Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Kuliah S2 Cuman Bikin Mental Breakdown, Nggak Kuat Diajak Diskusi yang Berat-berat sampai Revisi Tesis Berulang Kali

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
24 September 2025
A A
Mahasiswa UGM batal lulus kuliah S2 karena ADHD. MOJOK.CO

ilustrasi - gagal kuliah S2 karena ADHD. (Ega Fansuri/Mojok.co).

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sometimes you win, sometimes you learn. Kalimat itu menjadi pegangan kuat bagi Audi (29) saat ia gagal menyelesaikan kuliah S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan didiagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

***

Selama ini, Audi merasa tak ada yang salah dalam hidupnya. Perempuan asal Pontianak itu sehari-hari menjalani aktivitas kuliah S1-nya seperti biasa. Seperti berdiskusi, presentasi, aktif bertanya saat di kelas, bahkan menjadi salah satu mahasiswa yang berprestasi.

Selain itu, Audi juga tak hanya fokus pada kegiatan akademik tapi aktif mengikuti kegiatan organisasi. Ia mengaku sangat menyukai proses belajar di kampus, serta menemukan dosen dan teman-temannya yang satu frekuensi.

Namun, tiba-tiba konsentrasinya buyar saat Audi melanjutkan kuliah S2. Perjalanannya mengerjakan tesis adalah titik balik di mana ia menyadari ada yang salah dengan tubuh dan jiwanya. Pada akhirnya, Audi tak bisa menyelesaikan kuliah S2-nya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ibarat jatuh tertimpa tangga, dokter juga mendiagnosisnya terkena Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Lolos tes masuk kuliah S2 di UGM

Kecintaan Audi pada belajar mendorongnya untuk melanjutkan kuliah S2 di UGM. Orang tuanya juga mendukung penuh keputusan tersebut. Audi berharap setelah lulus dan mendapat gelar magister nanti, peluang kariernya bisa lebih luas.

Dengan kuliah S2 juga, kata Audi, ia berkesempatan untuk bertemu orang-orang hebat dan memperluas perspektifnya. Apalagi di UGM, yang notabenenya adalah kampus terbaik peringkat pertama di Indonesia.

“Semasa saya kuliah S1, ada banyak buku referensi yang ditulis oleh dosen-dosen dari Akuntansi UGM,” kata Audi kepada Mojok, Senin (22/9/2025).

Proses Audi masuk UGM pun susah-susah gampang. Pada tahap pertama seperti seleksi berkas yang berisi TOEFL, PAPs UGM, tes validasi kompetensi atau tes akuntansi tertulis, Audi mengaku tak ada kendala. 

Padahal, ia sempat khawatir dengan nilai TOEFL dan PAPs-nya. Ternyata, saat hasilnya keluar malah melebihi ekspektasinya. Hal itu membuat Audi yang sebelumnya minder karena berasal dari daerah, jadi lebih percaya diri kuliah S2 di UGM.

“Karena saya hanya lulusan S1 dari kampus yang kurang terkenal di daerah, sementara saingannya banyak yang dari universitas besar,” kata Audi.

“Tapi ternyata hasilnya cukup baik, dan saya diterima. Itu rasanya seperti pencapaian besar dalam hidup saya, semacam validasi bahwa saya mampu,” lanjutnya.

Setelah menjalani beberapa tes, barulah Audi masuk kelas matrikulasi selama sekitar 4 bulan atau satu semester. Usai berhasil menjalani program pembekalan tersebut, Audi pun dinyatakan lolos sebagai mahasiswa reguler.

Gagal menyelesaikan tesis

Mulanya, Audi tak menemukan kendala yang berarti di awal perkuliahan. Sampai ia merasa kesulitan di semester pertengahan terutama saat mengerjakan tesis. Bukan karena dosen atau topik tesis yang ia ambil, tapi gejala sakit dalam tubuhnya.

Iklan

“Dosen pembimbing saya sangat baik dan sabar, tapi komunikasi kami kurang nyambung. Saya kesulitan memahami apa yang beliau maksud. Setiap kali revisi ditolak, rasanya membekas,” kata Audi.

Bahkan penolakan sekecil apapun itu, berdampak besar terhadap pola pikirnya. Setiap kali mendapat revisi dari dosennya, Audi merasa bukan hanya tulisan dia yang salah tapi sebagai pribadi yang gagal.

Fokusnya pun buyar. Ia gampang sekali terdistraksi, sering menunda, dan kesulitan mengeksekusi ide. Lama-lama, Audi merasa progresnya tertinggal jauh. Rasa percaya dirinya kian runtuh.

Belakangan, Audi baru sadar jika dirinya mengalami Rejection Sensitive Dysphoria (RSD) yakni rasa sakit emosional yang intens dan parah karena penolakan, kritik, atau kegagalan. Puncaknya ketika pihak kampus menyarankan dia mengundurkan diri dari kuliah S2.

“Itu keputusan paling berat dalam hidup saya, karena saya tahu sebenarnya saya mampu–hanya saja cara kerja otak saya saat itu tidak sejalan dengan tuntutan akademik tesis,” jelas Audi.

Tidak apa untuk menyerah

Rupanya, keputusan Audi mundur dari kuliah S2 di UGM tak langsung menyelesaikan masalahnya. Saat Audi kembali dihadapkan dengan pekerjaan yang rumit, gejala RSD-nya masih kumat bahkan tidak mereda.

“Dari situ saya mulai mencari tahu apa yang terjadi pada diri saya. Saya menjalani tes  Automated Storage and Retrieval System (ASRS) dan serangkaian pemeriksaan dengan psikolog. Sampai akhirnya mendapat diagnosis ADHD tingkat sedang,” tutur Audi.

Mendengar diagnosis tersebut, ada perasaan kesal yang memenuhi hatinya. Seandainya ia mengetahui kondisi dirinya lebih awal, kata Audi, tentu hidupnya tak akan dipenuhi oleh kegagalan. Seperti yang terjadi saat ia kuliah S2 di UGM.

Di sisi lain, hatinya merasa lega. Karena dengan begitu, ia jadi tahu cara menyembuhkan ADHD-nya. Audi kini sadar bahwa kegagalan tidak selalu berarti akhir. Kadang, ia justru menjadi pintu menuju pemahaman diri lebih dalam.

“Dulu saya pikir yang terpenting adalah gelar S2, tapi sekarang saya sadar bahwa yang lebih penting adalah proses menjadi versi diri saya yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih memahami bagaimana cara otak saya bekerja.” Kata Audi.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Berkali-kali Masuk Bangsal Jiwa, Akhirnya Lulus di UGM dengan IPK 3,2 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: adhddipersulit dosen pembimbingdosbingkuliah s2penyakit mentalTesisUGM
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Artikel Terkait

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO
Kampus

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
Kuliah Scam Itu Omongan Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan
Pojokan

Kuliah Scam Itu Omongan Orang Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

8 Januari 2026
Risiko ketimpangan sosial di balik gegap gempita wisata Jogja di mata guru besar Sosiologi UGM MOJOK.CO
Ragam

2 Sisi Koin Wisata Jogja: Ekonomi Berputar, Tapi Ada Risiko Ketimpangan Sosial bagi Warga Lokal dan Masalah yang Terus Berulang

1 Januari 2026
UGM.MOJOK.CO
Kampus

Rp9,9 Triliun “Dana Kreatif” UGM: Antara Ambisi Korporasi dan Jaring Pengaman Mahasiswa

25 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.