Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Jagat

Pelajaran dari Lereng Muria: Menanam Pohon Memang Seharusnya Menjadi Hal Wajar, Bukan Kelangkaan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
15 Februari 2026
A A
OAOT, gerakan menanam pohon di lereng Gunung Muria, Kudus. MOJOK.CO

ilustrasi - Program OAOT dari BLDF menanam pohon. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Satu kilometer dari hobi larimu dan membuat konten di Instagram bisa menjadi “napas” baru bagi lereng Gunung Muria, kudus. Lewat kegiatan One Action One Tree (OAOT), Gen Z dan warga setempat Kudus mencoba melanggengkan usia bumi sebelum berakhir fatal.

Menukar jarak lari dan bersepeda dengan bibit tanaman

Pohon-pohon jeruk pamelo di pekarangan rumah warga Desa Japan, Kabupaten Kudus tampak berbuah pada Selasa (10/2/2026). Beberapa buah berukuran kecil hingga besar bergelantungan di dahan-dahan pohon yang lebat.

Sementara, di pekarangan Balai Desa Japan, tanahnya masih gersang dan belum ditanami sesuatu, tapi sudah ada banyak galian lubang yang siap tanam. Di sanalah kemudian warga bersama Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) menyelenggarakan sesi simbolis penanaman bibit pohon dalam program One Action One Tree (OAOT).

Sesi ini digelar sebagai puncak rangkaian acara dari para peserta OAOT yang berhasil mengumpulkan 60.321 bibit pohon—konversi dari aktivitas peserta yang lari, gowes, dan bikin konten di Instagram.

Director Communication Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara menjelaskan aksi pelestarian lingkungan kini bisa dilakukan di mana saja dan diselingi dengan kegiatan apapun, bahkan lewat kegiatan yang digemari Gen Z.

Peserta Gen Z OAOT 2026. MOJOK.CO
Peserta Gen Z OAOT 2026. Mulai dari pemenang lari, gowes, hingga anggota Siap Darling. (Dok. BLDF)

Peserta yang mampu lari sejauh 1 kilometer, kata Mutiara, bisa menukar capaian tersebut dengan 1 bibit pohon yang akan ditanam di sekitar lereng Gunung Muria. Begitupun dengan 1 konten Instagram. Sedangkan, untuk pesepeda yang mampu gowes sepanjang 3 kilometer bisa mengonversi capaiannya menjadi 1 bibit pohon.

“Total kumulatif bibit pohon yang terkumpul sampai awal tahun 2026 ini adalah 60.321 bibit. Bibit yang terkumpul ini mudah-mudahan tidak hanya menjadi fungsi ekologis tapi juga memberikan hasil ekonomi sirkular kepada masyarakat Desa Japan,” kata Mutiara. 

Gen Z antusias ikut program One Action One Tree (OAOT)

OAOT sendiri sudah berlangsung sejak tahun 2020, saat Gen Z mulai menggemari olahraga tren olahraga populer. Berangkat dari fenomena tersebut, Program Officer BLDF, Dandy Mahendra berujar, ide OAOT ini awalnya muncul tanpa target peserta yang banyak.

“Dari kuota 200 orang misalnya, ternyata yang daftar sampai 500 orang. Sedangkan waktu kami buka event di candi itu kan tempatnya terbatas jadi kami terpaksa nolakin satu-satu,” kata Dandy yang cukup kaget melihat antusiasme peserta.

“Akhirnya, kami galakkan agenda yang teman-teman ini nggak perlu repot-repot datang ke tempat, tapi bisa ikut merawat bumi walaupun dari rumah saja,” lanjutnya.

Bibit pohon yang telah terkumpul kemudian ditanam oleh Darling Squad yang merupakan komunitas sukarelawan berisi Gen Z, utamanya mahasiswa untuk mengkampanyekan aksi nyata pelestarian lingkungan seperti menanam pohon dan mengurangi sampah.

Director Communication Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara di Kudus. MOJOK.CO
Director Communication Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara memberi arahan ke komunitas lingkungan dan kepala desa Japan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Pada kegiatan OAOT, Darling Squad bertugas menanam bibit pohon di lereng Gunung Muria bersama warga setempat. Lereng Muria sendiri dikenal sebagai wilayah budidaya Kopi Muria. Selain berpotensi ekonomi, pohonnya juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan.

Warga sekitar Gunung Muria sempat terancam krisis air

Ketua Yayasan Pegiat Konservasi Alam Muria (PEKA Muria), Teguh Budi Wiyono yang turut aktif melestarikan alam di sekitar Muria, menjelaskan tajuk tanaman kopi beserta pohon penaungnya cukup bermanfaat untuk lingkungan.

Ia mampu melindungi permukaan tanah dari hujan langsung, mengikat struktur tanah, serta menekan risiko bencana longsor serta banjir. Sayangnya, akibat dari penanaman kopi yang terlalu banyak, tutupan vegetasi perlahan-lahan berkurang sejak tahun 1990. 

Iklan

Lebih parahnya lagi, debit mata air di sekitar Gunung Muria ikut menurun hingga 50 persen, sekaligus meningkatkan risiko bencana ekologis. Jika tidak segera diatasi, warga sekitar bakal kesulitan mencari air bersih.

“Kami jaga mata airnya supaya tidak mati, karena kalau mati susah untuk menghidupkan kembali. Butuh waktu setidaknya 10 tahun,” kata Teguh.

OAOT menanam jenis buah untuk memulihkan habitat Muria

Dari sisi kiri, Teguh Budi Wiyono diikuti Triyanto Soetardjo dari Yayasan PEKA Muria MOJOK.CO
Dari sisi kiri, Teguh Budi Wiyono diikuti Triyanto Soetardjo dari Yayasan PEKA Muria. (Eko Susanto/Mojok.co)

Bersama para relawan lainnya, Teguh secara konsisten menanam bibit pohon utamanya jenis buah di kawasan bawah atau permukiman. Seperti mangga, alpukat, dan durian karena nilai ekonominya yang tinggi dengan perawatan yang minim. 

Durian yang bagus misalnya bisa menghasilkan Rp10 juta lebih dengan modal perawatan Rp2 juta. Sementara, alpukat dapat menghasilkan untung sebesar Rp5 juta dengan modal perawatan Rp500 ribu. 

Namun, yang tak kalah penting dari sisi ekonominya adalah kebermanfaatan pohon untuk pelestarian alam. Terutama dari akar mangga, alpukat, dan durian yang bagus untuk menghidupkan kembali mata air seperti sedia kala.

“Akar mangga, alpukat, dan durian itu bagus untuk menghidupkan kembali mata air seperti sedia kala,” kata Teguh.

Sedangkan, di kawasan atas sekitar lereng Gunung Muria, lebih banyak tanaman kayu seperti ficus dan bambu. Keselarasan bibit itu, kata Teguh, penting untuk memulihkan habitat Gunung Muria dan keberlangsungan umat manusia. 

Dosa manusia saat mengabaikan alam

Sebagai bagian dari pendamping kegiatan OAOT selama 5 tahun ini, Teguh meyakini manusia selalu membutuhkan alam dan tak akan pernah bisa hidup tanpanya, meski zaman terus berubah. Oleh karena itu, program konservasi alam harus berlanjut sampai kapan pun.

menanam pohon. MOJOK.CO
Gen Z menanam bibit pohon di pekarangan Balai Desa Japan, Kabupaten Kudus. (Dok. BLDF)

“Kami berharap BLDF masih mendampingi kami sampai kapan pun, karena kawasan Muria ini masih luas. Bahkan mungkin tidak hanya di Kudus, tapi Jepara, Pati, dan sekitaran Jawa Tengah lainnya,” kata Teguh.

Tentu saja rencana itu baru bisa terealisasi jika dilakukan bersama-sama dan dengan konsisten. Utamanya generasi muda (Gen Z) yang akan menjadi penerus dan mengingatkan aksi nyata peduli lingkungan ke generasi selanjutnya. 

Menurut keyakinan Teguh, manusia ikut berdosa jika tidak menularkan nilai tersebut ke anak-cucunya nanti. Sementara hari ini, mereka masih bisa menikmati kebermanfaatan alam yang sejatinya mulai memudar.

“Di saat anak, cucu saya tidak menikmati air bersih, maka saya ikut berdosa. Karena saya tidak memberitahu mereka untuk melestarikan mata air itu sendiri sampai akhirnya habis tak tersisa,” kata Teguh.

Mutiara menambahkan, upaya pelestarian alam bisa dilakukan lewat berbagai cara, bahkan dari langkah-langkah kecil sekalipun seperti mengikuti kegiatan OAOT ini.

“Kami harap kegiatan menanam pohon menjadi kebiasaan dan lumrah, bukan sesuatu yang luar biasa. Baik di rumah, di desa maupun perkotaan, kita tetap bisa menanam,” ucap Mutiara yang ikut menanam pohon alpukat di pekarangan Balai Desa Japan, Kudus, “karena pada akhirnya merawat alam adalah tanggung jawab kita bersama.”

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Obati Patah Hati dengan Lari 176 km: Cara Gen Z Menebus Dosa Lingkungan Sambil Jadi Pelari Kalcer atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Februari 2026 oleh

Tags: aksi peduli lingkungandesa japangerakan menanam pohongunung muriakudusOAOTone action one tree
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Cara Gen Z memulihkan hati dengan lari dan menanam bibit pohon lewat program OAOT. MOJOK.CO
Jagat

Obati Patah Hati dengan Lari 176 km: Cara Gen Z Menebus Dosa Lingkungan Sambil Jadi Pelari Kalcer

14 Februari 2026
Hydroplus Soccer League: Hulu Liga Sepak Bola Putri, Membuka Jalan Mimpi di Seantero Negeri
Liputan

Hydroplus Soccer League: Hulu Liga Sepak Bola Putri, Membuka Jalan Mimpi di Seantero Negeri

13 Februari 2026
Volunteer di festival dandangan kudus. MOJOK.CO
Jagat

Pengalaman Sambut Ramadan di Kudus: Menyaksikan Bagaimana Merawat Bumi Ditradisikan Lewat Pembiasaan Sederhana

12 Februari 2026
ulus Kuliah Bingung Cari Kerjaan, Temukan “Jalan Terang” saat Jadi Pelatih Sepak Bola Putri untuk Hydroplus Soccer League  
Liputan

Lulus Kuliah Bingung Cari Kerjaan, Temukan “Jalan Terang” saat Jadi Pelatih Sepak Bola Putri untuk Hydroplus Soccer League  

12 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meskipun nggak aman, Blok M, Jakarta Selatan, tetapi jadi destinasi nongkrong

Blok M Nggak Aman, tapi Tetap Jadi Tujuan karena Lebih Takut Nggak Dianggap Keren ketimbang Jadi Korban Kejahatan

12 Februari 2026
Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
Hari Valentine, “Valentine Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai dengan Berhubungan Seks?.MOJOK.CO

“Valentine Bukan Budaya Kita”: Mengapa Perayaan Hari Kasih Sayang Cuma Dimaknai Sedangkal Berhubungan Seks?

13 Februari 2026
Anak yang dicap gagal penuhi standar sukses justru paling tulus merawat orang tua. Anak yang sok sibuk dan dibilang sukses malah jadi yang paling berisik soal warisan MOJOK.CO

Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan

13 Februari 2026
Cara Gen Z memulihkan hati dengan lari dan menanam bibit pohon lewat program OAOT. MOJOK.CO

Obati Patah Hati dengan Lari 176 km: Cara Gen Z Menebus Dosa Lingkungan Sambil Jadi Pelari Kalcer

14 Februari 2026
Gabung LPM/Persma demi jadi wartawan/jurnalis karena tampak keren. Kini menyesal setelah kerja di media online daerah dengan gaji rendah MOJOK.CO

Sesal Kerja Jadi Wartawan, Label Profesi Keren tapi Realitasnya Jadi Gembel dan Simbol Anak Gagal di Keluarga

10 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.