Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Realitas Mahasiswa dan Mahasiswi UIN, Tampak Agamis di Kampus tapi di Luar Mengerikan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
13 Oktober 2025
A A
Ilustrasi mahasiswi UIN - MOJOK.CO

Ilustrasi - Relitas mahasiswa UIN, di kampus tampil agamis tapi di luar bisa sangat liar hingga open BO. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Barangkali karena label “Islam”, mahasiswa/mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) kerap kali dianggap berkarakter agamis. Bukan dari sekadar pakaian, tapi juga laku hidup. Namun, menariknya, banyak warganet merasa kaget dengan dua kepribadian mahasiswa UIN. Di kampus memang terlihat agamis. Tapi di luar itu, belum tentu. Malah menunjukkan keliaran seperti open BO yang sampai bikin kaget mahasiswa tanpa latar belakang keagamaan kuat sekalipun.

***

Akun Instagram @dlanfadhlan banjir komentar usai mengunggah “wanti-wanti”-nya agar tidak salah sangka dengan mahasiswa UIN. Warganet yang berkomentar ternyata banyak yang mengamini.

Warganet mengaku, di lingkungan mereka, kerap melihat mahasiswi UIN yang saat di kampus tampak salehah. Tapi di luar, si mahasiswa/mahasiswi bisa berubah sama sekali menjadi sosok “solehot” (sebagai gambaran keliaran).

Beberapa bahkan mengaku tersindir. Karena memang demikian adanya: menjadi berbeda sama sekali antara di kampus dan di pergaulan (tongkrongan).

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh mmhmdfadhlan (@dlanmfadhlan)

Mahasiswa UIN tapi tak segan tidur bareng pacar

Bukan rahasia umum di kampus Garin (24), bukan nama sebenarnya, kalau mahasiswa UIN bisa memiliki pergaulan sangat bebas. Garin mengaku, sejumlah teman laki-lakinya bisa bercerita dengan leluasa kalau mereka kerap styacation bareng pacar dan melakukan aktivitas-aktivitas yang menabrak norma (agama-sosial).

“Uniknya memang, baik laki-laki maupun perempuannya tampak agamis di kampus. Tergabung di organisasi berbasis Islam. Di kelas juga fasih bicara soal narasi keagamaan,” ungkap Garin, Minggu (12/10/2025).

Kalau para perempuan, kata Garin, memang berpakaian serba tertutup dengan gamis. Tampak menjaga diri juga karena lebih sering kumpul dengan sesama perempuan ketimbang laki-laki.

“Menariknya, kebanyakan yang begitu alumni pesantren. Walaupun ada juga yang si cowok pesantren, si cewek bukan, atau sebaliknya,” ujar Garin.

Garin yang bukan merupakan alumni pesantren mengaku kaget. Pasalnya, selama ini dia mengira kalau anak-anak pesantren punya benteng pertahanan kuat atas dirinya sendiri. Tapi ternyata bisa jebol juga karena pergaulan kota besar.

Iklan

“Kagat juga. Misalnya temen-temen cowok yang alumni pesantren dan gabung organisasi Islam. Kalau omong transendental terus. Tapi ternyata meninggalkan salat atau mokel pas puasa Ramadan itu biasa,” sambung Garin.

Rahasia umum di jagat open BO

Garin membenarkan bahwa di sejumlah UIN, ada mahasiswa/mahasiswi yang menjadi pengguna jasa open BO/penyedia jasanya.

Mojok berbincang dengan Anima (25), alumni UIN yang dulu kerap mencicipi dunia malam tersebut.

Anima bukan dari pesantren—sebagaimana kebanyakan mahasiswa UIN. Hanya memang dia tumbuh di lingkungan keluarga yang terbilang agamis. Ketat pula dalam urusan pergaulan.

Awal-awal kuliah pun Anima mencoba manjaga diri baik-baik. Sampai akhirnya dia mengenal layanan open BO.

“Ibadah tetep, salat, puasa. Tapi memang kalau malam online di aplikasi hijau. Aku nggak mungkin minta uang ke orangtua misalnya buat skincare dan lain-lain. Uang dari open BO itu ya buat beli barang-barang itu, iPhone dan lain-lain,” katanya.

“Bisa kasih orangtua juga. Bilangnya aku kuliah sambil kerja,” sambungnya.

Lambat-laun, Anima bahkan tahu, ternyata dia tidak sendiri. Ada juga mahasiswi UIN lain yang menjadi penyedia jasa open BO. Yang dia kaget, beberapa ternyata dulunya anak pesantren.

“Aku sejak lulus kuliah sudah berhenti, sudah ada pekerjaan lain. Aku masih menjaga penampilan, hijab dan tertutup. Tapi ada anak pesantren yang sekarang jadi lepas semua, serba terbuka, dan masih ada di dunia itu (open BO),” begitu pengakuan Anima.

Mahasiswa UIN hanya identitas akademik

Garin menyebut, mahasiswa/mahasiswi UIN sekalinya saleh memang bisa saleh banget. Tapi kalau sudah terjerumus, bisa terjerumus sedalam-dalamnya.

Dulu dia bisa melihat sendiri, sepasang mahasiswa UIN ternyata bisa sangat leluasa boncengan sambil berpelukan. Pacaran di tempat gelap juga biasa. Berkontak fisik—yang bukan sekadar salaman—juga tampak lumrah.

Merespons pengakuan Garin dan akun Instagram @dlanfadhlan, Zein (23) dan Arin (23)—mahasiswa akhir UIN—mencoba memberi penjelasan.

Bagi keduanya, tidak seharusnya mahasiswa UIN dibebani label “agamis” hanya karena kata “Islam”. Sebab, tidak dimungkiri, tidak seluruhnya mahasiswa UIN itu berangkat dari pesantren atau minimal latar belakang keluarga agamis. Heterogen.

“Cara pandangnya, UIN itu hanya identitas akademik. Urusan kepribadian seseorang nggak ada hubungannya dengan itu. Itu pilihan dan cara hidup personal,” tegas Zein dari sudut pandang laki-laki.

“Kalau aku begini, kasus semacam itu kan sebenarnya bisa juga ditemui di kampus lain non-UIN. Cuma, itu menjadi heboh karena label “UIN”. Padahal sebenarnya sama saja di kampus-kampus umum,” kata Arin dari sudut pandang perempuan.

Apalagi jika yang dipermasalahakan adalah soal outfit: di kampus salehah, di luar salehot. Bagi Zein dan Arin, itu adalah ekspersi berpakaian saja. Justru sudah tepat: Pilihan pakaian tertutup ya saat di kampus karena azas kesantunan. Sementara pakaian terbuka dipakai di luar kampus karena sudah lepas dari ikatan kesantunan kampus.

Justru menjadi masalah ketika berpakaian terbukanya saat di kampus. Toh, paling tidak banyak yang bisa menempatkan diri: Kalau mau bermesraan dengan pacar ya di jam-jam di luar perkuliahan.

Menebus kebebasan (1)

Kala pertama kuliah di UIN, Puspa (22), nama samaran, mengaku agak kagok. Pasalnya, dia melihat dua kutub yang bisa berseberangan sama sekali. Satu kutub agamis ketat, satu kutubnya lagi cenderung bebas.

Momen kuliah itu pada akhirnya menjadi momen Puspa berani tampil berbeda atas pilihannya sendiri: Lepas hijab di tongkrongan dan tak terlalu risih berkontak fisik dengan lawan jenis (pacarnya).

“Termasuk pacaran, ternyata bisa bebas dijemput dan boncengan. Dulu di pondok, rasanya terkekang di sisi itu,” ujar Puspa.

“Sesekali buka hijab pas nongkrong itu karena suatu kali aku bercermin. Ternyata kalau tanpa hijab dan ganti style yang nggak serba tertutup, aku merasa lebih cantik,” sambungnya.

Kendati begitu, Puspa memagari dirinya untuk setidaknya dua hal. Pertama, terbuka bukan berarti bisa bergaul sebebas-bebasnya hingga berbuat zina. Kedua, dia tetap menjaga ketaatan dalam perkara-perkara wajib seperti salat, puasa Ramadan, dan lain-lain.

Menebus kebebasan (2)

Fahri (23), nama samaran, pun nyaris serupa. Dulu di pesantren dia mengaku segalanya bersifat dogmatis. Dia tidak punya ruang untuk mempertanyakan banyak hal, termasuk menguliti eksistensi diri sendiri.

Alhasil, ketika kuliah, walaupun menjadi mahasiswa UIN, dia merasa bisa menebus kebebasan. Bagi Fahri, zaman sudah berubah. Ada hal-hal yang dianggap tak wajar di pesantren tapi kenyataannya biasa saja di perkotaan.

“Misalnya, pelukan dengan lawan jenis. Ternyata di kota biasa saja,” katanya.

“Kalau candaan anak pesantren, misalnya dosa, ya nggap apa-apa, kan sudah tahu caranya taubat hahaha,” lanjutnya dengan gelak tawa.

Tapi intinya, bagi Fahri, urusan moralitas harusnya jadi urusan personal nantinya dengan Tuhan. Karena menjadi bebas adalah pilihan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kuliah UIN: Awalnya Merasa Keren Pinter Teori, Lulus Baru Nyesel karena Nol Keterampilan Kerja hingga Usul Jurusan UIN yang Baiknya Dihapus Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2025 oleh

Tags: mahasiswa open bomahasiswa staycationmahasiswa UINopen BOpergaulan bebaspergaulan bebas mahasiswastaycationuinuniversitas islam negeri
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO
Edumojok

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO
Edumojok

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

29 Maret 2026
Mahasiswa Malaysia menyesal kuliah di Universitas Islam Negeri di Indonesia. Lulusan UIN mentok gitu-gitu aja MOJOK.CO
Edumojok

Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu”

26 Maret 2026
Ortu dihina karena miskin. Anak kuliah sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UIN buktikan lulusan PTN ecek-ecek malah hidup lebih terhormat MOJOK.CO
Edumojok

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Anak Kuliah di UIN, Dicap PTN Ecek-ecek tapi Lulus Punya Karier Lebih Terhormat

25 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi

30 Maret 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.