Bekerja di kampung sering kali dianggap kurang menjanjikan dibandingkan menjadi pegawai kantoran. Padahal, di balik gang sempit, halaman rumah, dan jalanan yang setiap hari kita lewati, ada orang-orang yang menggantungkan hidup dari profesi yang jarang dilirik, tetapi jasanya dibutuhkan banyak orang.
***
Profesi yang saya temui di kampung beragam, mulai dari tukang suntik sumur, kurir gas elpiji, tukang servis kompor, hingga produsen es batu kristal. Mereka membuktikan bahwa mencari uang tak harus selalu mengenakan kemeja rapi dan bekerja di kantor. Bermodal keterampilan dan kepercayaan pelanggan, sebagian dari mereka bahkan bisa mengatur pekerjaan sendiri.
Namun, jangan buru-buru menganggap profesi kampung selalu menjanjikan cuan besar dan kehidupan santai. Ada modal, tenaga, risiko usaha, dan penghasilan yang tak menentu. Meski begitu, kisah mereka menunjukkan bahwa pekerjaan yang sering diremehkan tetap punya nilai ekonomi dan bisa menjadi jalan untuk mencari nafkah.
1. Tukang suntik sumur, profesi yang dicari ketika kemarau
Bagi sebagian orang, pekerjaan tukang sumur mungkin identik dengan pekerjaan kasar yang mengandalkan tenaga. Padahal, keahlian memperbaiki sumur bisa menjadi sumber penghasilan tambahan yang lumayan.
Kuswanto (49), warga Gamping, Sleman, sudah sekitar 20 tahun menekuni pekerjaan ini di samping menjadi kuli bangunan. Ia menerima panggilan untuk membuat maupun memperbaiki sumur. Tarif suntik sumur yang ia ceritakan berkisar Rp1 juta hingga Rp2,5 juta, bergantung pada kebutuhan pekerjaan.
Tentu saja, uang itu bukan penghasilan bersih yang otomatis masuk kantong. Ada kebutuhan peralatan, bahan, tenaga, dan waktu yang harus diperhitungkan. Apalagi, panggilan tidak selalu datang setiap hari.
Namun, ketika sumur bermasalah dan air tak kunjung mengalir, keahlian tukang sumur mendadak menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan warga. Pekerjaan yang sering dianggap remeh ternyata punya nilai ekonomi.
2. Kurir gas elpiji, tidak perlu jadi pegawai kantoran untuk menikmati hidup
Santoso (37) menjalankan usaha pengantaran gas elpiji di Trihanggo, Sleman. Ia memanfaatkan Honda Supra X yang dimodifikasi dengan krombong untuk membawa tabung gas ke rumah pelanggan.
Pelanggan cukup menghubunginya melalui WhatsApp. Setelah pesanan diterima, gas diantarkan ke alamat tujuan. Pembayaran pun bisa dilakukan secara tunai maupun menggunakan QRIS.
Bagi sebagian pemuda kampung, pekerjaan semacam ini menarik karena mereka bisa mengelola usaha sendiri. Tidak perlu menunggu promosi jabatan atau menghabiskan waktu di kantor demi terlihat sukses.
Meski begitu, menjadi kurir gas bukan berarti bebas dari tanggung jawab. Ada tenaga yang dikeluarkan untuk mengangkut tabung, biaya operasional kendaraan, dan pelanggan yang harus dilayani. Keleluasaan mengatur pekerjaan tetap harus dibayar dengan kedisiplinan.
3. Perawat hewan, profesi yang diremehkan padahal menjadi pahlawan kecil bagi peternak desa
Profesi perawat hewan mungkin tidak banyak disebut ketika anak muda membicarakan pekerjaan impian. Padahal, bagi peternak, keahlian ini bisa menentukan nasib ternak yang menjadi aset keluarga.
Adel (27), lulusan D3 Kesehatan Hewan UGM, bekerja sebagai perawat hewan atau paramedik veteriner. Ia menangani ternak sakit, termasuk kambing yang pernah mengalami luka parah akibat serangan belatung.
Pekerjaannya bukan sekadar memberikan obat, tetapi juga membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan pemantauan kondisi hewan. Di desa, kambing atau sapi bukan cuma penghuni kandang. Hewan ternak bisa menjadi simpanan ekonomi yang dijual ketika keluarga membutuhkan uang. Karena itu, keberadaan tenaga kesehatan hewan memiliki peran penting dalam kehidupan peternak.
Profesi ini tentu membutuhkan kompetensi yang sesuai. Namun, kisah Adel memperlihatkan bahwa pekerjaan yang jarang dibicarakan bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
4. Penjual ayam potong, bekerja sebentar bukan berarti hidup berkecukupan
Nisa (44) berjualan ayam potong di kawasan Gamping sejak pukul 05.00 hingga 09.00. Empat jam bekerja setiap pagi itu menghasilkan sekitar Rp1 juta sebulan menurut pengakuannya.
Angka tersebut justru menunjukkan bahwa tidak semua pekerjaan kampung bisa disebut cuan besar atau menawarkan work-life balance yang ideal. Waktu kerja yang relatif singkat tidak serta-merta membuat kehidupan lebih mudah. Masih ada biaya listrik, kebutuhan rumah tangga, dan pendidikan anak yang harus dibayar.
Kisah Nisa mengingatkan kita agar tidak menilai keberhasilan sebuah profesi hanya dari jam kerja atau penampilannya. Ada orang yang bekerja sejak subuh, tetapi tetap harus berhitung ketat sebelum membelanjakan uang.
5. Produsen es batu kristal, usaha rumahan setelah terkena PHK
Hendrawan (45) kehilangan pekerjaan sebagai operator mesin perusahaan pembuat traktor di Yogyakarta ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Ia sempat berjualan es teh jumbo. Namun, kesulitan mendapatkan pasokan es batu justru membuatnya melihat peluang usaha baru.
Hendrawan kemudian menginvestasikan tabungan sekitar Rp60 juta untuk membangun bisnis produksi es batu kristal. Setelah merintis usaha selama lima tahun, ia kini memperoleh laba bersih sekitar Rp10 juta per bulan.
Pelanggan Hendrawan antara lain pedagang minuman yang membutuhkan pasokan es untuk berjualan. Artinya, bisnis yang terlihat sederhana di rumah bisa menjadi bagian penting dari rantai usaha kecil lainnya. Namun, kisah ini bukan rumus pasti untuk meraih kesuksesan. Modal besar, kebutuhan listrik, perawatan mesin, kualitas air, dan kestabilan permintaan tetap menjadi pertimbangan sebelum seseorang mengikuti jejaknya.
6. Profesi tukang servis kompor dan pompa air, penyelamat ketika dompet tipis
Di kampung, ada orang yang dicari ketika kompor mendadak rusak atau pompa air berhenti bekerja. Salah satunya Sarmoko, atau yang akrab dipanggil Lik Moko. Sejak kembali dari Kalimantan pada 2008, ia menekuni berbagai pekerjaan servis secara otodidak. Mulai dari kompor, pompa air, kulkas, sampai saluran wastafel yang mampet. Ia juga mempunyai bengkel mobil sendiri.
Untuk jasa servis kompor dan pompa air, Lik Moko biasanya menerima upah maksimal sekitar Rp50 ribu, di luar biaya suku cadang. Tarif tersebut merupakan kebiasaannya sendiri, bukan patokan harga seluruh teknisi.
Bagi warga, jasa seperti ini membantu menghindari pengeluaran lebih besar untuk membeli barang baru. Sementara bagi Lik Moko, keterampilan yang dipelajari sendiri menjadi cara untuk melayani tetangga sekaligus memperoleh penghasilan tambahan.
7. Profesi kurir galon, modalnya tenaga dan kecepatan melayani pelanggan
Yusuf (28), bukan nama sebenarnya, sudah sekitar lima tahun menjadi kurir air isi ulang. Setiap hari, ia mengantar galon dari satu rumah ke rumah lain. Cara melayaninya sederhana. Ketika pelanggan mengirim pesan WhatsApp dan ia sedang memegang ponsel, pesanan segera ditanggapi. Balasannya kadang hanya singkat, tetapi yang terpenting galon benar-benar sampai.
Pekerjaan ini terlihat mudah jika hanya dilihat dari luar. Padahal, mengangkat galon berulang kali membutuhkan tenaga, belum lagi menghadapi cuaca, kondisi jalan, dan pesanan mendadak. Kecepatan pelayanan menjadi modal penting bagi kurir galon. Dalam usaha yang mengandalkan pelanggan berulang, kepercayaan dan ketepatan pengantaran bisa menentukan apakah pelanggan akan memesan lagi.
Profesi kampung tidak harus bergengsi untuk punya nilai
Menurut Badan Pusat Statistik, pada 2025 sebanyak 86,02 persen tenaga kerja sektor pertanian di Indonesia berstatus informal. Angka tersebut memang tidak mewakili semua pekerjaan di kampung, tetapi memperlihatkan besarnya peran pekerjaan informal dalam kehidupan ekonomi masyarakat.
Tujuh kisah di atas menunjukkan bahwa profesi kampung tidak bisa dinilai hanya dari gengsi, seragam, atau tempat kerjanya. Ada yang memperoleh penghasilan tambahan dari keahlian teknis, ada yang membangun usaha sendiri setelah terkena PHK, dan ada pula yang tetap berjuang meski jam kerjanya terbatas.
Namun, kita juga tidak perlu meromantisasi pekerjaan informal seolah-olah semuanya menawarkan uang banyak dan waktu luang. Penghasilan yang tidak pasti, kebutuhan modal, risiko kerja, serta ketiadaan perlindungan kerja bisa menjadi persoalan tersendiri.
Barangkali, pelajaran terpentingnya sederhana: pekerjaan yang layak dihargai tidak selalu pekerjaan yang paling sering dipamerkan di media sosial. Di kampung, orang yang memperbaiki pompa air, mengantar gas, merawat ternak, atau mengirim galon juga ikut menjaga kehidupan sehari-hari tetap berjalan.
Mereka mungkin tidak punya jabatan mentereng. Namun, selama keterampilan dan jasa mereka dibutuhkan orang lain, profesi-profesi itu tetap punya tempat dalam roda ekonomi kampung.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Kuras Habis Tabungan usai PHK untuk Bisnis Es Batu Kristal, Tak Mengira Cuan Rp10 Juta Per Bulan dari Rumahan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan