Bagi sebagian orang, pekerjaan impian berarti pekerjaan dengan gaji besar, jenjang karir menjanjikan, dan masa depan yang lebih mapan. Namun, ada juga yang memilih mendapat gaji kecil asal ia bisa memiliki waktu setiap akhir pekan untuk menikmati hobinya: mancing.
***
Hendrawan (29), atau Wawan, punya ukuran yang berbeda soal pekerjaan impian. Pemuda kampung yang bekerja sebagai kuli bangunan ini tidak punya cita-cita bekerja di perusahaan besar. Ia hanya ingin bekerja dengan tenang, menerima upah yang cukup, dan tetap punya waktu untuk memancing.
“Kalau ditanya cukup apa enggak, ya sebenarnya dicukup-cukupin, Mas. Toh, saya juga belum menikah. Kadang cukup, kadang harus ngebon dulu ke juragan,” ujar Wawan ketika saya temui pada Sabtu (10/10/2026).
Bagi Wawan, hidup tidak harus selalu mengejar sesuatu yang lebih besar. Selama masih bisa bekerja dan menyalurkan hobi, ia merasa tidak perlu memusingkan pekerjaan impian yang kerap dibicarakan orang-orang kota.
Jadi kuli bangunan dengan gaji Rp2,8 juta sebulan
Setiap Senin hingga Sabtu, Wawan bekerja sebagai kuli bangunan. Ia menerima upah sekitar Rp700 ribu setiap minggu. Jika pekerjaannya berjalan lancar selama empat minggu, penghasilannya mencapai Rp2,8 juta sebulan, cukup besar jika dilihat, padahal ia menerimanya setiap satu minggu sekali sehingga kadang cukup untuk minggu berikutnya, kadang juga tidak.
Uang itu ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Wawan mengakui penghasilannya belum selalu cukup. Ada kalanya ia harus meminta uang lebih dahulu kepada juragan untuk menutup kebutuhan yang mendesak. Meski begitu, ia tidak merasa perlu buru-buru mencari pekerjaan lain hanya demi memperoleh gaji lebih besar.
“Saya sih enggak masalah kerja apa saja dan gaji berapa saja, yang penting halal. Asalkan, saya punya waktu untuk memancing, minimal seminggu sekali di akhir pekan,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Wawan, pekerjaan tidak harus terlihat keren di mata orang lain. Ia juga tidak merasa perlu membuktikan kesuksesan melalui jabatan atau penghasilan yang fantastis. Yang terpenting ia memiliki waktu luang untuk menyalurkan hobinya.
Pekerjaan impian tidak harus bergaji puluhan juta
Obrolan soal pekerjaan impian sering kali berujung pada pertanyaan tentang gaji, fasilitas, dan peluang kenaikan jabatan. Namun, Wawan justru memikirkan hal yang lebih sederhana: apakah pekerjaannya masih memberinya waktu untuk menikmati hidup?
Pandangan itu bukan berarti persoalan gaji tidak penting. Wawan sendiri mengaku terkadang harus berutang kepada juragan. Penghasilannya yang terbatas tetap menghadirkan persoalan sehari-hari, meski ia tidak menjadikan gaji besar sebagai target utama.
Survei Jakpat pada Desember 2024 terhadap 618 responden Gen Z yang bekerja dan sedang mencari pekerjaan menunjukkan bahwa 69 persen responden mempertimbangkan gaji dan kompensasi. Sementara itu, 53 persen mempertimbangkan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance). Temuan ini memperlihatkan bahwa penghasilan dan waktu luang sama-sama menjadi pertimbangan dalam mencari pekerjaan. Namun, survei tersebut tidak secara khusus menggambarkan pemuda kampung atau pekerja bangunan. Bagi Wawan, urusan itu tidak perlu dirumuskan terlalu rumit.
“Kalau bisa kerja, dapat uang, terus masih bisa mancing, ya sudah. Saya enggak punya keinginan macam-macam,” katanya.
Mancing jadi hiburan setelah enam hari bekerja
Bagi Wawan dan beberapa pemuda di kampung saya, akhir pekan bukan semata-mata waktu untuk tidur lebih lama. Mereka biasanya menyempatkan diri pergi memancing setelah bekerja sepanjang pekan.
Tujuannya beragam. Ada yang mendatangi kolam pemancingan milik perseorangan, ada pula yang menyusuri sungai untuk mencari spot nal nil, istilah yang mereka gunakan untuk menyebut tempat memancing dan mendapatkan ikan.
Saya sendiri bukan orang yang gemar memancing. Saya kerap heran melihat orang-orang yang sanggup duduk berjam-jam menunggu umpan disambar ikan. Kalau saya, mungkin belum ada ikan yang mendekat, saya sudah mengantuk lebih dahulu. Namun, Wawan punya alasan tersendiri untuk menikmati kegiatan tersebut.
“Ya kami cuma cari hiburan dan ketenangan. Seminggu kerja kan capek. Nah, hiburannya ya memancing,” ujarnya.
Bagi Wawan, memancing bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Ia juga menikmati perjalanan menuju tempat yang jauh dari keramaian dan rutinitas sehari-hari.
Tidak dapat ikan pun tidak masalah
Ada satu hal yang membuat saya semakin memahami alasan Wawan menyukai hobinya. Ia tidak selalu pulang membawa ikan, tetapi itu bukan persoalan besar baginya.
“Kami enggak dapat ikan saja senang, apalagi dapat ikan besar, sujud syukur deh,” katanya sambil tertawa.
Menurut Wawan, kesenangan memancing tidak semata-mata bergantung pada hasil tangkapan. Ia dan kawan-kawannya juga menikmati suasana sungai atau kolam yang jauh dari keramaian.
“Intinya kami memancing bukan sekadar memburu ikan saja. Kami ingin ketenangan, jauh dari kehidupan kota dan kampung. Pergi ke sungai atau kolam yang jauh biar tenang. Masalah dapat ikan atau tidak, kami mikirnya itu bonus saja,” jelasnya.
Jawaban itu membuat saya memahami bahwa hobi tersebut menawarkan sesuatu yang tidak selalu bisa diukur dengan uang. Wawan memang membutuhkan penghasilan untuk hidup, tetapi ia juga membutuhkan kegiatan yang membuatnya merasa senang setelah bekerja.
Gaji kecil tidak masalah, asal bisa mancing
Saya tidak bisa mengatakan bahwa pilihan hidup Wawan merupakan rumus kebahagiaan yang cocok untuk semua orang. Penghasilan Rp2,8 juta sebulan, apalagi ketika masih harus berutang untuk memenuhi kebutuhan, tentu bukan keadaan yang ideal bagi semua orang.
Namun, Wawan tidak sedang menawarkan resep sukses. Ia hanya menceritakan hal yang ingin ia pertahankan dalam hidupnya: pekerjaan halal, penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari, dan waktu untuk memancing. Pekerjaan impian bagi Wawan tidak harus membuatnya kaya atau dipandang sukses oleh orang lain. Ia tidak sedang mengejar jabatan tinggi, apalagi membayangkan karier yang mengharuskannya menghabiskan seluruh waktu untuk bekerja.
“Gaji berapa pun saya enggak masalah, asal saya bisa mancing dan mancing,” tutup Wawan berkelakar.
Bagi saya, jawaban Wawan terdengar sederhana, bahkan mungkin sulit dipahami oleh orang-orang yang menjadikan pekerjaan sebagai tolok ukur keberhasilan hidup. Namun, saya rasa, tidak semua orang harus punya ambisi yang sama.
Wawan tetap harus bekerja enam hari seminggu. Ia juga tetap harus memikirkan uang ketika penghasilannya tidak cukup. Akan tetapi, selama masih punya waktu untuk pergi ke sungai atau kolam pada akhir pekan, ia punya sesuatu yang membuatnya bersemangat menjalani pekan berikutnya. Setidaknya, untuk saat ini, itulah pekerjaan impian Wawan: bekerja secukupnya, hidup sebisanya, lalu memancing lagi pada akhir pekan.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Lulusan S3 di Jogja Tolak Tawaran Jadi Dosen karena Takut Kehilangan Waktu Luang untuk Mancing atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan