Cerita Mahasiswa Jogja “Kabur” dari Sidang Skripsi, Tak Rela jika Skrispinya Berujung Jadi Tumpukan Kertas Tanpa Guna

Cerita Mahasiswa Ilkom Kampus Swasta Jogja Pilih Nggak Berangkat padahal Sidang Skripsi di Depan Mata MOJOK.CO

Padahal tinggal sidang skripsi, tapi Adhi (23), mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ilkom) di salah satu kampus swasta Jogja memilih untuk tidak datang ke kampus. Meskipun skripsi yang ia kerjakan sebenarnya sudah memenuhi syarat untuk disidangkan.

***

Senin (19/8/2024) pagi WIB, Adhi seharusnya berangkat ke kampus untuk menghadap dosen penguji. Tapi ia dengan santai memilih berangkat ke kantornya di Ngaglik, Sleman.

Dengan santai pula ia bercerita kepada rekan-rekan kerjanya kalau ia mengambil keputusan tersebut dengan sadar dan sengaja.

Lah kos iso? (Lah kok bisa?).”

“Di luar sana banyak mahasiswa yang pengin segera lulus. Kamu malah mangkir dari sidang skripsi.”

“Apa yang kamu pikirkan ,sidang skripsi yang sudah di depan mata malah kamu tinggalkan?”

Kira-kira begitulah respons rekan-rekan kerja Adhi usai mendengar ceritanya. Wajah mereka melongo: tak habis pikir. Lebih-lebih saat tahu alasan Adhi, mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.

Sungguh tidak ada alasan konyol misalnya bangun kesiangan, info dadakan, dan lain-lain. Adhi memang sengaja tidak mengikuti sidang skripsi.

“Email (informasi sidang skripsi) dari dosen pembimbing masuk Jumat malam lalu. Cuma aku baru cek Minggu tengah malam. Sebenarnya ya nggak dadakan juga. Tapi aku punya alasan,” terang Adhi saat saya temui Rabu (21/8/2024) sore WIB di tempat kerjanya.

Kuliah dan skripsi yang sebenarnya gampang-gampang aja

Adhi kuliah Ilkom di kampus swasta Jogja pada 2019. Artinya saat ini ia semester 10, nambah semester 11 lantaran tak jadi sidang skripsi.

Saat lulus SMA di Wonosobo, Adhi sebenarnya mendaftar dua kampus negeri di Jogja. Ia awalnya mengincar jurusan Seni Rupa. Sayangnya, ia tidak keterima di dua kampus negeri incarannya tersebut.

“Aku lalu cari opsi kampus swasta. Karena aku harus langsung kuliah, nggak boleh gap year sama orang tua. Biar proses kuliah juga bisa cepet,” ungkap Adhi.

Dari hasil penelusuran di internet, Adhi lalu menemukan review bagus dari salah satu kampus swasta Jogja.

Tanpa ragu ia kemudian memilih kampus swasta Jogja tersebut. Ia memilih megambil Ilkom. Karena ia mulai berpikir ulang, urusan seni rupa, ia bisa mengembangkan sendiri. Sementara ia perlu belajar mengenai hal-hal digital untuk bagaimana nanti memasarkan produk seni rupa yang ia kembangkan.

“Aku nggak menemukan kesulitan sih selama kuliah di Ilkom kampus swasta Jogja tersebut. Karena memang aku seneng, ada pelajaran yang aku pengin dapat,” kata Adhi.

“Selama kuliah nggak ada kendala. Nilaiku juga aman-aman. Ada lah matkul yang susah, tapi overall nggak nemu masalah,” imbuhnya.

Tak mau skripsi hanya sekadar formalitas

Sebelum mengajukan judul skripsi pada 2023—saat semester 8—Adhi mengaku punya keresahan dengan model skripsi di kampusnya yang hanya sekadar formalitas. Skripsi yang hanya selesai sebagai skripsi. Tidak menghasilkan produk atau kebermanfaatan konkret.

“Prodiku (Ilkom) kan banyak tugas praktik. Bikin film, bikin media, dan itu ada loh yang jadi serius, bukan sekadar berhenti sebagai tugas,” tutur Adhi.

“Tapi kenapa produk itu nggak jadi penilaian buat lulus? Masa cuma bentuk skripsi teks saja?” sambungnya dengan sorot mata penuh tanya.

Oleh karena itu, Adhi menghendaki agar skripsinya, sebelum disidangkan, rampung dalam kondisi maksimal. Tidak hanya bentuk teks yang selesai sidang ya selesai. Tapi harus ada kelanjutannya.

Bagi Adhi, mahasiswa yang lulus kuliah harus bisa mengamalkan ilmunya. Oleh karena itu, sangat tidak praktis jika skripsi hanya mandeg pada teks.

“Jarang ada yang bikin skripsi mempertimbangkan: ini manfaat atau tidak buatnya setelah lulus kuliah. Pikirannya cuma yang penting sidang,” ujar mahasiswa Ilkom kampus swasta Jogja tersebut.

“Skripsi itu harusnya bisa bantu kamu pada urusan setelah kuliah,” tambahnya.

Baca halaman selanjutnya…

Tak mau skripsi berujung nggak guna

Terakhir diperbarui pada 4 September 2024 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.