Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Histori

Kita Pernah Punya Program Hilirisasi Candu! Saya Pun Mencari Tempat Jualan Narkoba Itu di Malioboro Kota Jogja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 Februari 2024
A A
Sialnya, Peredaran Narkoba di Surabaya Tetap Berputar dan Saya Adalah Korbannya.MOJOK.CO

Ilustrasi Sialnya, Peredaran Narkoba di Surabaya Tetap Berputar dan Saya Adalah Korbannya (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Momen unik terjadi di salah satu smoking area Parkiran Abu Bakar Ali, dekat Jalan Malioboro, Kota Jogja pada Kamis sore (22/2/2024) lalu. Setelah menghabiskan sebatang kretek, saya mendatangi tiga anak muda yang tengah asyik mengobrol. “Permisi, ada yang tahu enggak tempat jualan narkoba di Malioboro?” tanya saya, iseng.

Sudah saya duga, mereka kaget. Tercengang! Mana mungkin ada orang nekat berjualan barang haram itu di ikon wisata Kota Jogja ini?

Namun, di luar dugaan. Salah seorang dari mereka ternyata tertarik dengan pertanyaan iseng saya. Hafid (20), nama wisatawan yang belakangan saya ketahui asal Bojonegoro itu, gantian melempar jawaban yang bikin saya lebih kaget.

“Wah. Kalau ada, sih, saya juga mau, Mas,” ujarnya, dengan nada bercanda. Teman-temannya pun ikut tertawa mendengar jawaban Hafid.

“Mau tahu lokasinya, apa mau beli barangnya?”

Kami saling menatap.

Malioboro memang pernah jadi pusat jual-beli barang haram ini

Sebentar. Sebelum para pembaca melaporkan kami ke BNN, ada baiknya saya meluruskan dulu pembahasan tadi. 

Jadi, di tengah keponya mereka soal tempat jualan narkoba di Malioboro ini, saya juga bilang kalau narkoba yang dimaksud adalah jenis madat alias opium. Bukan sabu, ekstasi, maupun narkoba cap gorila, dan sejenisnya.

Opium sendiri merupakan getah bahan baku narkotika yang diperoleh dari buah candu (Papaver somniferum L. atau P. paeoniflorum) yang belum matang.

 

Kita Pernah Punya Program Hilirisasi Candu! Saya Mencari Tempat Jualan Narkoba Itu di Malioboro.mojok.co
Getah candu atau Papaver sorniforum L. sebagai bahan baku utama opium (dok. Antara Foto)

Menurut penjelasan BNN, opium masuk dalam kategori narkotika golongan 1. Artinya, ia dianggap berbahaya karena menimbulkan efek ketergantungan. Selain opium, narkoba golongan 1 juga meliputi ganja dan koka.

Nah, keberadaan opium di Kota Jogja sendiri sudah ada sejak masa kolonial Hindia Belanda. Bahkan, dahulu, kota ini merupakan salah satu pusat jual beli opium terbesar di Hindia-Belanda. Pada masa lalu, peredaran opium paling besar terjadi di Jalan Malioboro. 

“Lokasi tepatnya di mana, tuh?” tanya Hafid, kepo.

“Teras Malioboro I. Pusat jualan opium terbesar di sini,” jawab saya sambil menunjuk ke arah selatan. “Mau ke sana?” saya menawarkan.

Iklan

Candu sudah jadi bagian dari sejarah kita

Madat, opium, atau juga bisa kita sebut candu ini, sebenarnya sudah menyatu dalam sejarah negeri kita. Sambil berjalan dari Parkiran Abu Bakar Ali ke Teras Malioboro 1, saya menjelaskan kepada Hafid dan kawan-kawannya bahwa ada banyak literatur yang bisa mereka rujuk soal sejarah opium ini.

“Buku karya James R. Rush, ‘Candu Tempo Doeloe’, keluaran Komunitas Bambu. Bisa kalian rujuk,” jelas saya. “‘Serat Erang-Erang’ dari Wirapustaka lebih klasik lagi, sih.”

Menurut dua sumber yang jadi rujukan saya itu, opium memang merupakan salah satu komoditas perdagangan yang penting pada masa kolonialisme. Bahkan,  pemerintah Hindia Belanda memonopoli opium dan menjadikannya objek pajak. 

Program hilirisasi candu

Bayangkan, dahulu opium sepenting dan sevital itu buat perekonomian Hindia Belanda. Bahkan, mereka pernah, lho, memperebutkan hak monopoli opium dengan Inggris dan Denmark. 

Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Baron van Imhoff (1745), mereka malah memberlakukan sistem perdagangan bebas bagi opium. Sejak kebijakan ini berlaku, tiap tahun diperkirakan ada rata-rata 56 ton opium yang mendarat di bumi Jawa. Bukan main! 

Maka, tidak mengherankan jika pada 1880 pajak perdagangan opium menjadi penghasilan paling besar bagi pemerintah Hindia Belanda. Bahkan, pada 1894 pemerintah mendirikan pabrik opium sendiri di wilayah Salemba. Kini kawasannya berada di area Universitas Indonesia (UI).

Kalau dipikir-pikir, itu mirip semacam konsep hilirisasi, sih. Jadi, candu, si bahan mentah, dihasilkan di sini. Begitupun juga dengan pengolahannya menjadi opium.

Akibatnya, peredaran opium pun makin meluas. Wilayah-wilayah perdesaan di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga wilayah vorstenlanden Surakarta dan Yogyakarta, jadi tempat candu beredar secara bebas.

Menurut berbagai catatan yang saya rujuk tadi, terdapat 372 tempat penjualan opium yang tersebar di Yogyakarta sepanjang akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Mulai dari toko kecil-kecilan, hingga yang besar.

Kantor pusatnya ada di dekat Tugu Jogja

Kami tiba di depan Teras Malioboro 1. Kepada para wisatawan ini, saya menceritakan bahwa bangunan ini sudah beberapa kali berganti fungsi. Mulai dari gedung bioskop hingga tempat jualan opium.

Sebelumnya, saya juga telah melakukan riset pada Peta Kota Jogja tahun 1946 (ditulis pada 1935). Menurut peta tersebut, lokasi kantor pusat dagang opium ada di Jalan AM Sangaji, Jetis, tepat berada di sebelah utara Tugu Jogja.

Dulu, kantornya bernama Opiumregie (dalam bahasa Inggris: Opium Monopoly). Kantor ini bertugas mengendalikan laporan distribusi opium yang keluar-masuk Kota Jogja. Mereka juga mendata para penjual opium yang disebut “mantri candu”.

Kita Pernah Punya Program Hilirisasi Candu! Saya Mencari Tempat Jualan Narkoba Itu di Malioboro.mojok.co
Indeks nomor 10 menunjukkan lokasi Opium Monopoly
atau Opiumregie (dok. Leiden University Libraries)

Fyi, para mantri candu wajib mencantumkan papan nama “kantor penjualan” atau “toko penjualan candu”. Dalam bahasa Belanda, umumnya menggunakan  kata “opiumverkoopplaats”.

“Berubah jadi apa lokasinya sekarang?” tanya Hafid, kepo soal kantor pusat monopoli candu itu.

Berdasarkan titik pada peta lawas itu, saya menduga bangunan kantor Opiumregie kini berada di lahan yang menjadi SPBU Pertamina Tugu.

Di mana tempat jualan narkoba di Malioboro Jogja?

Lebih lanjut, berdasarkan data Opiumregie tadi, sebagian besar rumah penjual candu atau opiumverkoopplaats ada di kawasan pecinan yang kala itu melingkupi sepanjang Jalan Patjinan (sekarang sekitaran Jalan Margo Mulyo hingga Jalan Jend. Ahmad Yani) dari Teras Malioboro I di sisi barat dan Kampung Ketandan di sisi timur.

Catatan peta Kota Jogja terbitan 1946 tadi juga menunjukkan toko candu terbesar berada di dua tempat. Pertama, lokasinya ada di bangunan yang saat ini menjadi Teras Malioboro I (sebelumnya pernah jadi gedung Bioskop Al Hambra). 

Kedua, ia terletak tepat di sudut perempatan Jalan Malioboro dan Jalan Suryatmajan. Saya menduga lokasinya sekarang tepat berada di bangunan yang menjadi Mirota Gallery dan Toko Obat Sumber Husodo Tek An Tong.

“Kira-kira, sekarang masih ada yang jualan enggak, ya?” tanya Hafid, masih dengan rasa keponya. Kita semua tahu jawabannya.

 Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Gedung-gedung Mewah Terbengkalai di Malioboro hingga Tugu Jogja, Ada Hotel Belanda dan Bank yang Bangkrut

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 23 Februari 2024 oleh

Tags: canduJogjamalioboronarkobaopiumpilihan redaksitugu
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.