Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Jembatan Suramadu Menyelamatkan Orang Surabaya yang Kuliah di UTM, meski Harus Bergelut dengan Kejahatan Setiap Saat

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
15 Agustus 2025
A A
Jembatan Suramadu penyambung Surabaya dan Madura berguna bagi mahasiswa UTM. MOJOK.CO

ilustrasi - Jembatan Suramadu kala senja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jembatan Suramadu adalah jalan andalan bagi Fitri (22) untuk pulang-pergi dari kampusnya Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ke Surabaya. Namun, ada satu “pantangan” dari keluarganya agar tidak sering-sering lewat jalan tersebut ketika sendiri. Dan benar saja, saat pantangan itu dilanggar, Fitri pernah mengalami kejadian yang membuatnya parno.

Lewat Jembatan Suramadu harus siap mental

Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) tentu tak asing dengan istilah “lewat daerah timur kampus” yakni jalanan dari UTM ke Jembatan Surabaya. Beberapa kilometer untuk sampai ke mulut jembatan layang, Fitri harus melewati jalanan sepi lebih dulu. 

Awalnya, ia memang lewat perkampungan yang masih ramai, tapi setelah itu suasananya langsung berubah. Ia harus melewati sawah-sawah dengan lampu penerangan yang minim, bahkan bisa dibilang tidak ada.

“Di sana itu jarang banget ada rumah. Ada pun itu cuma satu dua. Memang sih ada kampung, tapi kampungnya itu kayak menjorok ke dalam,” kata Fitri kepada Mojok, Rabu (13/8/2025). 

Saat hari sudah sore, Fitri biasanya tak mau pulang sendiri karena suasananya yang sepi tadi. Ia takut mengalami kejadian macam-macam seperti begal yang memang marak terjadi di Bangkalan, Madura.

Orang tuanya juga sering mengingatkan agar pulang tidak terlalu sore karena jalanan malam di Jembatan Suramadu terkenal berbahaya. Terlebih, karena angka kriminalitas di sana yang terus meningkat.

Beberapa laporan dari masyarakat menyebut, mereka pernah mengalami pencurian kendaraan bermotor hingga begal, bahkan dengan modus baru seperti senar pancing. Alhasil, jika hari sudah terlalu sore, Fitri selalu mengajak teman-temannya yang berasal dari luar kota untuk pulang bersama.

“Aku biasanya nganterin temanku yang dari Pasuruan dan Jombang ke stasiun. Jadi aku kasih tumpangan motor ke mereka,” ucapnya.

Diikuti dari belakang

Tentu saja, Fitri tak bisa mengajak temannya setiap hari. Temannya pun tidak pulang kampung setiap saat. Kebanyakan dari mereka sudah ngekos di sekitar kampus. Sementara Fitri harus pulang-pergi dari UTM, Madura ke Surabaya. Dan satu-satunya jalan tercepat bagi pengendara motor adalah Jembatan Suramadu.

Pernah suatu hari Fitri tidak pulang ke rumah dan memutuskan menginap di kos temannya karena hari sudah malam. Sebagai mahasiswa akhir, ia kerap membantu dosennya melakukan riset dan penelitian bersama hingga pukul 00.00 WIB.

“Aku takut banget. Mau naik kapal pun nggak bisa karena sudah lewat di jam terakhir. Kapal terakhir itu pukul 18.00 WIB,” kata Fitri.

Akhirnya, Fitri memutuskan untuk pulang pagi-pagi sekali dari Madura. Tapi tetap saja, baik pagi maupun malam, suasana Jembatan Surabaya tak jauh berbeda. Ia mengaku pernah diikuti orang bahkan sebelum tiba di mulut Jembatan Surabaya.

“Aku akhirnya pulang sendiri lewat daerah timur kampus tadi. Terus di pertengahan jalan, aku tuh ngerasa diikutin. Aku lihat dari spion ada pengendara motor lain yang terus ngikutin,” kata Fitri.

“Waktu motorku aku pelanin, ternyata dia juga ikut pelan padahal aku sudah kasih ruang. Karena aku takut, jadinya aku langsung kencengin motorku sampai aku ketemu truk terus aku salip,” lanjutnya.

Iklan

Beruntung, kejadian itu tak sampai membuat Fitri celaka. Hanya saja ia merasa parno saat lewat jalan itu lagi. 

Pemerintah dianggap tutup telinga

Saking rawannya Jembatan Suramadu, beberapa masyarakat sampai mengusulkan agar jembatan yang dibangun pada 2003 itu dirobohkan saja. Bahkan ada yang sampai membuat titik “Akses Maling” di Google Map.

Fitri sendiri tak sepakat jika jembatan itu benar-benar dirobohkan. Sebab, jembatan itu membantunya menuju UTM, Bangkalan dari Surabaya. Paling tidak, ia berharap kalau aparat keamanan dapat rutin melakukan patroli dan menindak tegas pelaku yang melakukan kejahatan di Jembatan Suramuda, agar muncul efek jera.

Pasalnya, sejak jembatan itu dibuka bebas, kriminalitas di sana justru meningkat. Masyarakat pun makin geram karena permasalahan tersebut tak kunjung tuntas.

“Bolak-balik kejadian dan terbukti. Lalu, tindakan lebih lanjut dari pihak aparatur keamanan apa?” ujar akun Instagram @yun***.

“Sudah jelas banyak kejadian dan mungkin laporan tindak kriminal. Polisinya pada kemana? Apa nggak ada pengintaian dan patroli setiap saat?” ujar @den***.

“Pemerintah daerah dan pusat saja acuh tak acuh dan cuek mendengar ini,” ujar @had***.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bagi Kami para Akamsi Pantai Kenjeran adalah Sebaik-baik Tempat Menenangkan Diri, Meski Banyak Begal dan Pungli atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2025 oleh

Tags: bangkalanJembatan Suramadukampus UTMMaduramahasiswa UTMSurabayauniversitas trunojoyo madura
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)
Pojokan

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)
Pojokan

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Kereta api ekonomi (KA) Ambarawa Ekspres menjadi saksi "kegilaan" Bonek di rute Grobogan - Stasiun Pasarturi demi Persebaya Surabaya di Stadion GBT MOJOK.CO
Urban

KA Ambarawa Ekspres Andalan Bonek Tempuh “Jalan Kegilaan” di Rute Grobogan – Pasarturi, Demi Ziarah ke Rumah Kedua

6 Maret 2026
Ilustrasi Honda Vario Sumber Derita dan Bikin Gila di Jalanan Surabaya (Wikimedia Commons)
Pojokan

Honda Vario Adalah Motor yang Paling Menderita di Surabaya: Mesin Loyo Itu Sengsara Dihajar Jalan Rusak

6 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.