Sebagian anak muda tak banyak yang tahu khasiat dari jamu parem. Minuman tradisional ini terkenal sebagai obat dengan bentuk pipih kering, tapi saya menemukan parem kendil yang bisa langsung diminum di Pasar Jangkang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Jamu parem kendil yang masih eksis di Pasar Jangkang Yogyakarta
Tangan Jumanan (70) hampir tak pernah berhenti membungkus parem dari dalam kendil ke plastik karena saking ramainya pembeli. Sesekali dia menghentikan aktivitasnya untuk minum teh hangat, sebelum pelanggannya makin ramai.
Perempuan asal Wonosobo itu mengaku sudah menjual jamu parem dalam kendil selama 40 tahun lebih. Biasanya, adonan parem dijual dalam bentuk kemasan berbentuk bulat pipih dan padat.
Namun, Jumanan menjual parem yang sudah dimasak agar bisa langsung diminum. Sementara, ada pula yang dibuat menjadi boreh atau bedak dingin untuk dioleskan ke kulit sebagai obat.
Ramuan jamu tradisional Jawa itu sendiri dibuat Jumanan sejak subuh menggunakan bahan seperti tepung beras, gula merah, dan rempah-rempah. Meski begitu, uapnya masih terlihat mengepul dari atas kendil.

“Bahan-bahannya saya masak sampai kental, terus didiamkan selama satu jam,” kata Jumanan saat saya temui di Pasar Jangkang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Kamis (5/2/2026).
Lapaknya pun tak pernah sepi pembeli. Kebanyakan mereka adalah orang lanjut usia yang sekadar ingin menyegarkan tenggorokan di pagi hari, tapi ada pula ibu yang membawa bayi untuk menjajalkan parem ke anaknya.
Pelanggan setia yang datang tiap pagi
Salah satu pelanggan setia Jumanan adalah Lagiyem (75). Dia mengaku sudah mencicipi jamu parem sejak usianya 15 tahun karena sering diajak ibunya ke pasar tradisional. Dulu, Lagiyem hanya menyukai minuman tersebut karena suka dengan rasanya, tapi kini dia jadi tahu manfaatnya untuk kesehatan.
“Saya ke sini paling nggak satu kali dalam seminggu. Setelah minum parem, badan jadi hangat dan segar, pegal linu juga berkurang,” kata Lagiyem di depan lapak Jumanan.
Selain sebagai obat pegal linu dan nyeri otot, parem terkenal untuk mempercepat pemulihan ibu setelah melahirkan. Dalam tradisi jamu selapan–perawatan 40 hari setelah melahirkan, parem adalah komponen wajib.
Ia mampu membantu mengecilkan perut, mengatasi rasa kaku pada kaki dan tangan, serta merelaksasi otot dari dalam. Parem juga membantu mengatasi masuk angin atau perut kembung, menjaga kesehatan kulit, serta mengurangi pembengkakan.

Lebih dari itu, bagi Lagiyem minum jamu parem di pasar menjadi bagian dari gaya hidup mirip Gen Z sekarang yang doyan ngopi pagi (ngopag). Bahkan, dia rela menempuh jarak sekitar 11 kilometer menggunakan bus Trans Jogja dari rumahnya di Prambanan ke Pasar Jangkang Yogyakarta.
Sebabnya, kata Lagiyem, sudah tak banyak pedagang jamu di Jogja yang menjual parem langsung dari kendil seperti Jumanan. Alih-alih membuat minuman parem sendiri dari serbuk dalam kemasan, Lagiyem lebih suka menikmati jamu langsung dari dalam gelas.
Tak hanya Lagiyem, sepasang orang dewasa yang menikmati parem buatan Jumanan juga minum langsung dari gelas. Namun, ada juga pelanggan yang membawa pulang parem dalam plastik.
“Harganya juga murah, Rp2 ribu per gelas,” kata Lagiyem.
40 tahun menjual jamu parem kendil
Pembuatan parem ini Jumanan pelajari turun-temurun dari resep ibu dan neneknya. Sejak dirinya masih muda, Jumanan sudah ikut ibunya berjualan di pasar. Bahkan saat sudah menikah dan memiliki anak, Jumanan tak pernah berhenti membuat parem.
“Saya bikinnya sejak pagi buta Mbak, terus diantar anak-anak ke pasar bawa 4 tong kendil ini. Pokoknya sampai sini (Pasar Jangkang) jam 06.00 WIB setiap hari. Biasanya, paremnya sudah habis di atas jam 8,” tutur Jumanan.

Meski usianya sudah senja, Jumanan berujar tak mau berhenti dari rutinitasnya. Sebab kalau tak melakukan apa-apa dan sendirian di rumah, dia malah bosan. Terlebih, Jumanan juga tak mau merepotkan anak-anaknya yang sebagian dari mereka sudah merantau untuk bekerja.
“Anak saya lima dan sudah kerja semua, salah satunya dulu kuliah di Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang,” kata Jumanan.
Bagi Jumanan, berjualan di pasar tak hanya melepas rasa bosan. Di sana, dia dapat berjumpa sekaligus mengobrol dengan berbagai macam pengunjung pasar. Syukur-syukur kalau parem yang dia jual bermanfaat untuk orang yang membelinya.
Sebab, Jumanan mengaku penjual parem sekarang sudah mulai sedikit. Tidak seperti dulu. Ada pun, banyak yang masih menjual parem tapi tidak spesifik parem kendil seperti dirinya. Oleh karena itu, Jumanan berharap bisa melayani pecinta parem kendil selagi tubuhnya masih kuat.
“Monggo Mbak dicicipi, biar hangat di badan,” ucap Jumanan menawarkan barang dagangannya ke saya secara gratis.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.













