ADVERTISEMENT

Tukang Servis Kompor dan Sanyo: Profesi Penyelamat Ibu-Ibu Kampung yang Sering Diremehkan

Tukang Servis Kompor: Profesi Penyelamat Ibu-ibu di Kampung. MOJOK.CO

Menjadi tukang servis kompor dan sanyo di kampung adalah profesi yang cukup menjanjikan. Meski diremehkan karena ‘mending beli baru’ keberadaan profesi itu malah menjadi penyelamat bagi ibu-ibu di kampung ketika keadaan mendesak dan dompet tipis.

***

ADVERTISEMENT

Bagi sebagian orang, kompor rusak atau pompa air yang mendadak mogok mungkin terdengar seperti masalah sepele. Namun, ketika nasi belum matang dan air tak kunjung mengalir, dua barang itu bisa membuat pekerjaan rumah tangga berantakan. Di kampung saya, ada profesi yang kami sebut sebagai si tukang serba bisa yang siap membantu tetangga memperbaiki peralatan rumah tangga tanpa mematok tarif mahal. Padahal, ia juga punya bengkel mobil sendiri.

Punya bengkel mobil, tetapi tetap melayani servis kompor dan sanyo dengan otodidak

Namanya Sarmoko (50-an), tetapi warga kampung memanggilnya Lik Moko. Sejak pulang merantau dari Kalimantan pada 2008, ia rutin menerima panggilan servis kompor, pompa air atau Sanyo, kulkas, hingga saluran wastafel yang mampet.

Pekerjaan itu sebenarnya bukan sumber penghasilan utamanya. Lik Moko menjalankan bengkel mobil di rumah. Ketika siang sibuk mengurus kendaraan, pagi atau sore menjelang malam ia masih menyempatkan diri mendatangi rumah tetangga yang membutuhkan jasanya.

Minggu (18/10/2026), saya menemui Lik Moko saat ia memperbaiki pompa air milik tetangga. Tangannya sibuk mengutak-atik mesin, sementara ia menjelaskan bagaimana keterampilannya berkembang selama bertahun-tahun.

“Saya sebenarnya otodidak, Mas, servis kompor dan Sanyo begini. Tidak belajar dari siapa-siapa, murni karena belajar sendiri. Saya itu senang utak-atik, jadi sembarang barang elektronik saya bisa. Kemarin tetangga itu minta tolong saya benerin AC yang model duduk gitu juga bisa,” ujar Lik Moko.

Kemampuan itu membuatnya menjadi salah satu orang yang diandalkan warga ketika peralatan rumah tangga bermasalah. Mereka tak perlu buru-buru membeli barang baru atau mencari teknisi jauh-jauh. Cukup menelepon Lik Moko, lalu menunggu giliran.

Melakoni sebagai tukang servis kompor dengan tarif seikhlasnya

Ada satu hal yang membuat jasa Lik Moko berbeda dari layanan servis pada umumnya: ia tidak memasang tarif baku. Ia membiarkan pelanggan menentukan upah sesuai kemampuan, meski tetap punya batas penerimaan untuk pekerjaan tertentu.

“Kalau tarif saya bebas, Mas, tidak ngarani, sak pawehe yang punya. Tapi kalau servis Sanyo dan servis kompor, saya biasanya mentok hanya menerima upah jasa Rp50 ribu. Kalau yang lain bisa variatif antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

Tarif itu belum termasuk pembelian suku cadang. Besarnya upah juga menyesuaikan tingkat kesulitan pekerjaan. Artinya, angka tersebut merupakan tarif berdasarkan pengalaman Lik Moko, bukan patokan harga seluruh teknisi.

Sebagai pembanding, penyedia layanan servis Sejasa mencantumkan tarif jasa servis pompa air standar sebesar Rp180 ribu untuk perbaikan ringan dan Rp450 ribu untuk perbaikan besar. Biaya pengecekan tanpa servis tercantum Rp75 ribu. Tarif penyedia jasa tentu berbeda-beda menurut lokasi, jenis kerusakan, dan lingkup pekerjaan. Namun, perbandingan ini menunjukkan bahwa jasa perbaikan peralatan rumah tangga memang memiliki nilai ekonomi. .

Bagi Lik Moko, mencari uang dari keterampilan tidak harus selalu dengan memasang tarif tinggi. Ia tetap memperoleh penghasilan dari pekerjaan sampingan, sementara pelanggan mendapat bantuan dengan biaya yang relatif terjangkau.

Kadang tak mau dibayar, cukup segelas kopi hitam

Meski memiliki tarif, Lik Moko tidak selalu meminta uang. Jika kerusakannya ringan dan ia bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat, ia terkadang menolak upah dari pemilik barang.

“Kalau saya dikasih kopi hitam pahit saja sudah cukup,” katanya.

Kebiasaan itu membuat pekerjaan Lik Moko tidak selalu bisa dihitung sebagai sumber pendapatan yang pasti. Ada pekerjaan yang menghasilkan puluhan ribu rupiah, ada pula yang hanya memberinya secangkir kopi. Namun, ia tidak serta-merta menganggap semua barang rusak layak diperbaiki. Jika kerusakannya parah dan biaya perbaikan berpotensi membebani pemilik, ia akan menyarankan mereka membeli barang baru.

“Kalau saya orangnya terbuka, Mas. Kalau semisal memang harus ganti baru, ya saya bilang ganti baru saja. Nanti kalau saya perbaiki bisa nyala, tapi tidak lama mati lagi. Kan eman daripada bolak-balik keluar uang,” ujarnya.

Sikap tersebut penting bagi pelanggan. Mereka tidak hanya membutuhkan teknisi yang mampu memperbaiki barang, tetapi juga orang yang jujur mengenai kondisi barang dan biaya yang mungkin muncul setelah perbaikan.

Mesin cuci gratis yang membuatnya dicurigai mencuri barang servisan

Dari sekian banyak pengalaman selama menerima panggilan servis, Lik Moko punya cerita yang masih membuatnya tertawa. Suatu hari, seorang pemilik rumah besar di ujung kampung memintanya memeriksa mesin cuci. Setelah mengecek kondisinya, Lik Moko merasa mesin itu sebenarnya masih bagus. Namun, pemilik rumah justru memintanya membawa pulang mesin cuci tersebut karena telanjur membeli unit baru.

“Wah, saya ya sujud syukur. Baru dua hari sebelumnya anak saya sambat nyuci manual itu capek. Pas saya sampai rumah malah saya dikira nyuri mesin cuci sama anak saya, lha dalah,” ceritanya sambil tertawa dan menepuk jidat.

Cerita itu memperlihatkan sisi lain pekerjaan teknisi rumahan. Selain memperoleh upah, mereka kadang mendapat barang yang masih layak pakai dari pelanggan yang ingin menggantinya dengan unit baru. Tentu saja, pengalaman Lik Moko ini bukan gambaran pendapatan rutin. Itu hanya salah satu kejadian tak terduga yang membuat pekerjaannya terasa lebih berwarna.

Mengatur antrean servis kompor dan sanyo untuk merawat kepercayaan tetangga

Dalam menjalankan jasa servis, Lik Moko juga menerapkan aturan sederhana: siapa yang lebih dulu menghubunginya, dia yang lebih dulu mendapat layanan.

“Saya mengatur skala prioritas kalau bahasanya. Siapa yang telepon saya dulu, ya itu yang saya garap. Kalau ada telepon dan saya bilang antre, terus ditolak pengennya di dahulukan, ya sudah saya tolak sekalian. Wong saya juga mendahulukan yang duluan telepon saya,” ujarnya.

Aturan itu membuatnya tidak perlu menjanjikan semua pekerjaan selesai sekaligus. Ia juga tidak memaksakan diri menerima panggilan baru ketika masih menyelesaikan pekerjaan sebelumnya.

Usaha jasa perbaikan peralatan rumah tangga sendiri tercakup dalam klasifikasi BPS KBLI 95220, yang meliputi reparasi dan perawatan peralatan seperti kulkas, kompor, mesin cuci, AC, serta peralatan rumah tangga lainnya. .

Bagi orang yang memiliki keterampilan dan jaringan pelanggan, servis kompor dan Sanyo bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Namun, besarnya keuntungan tetap bergantung pada jumlah panggilan, waktu pengerjaan, biaya transportasi, dan suku cadang. Kisah Lik Moko menunjukkan bahwa keterampilan saja tidak cukup; kejujuran dan pengelolaan pekerjaan juga ikut menentukan keberlangsungan usaha.

Di kampung, Lik Moko mungkin lebih dikenal sebagai orang yang bisa memperbaiki apa saja daripada sebagai pengusaha jasa. Ia tidak memasang papan tarif besar atau menjanjikan layanan paling murah. Ia hanya menerima panggilan, memeriksa kerusakan, lalu mengerjakannya sesuai kemampuan.

Bagi ibu-ibu yang harus segera memasak atau keluarga yang membutuhkan air untuk mandi dan mencuci, bantuan semacam itu bukan perkara kecil. Kadang, penyelamat urusan rumah tangga memang bukan layanan mahal, melainkan tetangga yang mau datang membawa perkakas dan bersedia membantu.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Kuras Habis Tabungan usai PHK untuk Bisnis Es Batu Kristal, Tak Mengira Cuan Rp10 Juta Per Bulan dari Rumahan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.