Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Mahasiswa Asal Surabaya Nekat Kuliah di Iran, Rasakan Negara yang Dicap “Mengerikan” Ternyata Membuat Nyaman, Hidup Sebulan Modal 500 Ribu

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
30 April 2024
A A
mahasiswa surabaya kuliah di iran.MOJOK.CO

Ilustrasi mahasiswa Surabaya kuliah di Iran (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebelum berangkat saja ke Iran, sudah banyak tentangan yang didapat dari orang sekitar. Utamanya, karena mayoritas penduduk negara itu Syiah. Namun, lelaki asal Surabaya justru membuktikan bahwa anggapan banyak orang tentang Iran tak semuanya benar.

***

Syahrul Ramadan (29), sudah setahun setengah tinggal di Tehran, ibukota Iran. Lelaki asal Surabaya ini menemukan banyak hal yang mematahkan ekspektasinya.

Meski berada di antara negara-negara yang berkonflik, selama tinggal di Tehran ia mengaku tak pernah merasakan ketegangan. Kota itu, baginya punya infrastruktur yang menarik. Pembangunan ada di mana-mana. Taman di berbagai sudut kota.

“Intinya, walaupun dibilang diembargo sama Amerika, ternyata kok maju begini. Fasilitas publiknya juga memadahi,” tuturnya saat Mojok wawancarai Selasa (30/4/2024).

Keputusan merantau tinggalkan seorang anak dan istri ini ia ambil dengan pertimbangan panjang. Sejak masih duduk di bangku SMA berbasis pesantren Muhammadiyah, ia mengaku sudah membaca sejumlah karangan tokoh dari Iran.

“Aku baca beberapa karya Ali Syariati, tokoh revolusi Islam di Iran. Menariknya, ada bukunya dengan pengantar dari Amien Rais yang tokoh Muhammadiyah,” katanya antusias.

Ketika kemudian lanjut berkuliah di UIN Surabaya, lebih banyak lagi buku pemikiran Ali Sariati dan tokoh Islam Iran lain yang ia baca. Ketertarikannya untuk menempuh studi di sana kemudian muncul.

Ia sempat terpikir untuk mencari beasiswa S2 kuliah di Iran. Namun, mengingat masih banyak urusan organisasi dan kerja di Surabaya ia memutuskan untuk menundanya. Syahrul kemudian lanjut S2 di dua kampus sekaligus yakni di UIN Sunan Ampel Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Namun, keinginan untuk kuliah di Iran itu memang tak banyak ia bicarakan ke orang sekitar. Sebab, Iran, bagi banyak kalangan Islam merupakan negara yang tabu. Memilih studi di sana yang Islamnya berbasis Syiah dianggap tak wajar.

Banyak yang menentang saat hendak berangkat dari Surabaya menuju Iran

Pada Agustus 2020 silam, akhirnya Syahrul menuntaskan S2. Selepas itu, ia mulai mencari beasiswa doktoral di Iran.

Selama sedang mempersiapkan beasiswa, ia meminta izin ke istrinya, yang beruntungnya memang terbuka dan mengerti cita-cita besar sang suami. Namun, kepada kedua orang tuanya, Syahrul tidak meminta izin dahulu sebelum diterima.

“Akhirnya sampai dapat beasiswa di Mustafa Intertional Univeristy studinya Pemikiran Islam,” ucapnya.

Bapaknya, meski agak berat tetap memberikan restu. Sementara ibunya, sempat berharap Syahrul mengurungkan niatnya kuliah di Iran. Bukan karena melarang studi ke luar negeri tapi lebih ke negara yang ia pilih. Stigma tentang Iran memang banyak dirasakan orang Indonesia. Kebetulan, kedua orang tua Syahrul juga aktif di organisasi Muhammadiyah.

Iklan

“Akhirnya, aku mencoba meyakinkan orang tuaku dengan cara meminta restu ke beberapa tokoh Muhammadiyah. Jika tokoh-tokoh ini tidak memberikan respons positif, maka orang tuaku akan ngikut,” kenangnya.

Syahrul lalu menghubungi beberapa tokoh Muhammadiyah seperti Prof Syafiq Mugnif hingga Prof Din Syamsyudin. Semuanya, menurut Syahrul, memberikan respons positif. Sudah jarang, ada kader Muhammadiyah yang studi di Iran.

“Meski begitu, pas cerita ke beberapa teman, mereka pada kaget. Ya ada juga yang tanya ‘mau cari apa di Iran’,” kata Syahrul.

Bagi teman-teman yang sekadar nyeletuk saja, ia akan menjawab ala kadarnya. Jelas, ia ingin studi. Namun ia akan berkelakar, “mau cari kopi enak” hingga “mau cari hiburan”. Tetapi, bagi teman-teman yang memang ingin diskusi, ia terbuka untuk memberikan jawaban panjang lebar.

Upaya mematah stigma banyak orang dengan kuliah di Iran

Bagi mereka yang meragukan, lelaki asal Surabaya ini justru ingin membuktikan bahwa sepulang dari Iran ideologinya tak berubah. Tidak lantas menjadi Syiah walaupun tentu akan mempelajarinya di dalam perkuliahan.

Setelah setahunan di sana, nyatanya ia justru mengaku kecewa. “Kecewa karena tidak ada doktrin Syiah yang aku rasakan. Memang, saat diskusi ada pemaparan soal bagaimana pandangan ulama Syiah mengenai suatu hal, tapi hal semacam itu lumrah di berbagai kampus,” paparnya.

Sebelum berangkat, ia sering membaca tulisan di internet yang menyatakan orang Sunni kerap dapat diskriminasi selama di Iran. Sejauh ia berkuliah di sana, tak ada pengalaman maupun menyaksikan situasi semacam itu.

dari surabaya kuliah di iran.MOJOK.CO
Syahrul di salah satu sudut Kota Tehran (Dok. Syahrul)

Di Tehran, ia juga masih bisa menemukan masjid berbasi Sunni. Bahkan, Syahrul kemudian menjadi Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Iran.

“Aku sering ketemu dosen dan memperkenalkan latarbelakangku sebagai orang Muhammadiyah dari Indonesia. Mereka senang bahkan sering membantu,” katanya.

Ia mendapati berbagai aliran Islam dan agama lain bisa hidup berdampingan dengan masyarakat Syiah Iran. Di sana juga ada sinagog berdiri, padahal, Iran merupakan salah satu pengecam terdepan Israel.

Cukup hidup bermodalkan 500 ribu per bulan

Selain itu, hal yang membuatnya kerasan adalah biaya hidup yang relatif terjangkau. Beasiswa selama kuliah di Iran yang Syahrul dapat mencakup biaya pendidikan, fasilitas asrama, dan uang saku bulanan sebesar 15 juta Rial Iran atau 1,5 juta Toman. Nominal tersebut setara dengan Rp580 ribu kurs terkini.

Jumlah yang terbilang sangat sedikit untuk hidup sebagai mahasiswa di Indonesia sebulan. Namun, menurut Syahrul uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Di sini biaya kebutuhan hidup murah. Mungkin karena kemandirian negaranya, mengingat situasi embargo Amerika Serikat,” katanya.

Kehidupan di Tehran, Iran menurut perantau asal Surabaya ini memudahkannya sebagai orang asing. Infrastruktur transportasi mulai dari kereta bawah tanah hingga bus kota cukup memadahi meski kebanyakan orang menggunakan mobil pribadi.

Oh iya, itu jadi salah satu hal menarik yang ia temui. Di mana-mana orang punya mobil pribadi. Bahkan, ketika berinteraksi dengan seorang satpam, ternyata penjaga kampusnya itu kemana-mana menggunakan mobil pribadi.

Setahunan tinggal di Iran, membuatnya nyaman. Di sana, selain Syahrul, ada lebih dari seratus mahasiswa asal Indonesia yang tersebar di beberapa kota seperti Tehran dan Qom.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Cerita Orang Jogja yang Kuliah di Ohio: Amerika yang Biasa Saja, Sengsara Tanpa Gojek, dan Ngerinya Hidup di Tengah Pemegang Pistol

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2024 oleh

Tags: IranIslamkuliah di iranmustafa international universitySurabayauin surabaya
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO
Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO
Esai

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
outfit orang Surabaya Utara lebih sederhana ketimbang Surabaya Barat. MOJOK.CO
Ragam

Kaos Oblong, Sarung, dan Motor PCX adalah Simbol Kesederhanaan Sejati Warga Surabaya Utara

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Cara wujudkan resolusi 2026 dengan finansial yang baik. MOJOK.CO

Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026

19 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.