Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Ironi di Kampus Surabaya, Mahasiswa Kritis dan Suka Tanya malah Dibenci padahal Cuma Pengin Serius Cari Ilmu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
14 Oktober 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Apa yang salah dari suka bertanya di kelas saat perkuliahan? Itu lah pertanyaan yang mengganjal dan membuat seorang mahasiswa di sebuah kampus Surabaya overthinking berhari-hari.

***

Sejak semester 1 hingga sekarang masuk semester 5, Aqil (22) memang suka bertanya dalam setiap perkuliahan. Pada dasarnya, dia memang suka berdiskusi.

Dia terbilang cukup rutin mengikuti beragam kajian. Entah di kampus maupun di luar kampus. Kajian apa pun, asal tidak ada agenda tabrakan, Aqil pasti akan datang. Di sana dia akan menyimak dengan serius, lalu Menyusun beberapa pertanyaan yang akan diajukan.

“Begitu juga pas di kelas. Kalau ada teman kelas presentasi, aku akan menyimak serius. Walaupun sering kali mahasiswa yang presentasi itu cuma baca doang, nggak ngasih penjelasan,” ujar mahasiswa Ilmu Politik sebuah kampus di Surabaya itu, membagikan ceritanya kepada Mojok, Jumat (11/10/2024) lalu.

Decakan sinis saat aktif bertanya di kelas kampus Surabaya

Aqil mulai merasa banyak temannya, mahasiswa di kampus Surabaya, sinis dengannya yang suka bertanya di kelas sejak memasuki semester 2.

Sering kali saat Aqil mengacungkan tangan, dia mendengar suara decakan sinis. Khususnya dari kalangan mahasiswa perempuan. Awalnya hanya decakan tipis, namun hingga semester-semester berikutnya, decakan itu terdengar seperti sengaja dikeraskan.

“Kadang ada juga yang nyeletuh, ‘Hash!’,” ucap Aqil.

Apalagi jika Aqil merasa kurang puas dengan jawaban mahasiswa yang presentasi atau dosen. Sebab, dia akan terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan susulan agar pertanyaannya betul-betul terjawab.

Dianggap caper dan menyusahkan teman presentasi

Ada teman Aqil di kampus Surabaya tersebut yang akhirnya memberi tahu Aqil, bahwa dia kerap jadi bahan rasan-rasan banyak mahasiswa di jurusannya.

Mereka menyebut Aqil cari muka aja di depan para dosen. Jika terlihat pintar, maka dia tidak hanya bakal mendapat nilai bagus. Tetapi juga ada potensi untuk menjadi lebih dekat dengan para dosen.

Lantas, apa yang salah dari itu? Aqil tak habis pikir. Bahkan dekat dengan dosen saja jadi masalah.

“Ada juga yang bilang pertanyaanku itu terlalu kritis dan ngilmiah, jadi kesannya mempermalukan mahasiswa yang presentasi,” ungkap mahasiswa asal Madura tersebut dengan nada getir.

Tak ingin suasana kelas di kampus Surabaya jadi krik-krik

Aqil punya sederet alasan kenapa dia begitu aktif bertanya di kelas dan konsisten suka diskusi hingga saat ini. Dari alasan paling remeh dulu: Aqil merasa suasana kelas tak terlalu hidup, tak mencerminkan kampus sebagai wilayah intelektual.

Iklan

“Misalnya, ada dosen yang sudah serius-serius mendampingi di kelas, tapi mahasiswa nggak aktif, dosen sampai tanya ‘Masa nggak ada yang ditanyakan?’, terus semua diam membisu,” keluh Aqil.

Di sinilah Aqil mengambil posisi sebagai “martir”. Demi suasana kelasnya menjadi hidup dan dosen tak kecewa, dia selalu menyiapkan pertanyaan.

Mungkin terdengar sebagai pertanyaan rumit bagi mahasiswa lain. Tapi justru itu, agar si dosen bisa memberi wawasan baru kepada mahasiswa di kelasnya di kampus Surabaya itu.

Tak ingin kuliah sia-sia

Dari yang sering Aqil dengar, dia disebut sebagai mahasiswa ndakik-ndakik yang suka fafifu wasweswos. Aqil tentu merasa agak terganggu. Itu pula yang membuatnya belakangan ini makin overthinking.

Dia bahkan mulai berpikir untuk berhenti menjadi mahasiswa yang kritis dan suka bertanya di kelas. Dia ingin ikut diam, sebagaimana yang teman-teman di kampus Surabaya inginkan.

Akan tetapi, setelah ngobrol dengan temannya sebagai sesame mahasiswa penyuka diskusi, Aqil mau memilih tutup telinga. Aqil menyadari bahwa dalam masa kuliah di kampus Surabaya ini dia sedang dalam fese haus intelektual.

Oleh karena itu, mumpung ada kesempatan, dia akan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya, dengan tekun berdiskusi: entah di kelas atau di ruang-ruang lain.

“Ya kan orangtuaku menguliahkanku buat cari ilmu. Masa orang tua udah bayar, udah mengeluarkan uang banyak buat kehidupanku di Surabaya, tapi di sini aku malah malas-malasan, nggak suka sama ilmu,” tutur Aqil.

Dia percaya, bekal intelektual yang sedang dia kumpulkan selama di kampus Surabaya tersebut kelak bakal berguna. Dia percaya betul bahwa orang berilmu hidupnya tidak akan pernah disia-siakan oleh Tuhan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Cerita Mahasiswa Jogja “Kabur” dari Sidang Skripsi, Tak Rela jika Skrispinya Berujung Jadi Tumpukan Kertas Tanpa Guna

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2024 oleh

Tags: kampus jawa timurkampus negeri surabayakampus surabayakampus swasta surabayakampus terbaik surabayaMahasiswamahasiswa suka bertanya di kelasmahasiswa surabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tabungan penting, tapi mahasiswa Jogja yang masih harus irit demi makan kesulitan menabung
Sehari-hari

Tabungan Itu Penting, Tapi Mahasiswa Jogja yang Masih Harus Gali Lubang Tutup Lubang Demi Makan Mana Bisa

10 Februari 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO
Edumojok

Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP

7 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO
Esai

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.