jajanan Korea. Aku juga penasaran cara bikinnya, karena selama ini tahunya cuma makan aja,” kelakarnya.

Beberapa makanan memang diproduksi sendiri, salah satunya adalah favorit Rini, yakni odeng. Namun, alangkah terkejutnya dia ketika melihat secara langsung pembuatannya.

Iklan

“Kalau dibilang jorok sih enggak. Ya, ngadonin gitu ada SOP lah. Cuman yang aku pertanyakan itu campuran bahannya itu, kayak ada yang aneh. Kalium bromat, borax gitu kita juga diajarin di kampus,” kata Rini.

Rini bercerita, penjual tersebut menambahkan bahan yang ia sebut “pengawet” secara berlebihan. Yang lebih mengejutkannya lagi, ia melakukan itu seolah wajar-wajar saja.

“Aku sempat tanya, ‘emangnya nggak berlebihan?’, eh dibilang ‘kalau mau awet berhari-hari ya memang kudu banyak’. Langsung aku shock banget.”

Tak mau ambil risiko, khusus korean food yang dibuat untuk pelanggannya sendiri, Rini memutuskan sendiri takaran bahan-bahannya. Mau bagaimana pun, Rini tak ingin mengambil risiko, apalagi urusannya dengan kesehatan para pembeli. Sementara yang yang dijual sang pedagang, Rini mengaku itu di luar kendalinya.

Pakai korean food yang nyaris basi, dibuat ekstra pedas sampai menyamarkan bau

Rini juga blak-blakan, trik lain yang selama ini dipakai penjaja korean food adalah memakai bahan-bahan yang sudah basi. Saat berdagang bersama penjual yang ia ajak kerjasama, Rini melihat secara langsung praktik tersebut.

“Stok-stok lama kayak tteokbokki, yang udah berair dan bau gitu masih dipakai. Kata mereka ‘masih bagus kok’, padahal aku dan temen-temen tahu betul udah agak bau. Cuma ya nggak berani ngelawan aja,” ungkapnya.

Kata Rini, tingkat kepedasannya dibikin amat ekstrim dengan menambah bubuk-bubuk cabai dan saus. Cara itu dipakai buat menyamarkan bau basi pada makanan.

“Aku nggak tahu pedagang yang lain gini juga apa nggak. Tapi sumpah ini bikin trust issue kalo mau beli korean food,” kata Rini.

Hasna (23), salah satu mahasiswa yang pernah membuka usaha korean food berskala UMKM, mengakui praktik tersebut. Kecenderungan makanan korea yang sulit bertahan lama seringkali jadi alasan penjual buat berbuat nakal.

“Makanya aku milih berhenti karena tricky banget emang bisnis ini. Susah untungnya. Nggak semua masakan korea itu kimchi dan samjang yang makin disimpen lama makin enak,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Ide Usaha Jualan Gorengan Tak Sepele, Buat Perantau Indramayu dan Majalengka Jadi Jutawan di Jakarta hingga Jogja

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2024 oleh

Tags: budaya koreaJogjaKoreakorean foodMakanan Korea
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.