Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Kisah Deni, Santri Asal Banten yang Cium Tangan Paus Fransiskus dengan Khusyuk

Sang guru minta kitab kuning yang ada di Vatikan

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
20 Agustus 2023
A A
Kisah Deni, Santri Asal Banten yang Cium Tangan Paus Fransiskus dengan Khusyuk MOJOK.CO

Ilustrasi Kisah Deni, Santri Asal Banten yang Cium Tangan Paus Fransiskus dengan Khusyuk (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Cerita Deni kuliah pakai sarung di Vatikan

Selama satu semester atau enam bulan, Deni Iskandar kuliah di tiga tempat yaitu Pontifica Universita St Thomas Aquinas-Angelicum, di Pontifica Universita Gregoriana, dan di Nostra Aetate.

Selama di Vatikan, ada hari-hari Deni kuliah sambil sarungan. Yang hampir pasti ia lakukan adalah saat kuliah di hari Jumat. Dari tempat tinggalnya, ia mengenakan sarung ke kampus. “Jadi kalau Jumat itu kan di sana waktu salat Jumatnya jam 14.00. Jadi daripada pulang, mending langsung saja pakai sarung ke kampus,” kata Deni. 

Deni juga meluruskan pandangan kegiatan agama lain tidak ada di Vatikan atau Roma. Justru ia merasakan hak ibadah terpenuhi. “Di Roma itu ada masjid, banyak musala. Bahkan saat saya puasa, aktivitas tarawih itu ada, Lebaran juga bisa. Bahkan teman-teman kuliah saya ikut pas buka bersama, mereka senang-senang saja, saya malah yang merasa aneh,” kata Deni tertawa. 

Deni santri asal Banten ketemu Paus
Deni Iskandar (kiri) bersama mahasiswa asal Filipina memegang undangan khusus untuk beraudiensi dengan Paus Fransiskus, di Basilica Santo Petrus, Vatikan, Rabu (28/6/2023). (Istimewa)

Selama menempuh pendidikan di Vatikan dan Roma, ia menyimpulkan bahwa dalam melihat kehidupan saat ini, bukan perkara surga dan neraka. Justru ia melihat manusia sebagai manusia, dengan begitu munculah rasa kemanusiaan.

Deni mengakui, keputusannya untuk kuliah di Vatikan, bahkan mencium tangan Paus pasti menimbulkan pro kontra. Ada yang sepakat dan tidak sepakat. Termasuk teman-temannya di PB HMI dimana ia menjadi bendahara umum. “Bahkan ada yang bilang saya agen,” kata Deni tertawa. 

Selama di Vatikan mengamati banyak hal yang menurutnya luar biasa. Misalnya saja, ia melihat perjalanan intelektual dan spiritual seorang imam Katolik ternyata nggak mudah. Mereka benar-benar belajar, baik secara spiritual dan intelektual.

Tatanan dunia berubah, musuh bukan lagi antarpemeluk agama

“Jadi memang harus kita akui bahwa, Gereja Katolik itu pasca Konsili Vatikan II ini, lebih terbuka dan progresif. Terlebih dalam hal memajukan dialog lintas agama, dengan semangat Living Together itu,” katanya 

“Ada banyak dokumen maupun ensiklik Gereja Katolik yang bicara tentang konsep dialog lintas agama, yang terbaru adalah, dokumen Human Fraternity. Itu adalah dokumen apostolik Paus Fransiskus saat bersilaturahmi dengan Grand Syekh Tayyeb, Imam besar al-Azhar, yang bertempat di Abu Dhabi.

Menurut Deni, saat ini alam berubah dan berdampak pada tatanan dunia yang juga sudah berubah. Tantangan semua umat manusia, bukan lagi perang antaragama maupun saling hujat dan saling membenci satu sama lain atas nama agama. Lebih dari itu, tantangan pemeluk agama saat ini adalah kemiskinan, kesehatan global, perubahan iklim dan korupsi, yang itu sifatnya merugikan banyak orang. 

“Kita semua harus sadar bahwa, saat ini tatanan dunia sudah berubah, musuh kita bukan lagi antar pemeluk agama. Musuh nyata agama adalah kemiskinan, kesenjangan, perubahan iklim, kesehatan global juga perubahan iklim. Nah oleh karena itu, semua pemeluk agama itu harus bahu membahu menyelesaikan persoalan itu. Terlebih Islam dan Gereja Katolik, itu jelas punya tanggung jawab, terlebih saat ini sudah ada dokumen Human Fraternity itu kan, jadi standing-nya sudah jelas” tegasnya.

Deni berjumpa dengan Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyathi al-Bantani. Ia sekaligus meminta restu untuk berangkat lagi ke Vatikan, melanjutkan studinya. MOJOK.CO
Deni berjumpa dengan Abuya KH Ahmad Muhtadi Dimyathi al-Bantani. Ia sekaligus meminta restu untuk berangkat lagi ke Vatikan, melanjutkan studinya. (Dok. Deni Iskandar/Mojok.co)

Deni mengaku bahwa dirinya sudah mendapat beasiswa studi lanjut dari Pontifical University (Universitas Kepausan) Saint Thomas Aquinas “Angelicum” di Roma. Namun, studi lanjut tersebut belum dapat ia realisasikan karena kendala biaya hidup dan penginapan atau tempat tinggal.

Dapat restu dari sang guru, minta dibawakan kitab kuning dari Vatikan

Putut Prabantoro, salah satu orang yang menyarangkan Deni untuk kuliah di Vatikan menilai sosok Deni sebagai sosok yang sederhana. Bahkan untuk mendapatkan fotonya bersama Paus Fransiskus di studio Vatikan, seorang suster dari Kongregasi Passionis yakni Sr Fransiska CP – seorang sahabat dan sekaligus “ibu angkat” yang menebus foto itu. Foto itu baru terkirim dua bulan setelah perjumpaannya dengan Paus Fransiskus.

Menurut Putut, ketika akhir Januari 2023 berangkat ke Roma, beberapa orang ikut urunan untuk membantunya bisa berangkat. Dari sepatu hingga jaket musim dingin semua didapat dari orang-orang yang mencintainya. Bahkan konon, Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo memberikan uang saku untuk naik taksi dari bandara ke penginepannya. 

Kini, Putut juga mendukung keinginan dari Deni untuk studi lanjut di Roma. Ilmunya akan sangat berguna bagi Indonesia.

Iklan

“Minta doanya saja, Mas, semoga segera dapat sponsor. Rencananya akan tinggal satu tahun karena diploma,” kata Deni. Ia juga sudah bertemu dengan gurunya waktu di pesantren, Abuya KH Ahmad Muhtadi bin Dimyathi al-Bantani, tokoh spiritual muslim yang disegani di Provinsi Banten. 

“Kemarin saya sudah ketemu beliau, nanya sudah beres atau belum belajarnya. Saya bilang, saya mau berangkat lagi. Beliau mendukung penuh,” katanya. ‘

Ada satu pesan khusus dari gurunya jika ia kembali ke Vatikan. “Beliau mau Kitab Kuning. Kan Koleksi Kitab Kuning di Universitas Dewan Kepausan itu lengkap, Bang. InsyaAllah saya akan copy PDF-nya untuk beliau,” kata Deni. 

Penulis: Agung Purwandono

BACA JUGA Memang Kenapa Kalau Saya Salaman dengan Paus Fransiskus di Vatikan?

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2023 oleh

Tags: agama katolikpausPaus Fransiskussantrivatikan
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Tayangan Trans7 tentang pesantren memang salah kaprah. Tapi santri juga tetap perlu berbenah MOJOK.CO
Aktual

Trans7 Memang Salah Kaprah, Tapi Polemik Ini Bisa Jadi Momentum Santri untuk “Berbenah”

17 Oktober 2025
Etika santri di pondok pesantren bukan pengkultusan pada kiai MOJOK.CO
Ragam

Dari Sungkem hingga Minum Bekas Kiai, Dasar Etika Para Santri di Pondok Pesantren yang Dituding Perbudakan

14 Oktober 2025
Sisi Gelap Sebuah Pesantren di Tasikmalaya: Kelam & Bikin Malu MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Sebuah Pesantren di Tasikmalaya: Mulai dari Pelecehan Seksual Sesama Jenis, Senioritas, Kekerasan, Hingga Senior Memaksa Junior Jadi Kriminal

9 September 2025
Paus Leo XIV, Sarjana Matematika Memimpin Umat Katolik MOJOK.CO
Esai

Habemus Papam! Kisah Paus Leo XIV Sarjana Matematika yang Akan Memimpin Umat Katolik di Masa Kritis

9 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.