Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Caleg di Wonogiri Alami Gangguan Jiwa dan Terlilit Utang Ratusan Juta karena Kalah di Pemilu

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Februari 2024
A A
Derita caleg gagal di Wonogiri.mojok.co

Ilustrasi Derita Caleg Gagal di Wonogiri: Cuma Coba-Coba Tapi Bikin Terlilit Utang dan Alami Gangguan Jiwa (Ega/Mojok)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

 

Dalam setiap perhelatan pemilu, calon legislatif (caleg) yang gagal terpilih kebanyakan mengalami stres hingga gangguan jiwa. Kondisi itu menimpa salah satu caleg DPRD Kabupaten Wonogiri. Pada Pemilu 2009 silam, ia gagal terpilih dan membawa petaka bagi keluarganya, baik secara materiil maupun psikis.

Dino (24), bukan nama sebenarnya, punya pengalaman dengan caleg gagal di Wonogiri. Saya mengenal Dino dari organisasi mahasiswa daerah (Ormada) Wonogiri pada 2017 lalu. Pada awal perkenalan kami, Dino dengan entengnya bikin bercandaan soal pamannya yang mengalami gangguan jiwa.

Kami, yang mendengar leluconnya, tentu merasa tak tega untuk tertawa. Namun, Dino menyuruh kami buat bersikap santai, sebab ia sudah berdamai dengan masa lalunya itu. 

Pun, kata dia, alasan pamannya mengalami gangguan jiwa pun cukup absurd. “Gila karena gagal nyaleg,” kata dia, yang waktu itu mengucapkannya sambil memiringkan bibir tanda nyinyir. Cerita soal caleg gagal Wonogiri yang tersemat di pamannya itu kerap ia ulang-ulang.

Memutuskan nyaleg karena modal coba-coba

Pada Rabu (7/2/2024), saya kembali menghubungi Dino untuk me-refresh ingatannya soal kisah pamannya. Dino juga mengaku senang hati membagikan kisah tersebut pada pembaca Mojok.

Semua bermula pada 14 tahun yang lalu. Kala itu, paman Dino, sebut saja Parman (55) maju sebagai kontestan pemilihan umum legislatif DPRD Kabupaten Wonogiri tahun 2009.

Parman maju sebagai caleg Partai Bulan Bintang (PBB)–salah satu parpol yang sebenarnya punya reputasi kecil di Kota Gaplek. 

Pencalonan pamannya itu sebenarnya cukup aneh. Sebab, menurut pengakuan Dino, awalnya pamannya itu tak terlalu mengerti persoalan politik. Ngobrol soal isu politik pun hampir tidak pernah. 

Satu keluarga besar pun sontak kaget waktu pamannya bilang mau nyaleg. “Kita waktu itu mengiranya bercanda saja. Tahunya beneran,” kata Dino kepada Mojok, Rabu (7/2/2024).

Berawal dari obrolan keluarga yang mereka kira bercandaan itu, petaka perlahan hadir di keluarga besar Dino.

“Gara-gara coba-coba malah jadi celaka.”

Hutang ratusan juta untuk modal kampanye

Beberapa hari setelah pamannya memutuskan nyaleg, satu keluarga masih terkesiap. Mereka masih belum percaya dengan keputusan yang Parman ambil. Namun yang jelas, saat itu rumah Dino mulai ramai orang datang.

“Orang-orang partai atau tim suksesnya mungkin,” kata Dino coba mengingat. Saat pamannya nyaleg, saat itu ia masih kelas 9 SMP, dan belum terlalu paham persoalan politik-politikan, katanya.

Iklan

Sebagai informasi, keluarga besar Dino: keluarganya, pamannya, hingga kakek-neneknya, berada di satu atap. Artinya, tamu Parman adalah tamu Dino juga.

Dino ingat betul, selama berhari-hari setelah pamannya memutuskan nyaleg, keluarga besarnya tak pernah akur. Ada saja pertengkaran yang terjadi antara pamannya dengan orang tuanya dan kakek-neneknya. Saat itu ia belum memahami pokok permasalahannya.

“Setelah udah ngerti, akhirnya tahu kalau masalahnya pamanku mau jual sejumlah tanah dan gunung buat modal nyaleg,” kata dia.

Jelas keluarganya menolak. Aset keluarga tadi haram buat dijual, apalagi buat modal politik. Setelah mendapat penolakan, belakangan Dino tahu kalau pada akhirnya pamannya memutuskan berhutang untuk modal kampanye.

“Yang aku tahu Rp200an juta. Itu yang benar-benar aku lihat nominalnya. Sisanya enggak tahu lagi, mungkin lebih.”

Gagal terpilih, paman Dino kena mental

Hari-hari yang mereka tunggu, yakni hari pemungutan suara, akhirnya tiba. Dan benar saja, seperti kekhawatiran keluarga besar di awal, paman Dino kalah. “Aku enggak tahu pasti berapa angkanya, tapi yang kudengar pamanku ada di paling bawah.”

Pada Pemilu 2009 lalu, perolehan suara PBB memang amat kecil. Secara nasional, mereka berada di posisi 10 dari total 38 parpol kontestan.

PBB hanya memperoleh 1,8 juta suara (1,79 persen) yang sudah tentu belum cukup untuk mendapatkan kursi di Senayan.

Sementara di Kabupaten Wonogiri, tempat paman Dino bertarung, PBB juga gagal meraih satu pun kursi dari 50 yang tersedia. Wonogiri, yang memang terkenal sebagai “kandang Banteng”, memenangkan PDI Perjuangan dengan 19 kursi di parlemen DPRD saat itu.

“Belum juga ada pengumuman, waktu itu seingatku baru ada desas desus pamanku kalah. Tapi dia sudah ngamuk-ngamuk enggak kekontrol,” ingat Dino.

Satu hal yang paling ia ingat adalah saat pamannya mulai membakar satu per satu banner di basecamp tim pemenangan. Dia juga marah-marah ke hampir semua orang, termasuk tim kampanyenya, istrinya, anaknya, dan keluarga besar lain.

“Cuma didiamkan. Kalau pamanku marah, seram. Enggak ada yang berani nanggapin.”

Caleg gagal itu mulai terkena gangguan jiwa

Berhari-hari berikutnya situasi di rumah Dino amat muram. Hampir tak ada obrolan antaranggota keluarga. Sementara pamannya hanya menghabiskan waktu untuk melamun.

Kadang saat malam tiba, pamannya terus berteriak. Awalnya hanya terjadi saat berada di kamar. Namun, lama kelamaan ia mulai teriak-teriak di teras dan pekarangan rumah sampai mengganggu tetangga.

“Kita satu keluarga takut buat menghadang. Para tetangga juga enggak ada yang berani. Paman saya seram,” kata Dino.

Para tetangga mulai membisikkan ke bibi Dino agar membawa suaminya ke dokter atau rumah sakit jiwa. Tapi sekali lagi itu hanya menjadi wacana yang tak pernah terlaksana. Berbulan-bulan selanjutnya Dino sekeluarga hanya bisa membiasakan diri dengan perilaku aneh pamannya dan omongan miring para tetangga.

Dialami banyak caleg gagal di Wonogiri

Paman Dino bukan satu-satunya caleg gagal yang mengalami gangguan jiwa. Tiap selesai perhelatan pemilu, ada banyak “pasien kejiwaan” baru yang datang ke rumah sakit. Kebanyakan dari mereka adalah para caleg gagal.

Di Wonogiri, misalnya, sejak 2009 RSU Sudiran Mangun Sumarso (SMS) telah merawat banyak caleg gagal yang mengalami gangguan jiwa. Jumlahnya memang tidak mereka ketahui secara pasti, tapi yang jelas tiap tahun terus meningkat.

Selain RSU SMS, Pondok Pesantren (Ponpes) Sunan Gunung Jati di Desa Gesing, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri juga membuka pelayanan bagi caleg stres di tiap pemilu. Mereka menawarkan konsultasi spiritual dan siap mendampingi pasien hingga pulih total.

Hampir mengakhiri hidup karena jerat utang

Sebenarnya, banyak psikiater bersepakat kalau gangguan mental yang dialami caleg gagal lebih karena rasa tidak ikhlas kalah. Kebanyakan dari mereka pada akhirnya membuat aksi-aksi spontan, seperti marah-marah, menarik bantuan yang pernah disumbang saat kampanye, hingga paling ekstrim berniat mengakhiri hidup.

Hal ekstrim terakhir, kata Dino, pernah pamannya alami. Pada 2010 lalu, utang duit kampanye yang tak kunjung terbayar, terus membebani pamannya. Alhasil, orang tuanya sering mendengar ucapan-ucapan pamannya yang bilang ingin mengakhiri hidup.

“Sampai udah sempat nulis surat, kayak surat perpisahan gitu. Tapi waktu itu bisa kita cegah,” kata Dino.

Akhirnya, keluarga besar memutuskan menjual tanah untuk menutup sebagian utang. Masih belum cukup, anggota keluarga lain juga bahu membahu membantu pamannya itu guna menyelesaikan perkara utang.

“Sekarang udah lunas, sih. Hanya saja dulu kalau enggak ngide nyaleg, mungkin hidupnya bisa lebih baik dari sekarang,” ujar Dino.

“Kalau enggak siap kalah, mending jangan nyaleg, deh. Mahal, Bro,” pungkasnya, sambil menunjukkan foto pamannya yang kini kesehariannya sibuk membantu berjualan di warung kelontong milik bibinya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

Terakhir diperbarui pada 8 Februari 2024 oleh

Tags: calegCaleg gagalgangguan jiwapemilupilihan redaksiutangwonogiri
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Urban

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
self reward.mojok.co
Ragam

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co
Ragam

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co
Urban

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

tan malaka.MOJOK.CO

Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi

6 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
bencana.MOJOK.CO

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Pembeli di Pasar Jangkang, Sleman. MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

9 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.