Bekal ndeso ibu temani perjalanan saya ke Amerika
Hari keberangkatan Rif’an ke Amerika akhirnya tiba di bulan Desember tahun 2018. Bersama adik perempuannya, Rif’an dibonceng menggunakan sepeda motor menuju Bandara Adisucipto Yogyakarta tanpa rombongan keluarga.
“Aku cuma bawa satu tas gunung dan satu daypack,” ujar Sarjana UGM itu.
Meski perjalanannya terasa sunyi, tapi Rif’an memang sudah menyiapkan mental untuk menghadapi segala konsekuensi yang ada. Termasuk saat orang tuanya tidak memberikan sangu berupa uang, melainkan bekal sederhana.
“Ibuku menyiapkan ketupat, lemper, dan kering tempe untuk bekalku di perjalanan,” ujar Rif’an.
Sebelum membuka bekal ibunya, Rif’an sejujurnya biasa saja tanpa ekspektasi muluk-muluk. Ia sempat bergurau dengan teman-temannya dari UGM, yang ikut mengantar dia ke Bandara Soekarno Hatta. Menjelang sore, temannya mengajak Rif’an makan di HokBen.
Saat itulah Rif’an membuka bekal dari ibunya yang berisi ketupat, lemper, dan tempe kering. Sekilas, makanan itu memang terkesan “ndeso” tapi bagi Rif’an lebih kaya makna ketimbang makan di HokBen.
Ibunya memang hanya lulusan SD dan hampir selalu di rumah sebelum dia berangkat ke US. Ke kondangan pun jarang, jadi yang beliau tau hanyalah makanan di sekitar rumah atau pasar tradisional.
“Bagi ibuku mungkin, ketupat, lemper, dan tempe kering adalah bekal yang cocok untuk menemani perjalanan ku ke Amerika Serikat,” kelakar Rif’an, “tapi aku tetap bangga, bahkan memamerkan bekal itu ke teman-temanku,” ujar Rif’an yang tak takut diejek ndeso.
Belajar memaafkan diri dan keluarga
Alih-alih memesan menu HokBen, Rif’an justru memakan bekal ketupat, lemper, dan tempe kering dari ibunya sebelum keberangkatan pesawat dari Jakarta ke Abu Dhabi untuk transit. Dan sengaja tidak ia habiskan bekal tersebut untuk dimakan saat perjalanan menuju Abu Dhabi–Amerika Serikat.
“Jadi aku nggak jajan selama perjalanan dua hari ke Amerika,” ujar Rif’an.
Bagi Rif’an, bekal sederhana dari ibunya lebih dari cukup untuk mengisi amunisinya kuliah S2 di Amerika. Sebab selama ini, ia mungkin marah terhadap keluarganya, yang dirasa tak pernah mendukung mimpi-mimpinya.
Padahal, jauh di lubuk hati orang tuanya, mereka tentu menyayangi Rif’an. “Aku sudah memaafkan orang tuaku, karena aku pikir mereka tentu punya cerita hidup di masa lalu yang melatar belakanginya bersikap seperti ini di masa sekarang. Semua adalah bagian dari takdir yang harus disyukuri.”
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













