Sebagai orang yang tinggal di Wonogiri, saya sangat akrab dengan pemandangan gerobak mie ayam dan bakso. Nyaris setiap orang asli daerah ini yang merantau dan membuka usaha kuliner tersebut di luar kota, ujung-ujungnya selalu sukses.
Saat mudik lebaran, mereka bisa pulang dengan membawa mobil. Bahkan, mereka bisa membangun rumah yang bagus di kampung halaman.
Bakso dibuat pagi, tiba-tiba membusuk di siang hari
Namun, di balik kesuksesan tersebut, ada sebuah mitos yang telanjur diamini kuat oleh warga desa. Yang mereka percaya: mau buka usaha di mana pun, asalkan masih di Pulau Jawa, kemungkinan suksesnya sangat besar. Tapi kalau sudah nekat buka usaha sampai menyeberang laut alias ke luar Jawa, kemungkinan gagalnya justru jauh lebih tinggi.
Alasan yang paling sering saya dengar adalah soal “magis” atau keberuntungan yang katanya langsung luruh ketika melewati air laut.
Yang paling menyebalkan, ada keyakinan bahwa pengusaha dari Wonogiri sering dijahili oleh pesaing lokal di luar pulau dengan cara-cara mistis. Karena posisi mereka sudah di luar Jawa, ilmu penangkal yang dibawa dari desa seolah tidak berdaya mengatasinya.
Salah satu cerita klenik yang cukup populer, pernah saya dengar dari seorang tetangga yang pernah buka usaha di Medan. Kata dia, gara-gara “dijahili”, bakso dan mie yang cepat busuk.
Katanya, sering ada kejadian pedagang yang pagi-pagi bikin bakso atau mie ayam, siangnya tiba-tiba sudah bau, sehingga harus langsung dibuang. Padahal, sepengalaman mereka berdagang di Jawa, makanan itu bisa awet seharian penuh.
Ada juga cerita soal warung yang sengaja “ditutup” pakai hal gaib. Warungnya buka, tapi pembeli yang lewat seolah tidak bisa melihat keberadaan warung tersebut.
Usaha gagal total tak selalu karena santet
Jujur saja, kalau sudah bicara klenik, saya agak skeptis. Saya pun penasaran, kira-kira apa alasan logis di balik kegagalan para perantau ini ketika mereka nekat berdagang keluar Pulau Jawa.
Untuk menjawab rasa penasaran ini, saya mengobrol dengan Heri (45), tetangga saya sekaligus seorang pedagang mie ayam yang pernah babak belur saat mencoba peruntungan buka warung di Sumatra, beberapa tahun lalu.
Dulu, saat usahanya hancur dan ia terpaksa pulang kampung, Heri juga sempat percaya bahwa warungnya dikerjai pesaing. Apalagi, ia sering mengalami kejadian kuah kaldunya sering bau di siang bolong.
Namun, setelah bertahun-tahun kembali berdagang di Jawa dan merenungkan kegagalannya, Heri mengaku punya pandangan yang jauh lebih masuk akal. Ia tak mau lagi menyalahkan hal gaib.
“Kalau berdasarkan pengalaman saya sih, itu kayaknya bukan karena dikerjain santet,” kata Heri, Selasa (5/5/2026). “Hawa di luar Jawa itu kan beda, kadang jauh lebih panas. Terus, yang paling ngaruh itu air sumurnya.”
Heri menduga kuat bahwa perbedaan kualitas air tanah adalah biang keroknya. Menurut pengalamannya, air tanah di beberapa daerah di luar pulau kadang ada yang berbau gambut, rasanya agak berbeda, atau kadar kapurnya tinggi.
“Kuah kaldu daging sapi atau ayam itu kan sensitif banget. Kena air yang kandungannya beda sedikit saja, rebusannya pasti beda. Makanya cepat rusak atau basi. Bukan karena ditaburi tanah kuburan sama saingan,” tebak Heri sambil menertawakan kepolosannya di masa lalu.
Warung dibuat “tak kelihatan”, pembeli kabur
Lalu, bagaimana dengan mitos usaha warung yang ditutup hal gaib sampai tidak kelihatan oleh pembeli?
Kini, Heri menyadari, warungnya dulu sepi murni karena urusan selera lidah warga lokal, bukan karena sesuatu yang tidak kasat mata.
Heri bercerita, mie ayam dan bakso Wonogiri itu punya ciri khas rasa yang cenderung manis dan gurih. Sementara itu, banyak warga di luar Pulau Jawa yang lidahnya lebih terbiasa dengan bumbu rempah yang tajam, masakan bersantan kental, atau rasa yang sangat pedas.
“Wajar kalau jualan saya dulu sepi, karena nggak bisa maksa selera Jawa ke orang Sumatra yang benar-benar berbeda,” ungkapnya.
Lebih jauh lagi, Heri menyinggung soal beban mental perantau. Menurut dugaannya, alasan mistis ini pada akhirnya sering dipakai semata-mata karena urusan harga diri.
“Gini lho, orang-orang itu gengsinya gede banget kalau sudah merantau. Pas terpaksa pulang kampung karena usahanya hancur, rasanya malu sekali kalau harus ngaku kalah saing sama pedagang sana,” ungkap Heri.
Bagi Heri dan banyak perantau gagal lainnya, memakai dalih “dikerjain orang pakai ilmu gaib” adalah tameng yang paling aman. Alasan tersebut sangat ampuh untuk menutupi rasa malu dan menyelamatkan nama baik di depan tetangga desa.
Kunci sukses usaha di luar Jawa ada di Paguyuban
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Ketua Paguyuban Mie Ayam Tunggal Rasa Wonogiri, Eddy Santoso. Salah satunya, Eddy membedah mitos “ilmu luruh saat nyeberang laut” ini murni dari kacamata jaringan bisnis.
Menurut Eddy, “magis” kesuksesan orang Wonogiri selama berdagang di Pulau Jawa itu sebenarnya adalah wujud nyata dari kekuatan paguyuban. Di kota-kota di Jawa, ekosistem perantau Wonogiri ini luar biasa solid.
“Di Jawa ini kita punya jaringan. Kalau ada pedagang baru butuh pasokan mie basah yang murah, kita tahu harus cari ke mana. Kalau butuh pinjaman modal darurat untuk sewa tempat, atau gerobaknya tiba-tiba rusak, ada ratusan kawan satu daerah yang siap turun tangan membantu,” tegas Eddy.
Paguyuban ini berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang sangat kuat. Para pedagang tidak pernah benar-benar berjuang sendirian.
Namun, kondisi ini berubah total ketika seorang pedagang nekat menyeberang ke luar Pulau Jawa. Di tanah yang jauh, ekosistem perantau Wonogiri ini sering kali tidak ada, atau jumlahnya masih sangat sedikit.
Mereka terpaksa merintis usaha benar-benar sendirian, tanpa jaringan agen bahan baku yang murah, dan tanpa teman yang bisa dimintai tolong saat kehabisan modal.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
