MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

Ilustrasi - Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Jingle “My Little Bolu Ketan” dengan lirik parodik “MBG Mas Bahlil, buah apa yang paling manis buah lil” sudah kelewat over-eksposur. Imbasnya, alih-alih menjadi satire politik (sebagaimana seharusnya jingle tersebut ditangkap), lagu tersebut justru menguntungkan karena menjadi alat reproduksi popularitas.

***

Hingga pagi ini, Kamis (28/5/2026), jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng” masih berseliweran di media sosial. Justru semakin banyak konten yang menunjukkan: jingle tersebut justru sangat melekat di benak polos anak-anak. Tanpa paham konteks, anak-anak menangkapnya sebagai lagu yang terdengar lucu.

Di sekitar rumah pun demikian. Pagi ketika saya menikmati kopi dan rokok di teras rumah, anak-anak bermain dengan menyanyikan lagu MBG Mas Bahlil Ganteng kencang-kencang. Agak siangan sedikit, ketika sedang momong anak jalan-jalan di gang kampung, lagu itu saya dengar lagi dari sekelompok anak-anak SD yang sedang melintas.

Jingle tersebut sudah terlalu sering diputar. Tidak hanya orang dewasa yang paham konteks yang hafal, tapi anak-anak pun menghafalnya luar kepala. Dan ternyata di situ letak “bahayanya”.

“MBG Mas Bahlil Ganteng”: Ejekan untuk menertawakan figur politik jadi alat reproduksi popularitas

Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiyawan, menilai fenomena “Mas Bahlil Ganteng” (MBG) menarik dibaca sebagai bagian dari dinamika politik digital kontemporer di Indonesia.

Menurutnya, sosok Bahlil memiliki rekam jejak panjang dalam perdebatan media sosial, mulai dari gaya komunikasi politik, cara membangun kedekatan dengan publik, hingga berbagai kontroversi yang kerap memantik diskusi warganet.

“Karena itu, kemunculan MBG (Mas Bahlil Ganteng) tidak lahir di ruang kosong, melainkan bertemu dengan memori kolektif netizen terhadap figur yang memang sudah lama menjadi objek perhatian digital,” ujar Radius dalam keterangan tertulis, Rabu (27/5/2026).

Dalam penilaian Radius, jingle ini awalnya muncul sebagai bentuk satire politik di media sosial. MBG menjadi humor, meme, dan parodi untuk menertawakan figur kekuasaan sekaligus membongkar aura kesakralan elite politik.

“Humor digital dalam konteks ini berfungsi sebagai bahasa kritik publik terhadap penguasa,” katanya.

Dalam hal ini, secara eksplisit sosok yang disasar adalah Bahlil Lahadalia yang memang kerap dijadikan meme oleh netizen, baik ekspresi wajah, gestur tubuh, dan terutama sekali karena pernyataan-pernyataan kontroversialnya.  Namun, dalam perkembangannya, satire tersebut berpotensi mengalami pergeseran fungsi menjadi glorifikasi citra personal melalui kerja algoritma digital.

“Apa yang semula lahir sebagai ejekan atau ironi dapat berubah menjadi alat reproduksi popularitas karena terus diputar, dibagikan, dan diulang di berbagai platform. Di titik inilah algoritma digital memainkan peran penting,” jelas Radius.

Keuntungan eksposur dari jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: bisa untuk bangun citra personal

Nama Bahlil akhirnya melekat justru bukan sebagai orang yang dikritik. Mengingat, algoritma media sosial pada dasarnya tidak bekerja untuk memahami konteks satire, kritik, atau ironi. Algoritma bergerak berdasarkan logika atensi, yakni mendorong konten yang mampu membuat pengguna bertahan menonton, mengulang audio, memberi komentar, dan berinteraksi.

“Akibatnya, kritik politik berpotensi kehilangan orientasi reflektifnya lalu berubah menjadi komoditas hiburan semata. Dalam ekosistem digital, bahkan parodi dapat menjadi kapital visibilitas,” terang Radius.

Kondisi tersebut menghadirkan dua kemungkinan sekaligus. Di satu sisi, meme dan parodi tetap dapat menjadi ruang subversif untuk menelanjangi kesakralan kekuasaan dan menertawakan elitisme politik.

Namun di sisi lain, terdapat paradoks ketika ruang digital mengalami over-eksposur. Viralitas yang terus berulang justru dapat dimanfaatkan untuk membangun citra personal. “Figur yang terus muncul di linimasa, bahkan dalam bentuk satire, tetap memperoleh keuntungan berupa eksposur dan kedekatan emosional dengan publik,” kata Radius.

Tapi ini lah yang terjadi. Fenomena kritik satire MBG Mas Bahlil Ganteng yang berubah menjadi humor media sosial semata menunjukkan bagaimana politik digital saat ini bergerak dalam logika algoritma, perhatian, dan percepatan viralitas. “Ini adalah ruang ketika batas antara kritik, hiburan, dan pencitraan menjadi semakin tipis,” tutupnya.

Golkar malah senang: terdengar cute dan merasa dihargai 

Penjelasan Radius tersebut dibuktikan dengan respons Partai Golkar terhadap jingle yang mencatut nama Ketua Umum Golkar tersebut.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Sarmuji mengatakan, partainya merasa diapresiasi atas jingle “MBG Mas Bahlil Ganteng” yang viral di media sosial. Ia menilai, lagu yang menyebut nama Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia itu adalah bentuk kreativitas dan penghargaan atas kerja keras Bahlil.

“Itu, kan, justru berasal dari kreativitas netizen sebagai salah satu bentuk penghargaan netizen atas kerja keras Pak Bahlil. Kalau ada akun Golkar yang ikut meramaikan, ya wajar saja, mereka bagian dari netizen juga,” kata Sarmuji kepada awak media, Rabu (27/5/2026).

Sarmuji menegaskan, Partai Golkar tidak ambil pusing atas jingle yang viral tersebut. Justru, baginya, jingle tersebut terkesan menghibur dan tidak perlu dipandang secara berlebihan.

“Lagunya sendiri cukup ‘cute’ dan menghibur. Bagi kami kalau rakyat senang, Golkar juga senang. Nggak masalah. Kalau orang lain happy, kita happy,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sarmuji bahkan menyebut bahwa sebenarnya masih banyak kinerja Ketum Partai Golkar yang tidak terpublikasikan, seperti capaian lifting, istrik desa sampai ke daerah tertinggal, sumur minyak rakyat, dan lain-lain.

Pernyataan tersebut seolah menjawab analisis Radius perihal MBG Mas Bahlil ganteng: satire yang kemudian dijadikan sebagai alat reproduksi popularitas, sehingga mengaburkan esensi dari kritik satire yang termuat.

Sumber: Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA)

BACA JUGA: Menteri ESDM Bahlil Bikin Kebijakan Ngawur yang Mematikan Pedagang Kecil atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version