ADVERTISEMENT

Profesi Suntik Sumur di Kampung, Sering Diremehkan Padahal Menjanjikan Cuan di Musim Kemarau Panjang

Profesi Suntik Sumur, Diremehkan tapi Raup Cuan ketika Kemarau. MOJOK.CO

Bagi sebagian orang, pekerjaan sebagai tukang sumur mungkin tidak lebih dari pekerjaan kasar yang mengandalkan tenaga. Namun, di musim kemarau panjang seperti sekarang profesi itu menjadi ladang cuan yang menjanjikan.

***

ADVERTISEMENT

Kendati kerap diremehkan namun bagi Kuswanto (49) dan Juman (37), keahlian mengatasi masalah sumur bisa menjadi sumber penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saya menemui Kuswanto pada Selasa (13/10/2026). Selain bekerja sebagai kuli bangunan, warga kampung saya ini sudah sekitar 20 tahun menekuni pekerjaan sebagai tukang sumur. Ia menerima panggilan dari warga yang ingin membuat sumur atau memperbaiki sumur yang bermasalah.

“Kalau bosen sebenarnya tidak, lha wong saya kan kerja kalau ada yang memanggil saja, dan tidak setiap hari ada panggilan,” ujar Kuswanto.

Pekerjaan ini memang tidak menawarkan kepastian pendapatan setiap hari. Namun, ketika kebutuhan air meningkat pada musim kemarau, keahlian Kuswanto dan Juman kembali dicari warga.

Dua puluh tahun menjalani profesi, dari air macet sampai boneka nyemplung

Selama dua dekade menekuni profesi tersebut, Kuswanto sudah menghadapi berbagai persoalan. Salah satu pengalaman yang masih ia ingat terjadi ketika seorang pemilik rumah menghubunginya karena air tidak bisa naik ke toren.

“Saya kira kenapa karena saya ditelfon yang punya rumah sambil panik karena airnya tidak mau naik ke toren air, sedangkan pompanya sudah menyala dari pagi,” kata Kuswanto.

Setelah membawa peralatan dan memeriksa, ia menemukan penyebabnya. Sebuah boneka milik anak pemilik rumah jatuh ke dalam sumur dan menyumbat jalur air.

“Pas dicek ternyata boneka anaknya jatuh yang membuat air itu tersumbat dan tidak bisa masuk ke pipa untuk diteruskan ke toren air,” jelasnya.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa tidak semua masalah sumur berkaitan dengan berkurangnya air tanah. Gangguan pada pompa, pipa, sumbatan, hingga kerusakan komponen juga bisa membuat air berhenti mengalir. Karena itu, pekerjaan tukang sumur tidak selalu berarti menggali atau mengebor tanah. Mereka juga perlu mencari sumber masalah sebelum menentukan tindakan yang tepat.

ADVERTISEMENT

Tarifnya bisa tembus hingga Rp2,5 juta

Kuswanto membedakan tarif pembuatan sumur baru dengan pekerjaan suntik sumur. Untuk membuat sumur baru, ia mematok tarif sekitar Rp300 ribu per meter, di luar biaya bahan. Sementara itu, tarif suntik sumur berkisar Rp1 juta hingga Rp2,5 juta. Besarannya bergantung pada kedalaman tambahan, ukuran pipa, dan kebutuhan teknis lainnya.

“Kalau suntik bisa lebih mahal tergantung mau ditambah berapa meter kedalamannya,” ujarnya.

Suntik sumur umumnya merujuk pada upaya memperdalam sumur yang sudah ada agar pipa pengambilan air dapat menjangkau lapisan air tanah yang lebih dalam. Ia perlu memeriksa kondisi sumur, menentukan kebutuhan kedalaman tambahan, kemudian menggunakan peralatan dan pipa yang sesuai.

Pekerjaan ini berbeda dengan sumur gali umumnya. Sumur gali memanfaatkan lubang yang dibuat dengan menggali tanah hingga mencapai sumber air dangkal, sedangkan sumur bor menggunakan lubang berdiameter lebih kecil dengan bantuan peralatan pengeboran. Penanganan keduanya bergantung pada konstruksi dan kondisi sumber air masing-masing.

Suntik sumur juga bukan jaminan air langsung kembali melimpah. Hasilnya bergantung pada kondisi lapisan pembawa air atau akuifer, kedalaman sumber air, dan kondisi bangunan itu sendiri.

Spesialis suntik sumur adalah pekerjaan sampingan yang menjanjikan

Berbeda dengan Kuswanto, Juman lebih memilih pekerjaan suntik sumur saja. Saya berbincang dengannya pada Rabu (14/10/2026). Sehari-hari, Juman bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah sakit. Jadwal pekerjaan utamanya membuat ia harus memilih pekerjaan sampingan yang tidak menyita terlalu banyak waktu.

“Saya jarang mau kalau membuat sumur baru karena memang butuh tenaga ekstra dan butuh waktu lama, sedangkan pekerjaan saya sebagai cleaning service di rumah sakit kan nggak fleksibel,” ujar Juman.

Untuk tarif, Juman menyebut kisaran yang hampir sama dengan Kuswanto, yakni Rp1 juta sampai Rp2,5 juta. Namun, ia punya cara sendiri ketika menentukan ongkos jasa.

“Saya biasanya nggak matok tarif. Kalau orangnya sudah kenal biasanya dia tanya-tanya pelanggan saya yang dulu harga saya berapa,” katanya.

Jika belum mengenal pelanggan, Juman biasanya menjelaskan bahwa ia tidak mematok tarif pasti. Ia menyerahkan penilaian ongkos kepada pemilik setelah pekerjaan selesai, terutama ketika pelanggan menyediakan bahan sendiri.

“Saya nderek mawon yang penting pekerjaan selesai,” ujarnya.

Sistem tersebut membuat hubungan dengan pelanggan menjadi penting. Pengalaman kerja, rekomendasi dari pelanggan lama, dan kepercayaan warga ikut menentukan apakah seseorang kembali memanggil Juman ketika sumurnya bermasalah.

Musim kemarau membuat keahlian ini paling banyak dicari

Musim kemarau 2026 memberi konteks penting bagi pekerjaan mereka. Pada 24 September 2026, BPBD DIY menyatakan seluruh wilayah DIY berada dalam status awas kekeringan meteorologis untuk periode 21–30 September.

Bahkan, menurut laporan BPBD DIY yang dikutip BPK Perwakilan DIY pada 1 Oktober 2026, pemerintah telah mendistribusikan 6.043.000 liter air bersih ke wilayah terdampak kekeringan selama 4 Juli–31 Agustus 2026. Distribusi tersebut menjangkau empat kabupaten, termasuk Sleman.

Data itu tidak berarti setiap rumah  mengalami kekeringan. Namun, situasi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan air menjadi persoalan nyata bagi sebagian warga DIY.

Ketika permukaan air tanah turun, pemilik sumur bor bisa mencari bantuan tukang sumur untuk memeriksa penyebabnya. Jika masalahnya memang berkaitan dengan kedalaman pengambilan air, suntik sumur dapat menjadi salah satu pilihan. Jika pompa rusak atau pipa tersumbat, perbaikan komponen mungkin lebih tepat.

Bagi Kuswanto dan Juman, permintaan jasa semacam ini membuka kesempatan memperoleh penghasilan tambahan. Mereka tidak harus meninggalkan pekerjaan utama untuk menekuni profesi tersebut.

“Kalau mengandalkan gaji kerjaan saja tidak cukup, mas. Makanya suntik sumur ini jadi uang tambahan buat nambal keperluan rumah,” ujar mereka senada.

Sanyo katanya bakal kena pajak, tukang suntik sumur ikut terseret isu

Di tengah kebutuhan warga untuk menjaga pasokan air, muncul isu lain yang ikut meramaikan pembicaraan soal sumur rumah tangga. Pada Oktober 2026, kabar bahwa pemilik sumur bor dan pompa Sanyo bakal dikenai pajak setara tarif PDAM kembali beredar di media sosial. Padahal, Kementerian Komunikasi dan Digital telah mengklarifikasi klaim tersebut sebagai hoaks.

Pemerintah memang mengenal Pajak Air Tanah (PAT) melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Namun, Pasal 65 mengecualikan pengambilan air tanah untuk kebutuhan dasar rumah tangga dari objek pajak. Artinya, warga yang menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari tidak otomatis harus membayar pajak hanya karena memasang pompa Sanyo di rumahnya.

Masyarakat juga perlu membedakan pajak pengambilan air tanah, ketentuan izin penggunaan air tanah, serta biaya membuat atau memperbaiki sumur. Ketiganya memiliki dasar dan ketentuan berbeda. Sementara itu, Permen ESDM Nomor 4 Tahun 2026 mengatur penggunaan air tanah dan ketentuan administratif terkait, bukan menetapkan pajak otomatis bagi setiap pemilik sumur rumah tangga.

Bagi warga kampung yang mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, persoalan yang paling dekat justru memastikan air tetap mengalir dan biaya perbaikannya tidak membebani pengeluaran keluarga. Di sisi lain, bagi Kuswanto dan Juman, pekerjaan suntik sumur menjadi salah satu cara memperoleh tambahan pemasukan di luar pekerjaan utama mereka.

Selama warga masih membutuhkan air dan sumur masih memerlukan perawatan, keahlian tukang sumur tetap punya nilai ekonomi. Bukan karena setiap sumur akan dikenai pajak, melainkan karena kebutuhan air tidak bisa ditunda sampai kabar viral di media sosial menemukan kebenarannya.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Alasan Warga Jogja Masih Banyak Minum Air dari Sumur yang Tercemar E Coli atau reportase khusus Mojok lainnya di rubrik Suara Bawah Tanah

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.