Membangun mushola kayu di sisi rumah nyatanya bukan melulu berkaitan dengan keperluan ibadah. Meski kecil, bangunan tersebut nyatanya bisa menjadi tempat me time, nostalgia masa kecil, dan menenangkan diri terbaik.
***
Dulu pada awal 2024 saat pindah ke Jogja, sebelum Akademi Bahagia EA menjadi ruang publik seriuh sekarang, saya kerap menghabiskan waktu sehabis salat (terutama salat Magrib dan Subuh) untuk duduk diam. Tidak mengaji, tidak pula berzikir. Hanya diam sembari merasakan hembusan angin. Rasanya menangkan sekali. Karena memang masih sangat sepi. Belum ada aktivitas anak-anak muda datang untuk nyore di sana.
Kini tentu saya tidak bisa leluasa melakukannya. Sebab, di setiap jam salat lima waktu, mushola kayu kecil tersebut pasti akan mengular antrean teman-teman Muslim yang hendak menunaikan kewajiban. Harus bergantian. Sehingga saya pun tidak bisa berlama-lama lagi seperti sebelumnya.
Namun, suasana itu membuat saya kerap membayang-bayangkan: suatu saat jika saya sudah cukup rezeki untuk memiliki rumah sendiri (amin, semoga), saya ingin membangun mushola kayu kecil di sisinya. Apalagi setelah seorang teman lama, Halim (26), bercerita soal nikmatnya memiliki mushola kayu di sisi rumah selain karena perkara fungsi utamanya sebagai ruang ibadah.
Memang jadi tempat nikmat untuk ibadah untuk keluarga maupun tamu
Mushola kayu di samping rumah Halim biasanya aktif digunakan untuk salat Magrib, Isya, dan Subuh. Jam-jam ketika anggota keluarga memang ada di rumah. “Kadang berjemaah, kadang juga sendiri-sendiri,” ucap pemuda asal Pacet, Mojokerto, tersebut, Rabu (7/10/2026.
Yang jelas, mushola kayu tersebut biasanya digunakan oleh ibunya untuk mendaras Al-Qur’an sehabis salat. Sesekali Halim juga mendaras Al-Qur’an di sana.
Mushola tersebut berbentuk ruang minimalis belaka. Terdiri dari bagian dalam yang kira-kira cukup untuk 3-4 orang. Lalu ada teras kecil di depannya, beratap genteng, dan memiliki tangga kecil. Berbentuk seperti gazebo lah. Jika banyak orang di daerahnya memilih membangun gazebo di halaman rumah, keluarga Halim memilih membangun mushola kayu.
Bagi Ibu Halim, ada sensasi kenikmatan tersendiri setiap membaca Al-Qur’an di mushola kayu samping rumahnya tersebut. Katanya, rasanya seperti nostalgia masa kecil. Dulu, di zaman ibunya masih kecil, memang masih banyak langgar-langgar kayu di desa. Dengan cahaya dari lampu teplok, Ibu Halim dan teman-teman masa kecilnya meriung untuk mengaji Al-Qur’an di hadapan sang guru.
“Kalau bagiku sendiri, nikmatnya itu pas momen Ramadan. Kalau keluargaku kan memang pas azan Magrib milih makan dulu, baru salat. Nah, momen habis salat itu aku sama Bapak pasti duduk-duduk dulu di situ,” ujar Halim.
“Dan bahkan mushola kecil itu bisa sangat hidup. Ya karena habis tarawih di masjid misalnya, Bapakku masih sempet tadarus sendiri di mushola rumah sampai larut,” sambungnya.
Sensasi nikmat mushola kayu samping rumah itu juga dirasakan oleh saudara atau teman Halim yang bertamu. “Lebih gampang juga kalau ada tamu. Karena misalnya mau salat, karena pekewuh kalau salat di dalam rumah, tamu bisa leluasa ke mushola,” tutur Halim.
Mushola kayu rumah: tempat me time dan menepi terbaik untuk sekadar melamun
Halim sebenarnya banyak menghabiskan waktunya di Surabaya, sedari masa kuliah hingga kini bekerja. Namun, mushola kayu rumah tersebut selalu menjadi tempat terbaik untuk me time dan menepi.
Setiap pulang ke Mojokerto (seringnya dua minggu sekali), selain menggunakan mushola kayu rumah untuk salat, Halim kerap menjadikannya sebagai tempat menepi dari segala kepenatan dari rutinitas duniawi yang ia jalani.
“Duduk di lantai kayunya, cuma diem, melamun, terus tiba-tiba tenang. Apalagi pas angin lewat, langsung nutup mata, menghela napas pelan,” beber Halim.
Ketenangan tersebut, menurut Halim, sering kali datang dari momen kesadaran: ia masih punya Tuhan, ia tidak mungkin dibiarkan sendirian jika tengah mengalami kesulitan.
Mungkin terdengar agak aneh. Tetapi, kerap kali Halim duduk sambil bergumam sendiri. Entah berdialog dengan diri sendiri atau seolah tengah berbincang dengan “Yang di Atas”.
Tapi tentu saja model me time Halim tidak sekadar duduk-duduk melamun atau bergumam sendiri. Tidak jarang pula ia membaca buku di mushola rumahnya, maupun menonton tayangan YouTube bernuansa spiritual (seperti podcast Ustaz Felix Siauw, ngaji Gus Baha, siaran langsung ngaji di Teras Gubuk Gus Kautsar, rutinan Sabilu Taubah Gus Iqdam, dan tayangan-tayangan sejenis). Nah, di momen semacam itu, datanglah kenikmatan berikutnya.
Rebahan hingga tertidur pulas di mushola kayu rumah
Amat sering Halim melakukan aktivitas me time di mushola kayu rumah di jam-jam 8 malam ke atas, sembari rebahan. Nah, tiba-tiba saja ia seliyeran karena angin sepoi dan sayup-sayup suara ngaji yang membuatnya lantas ketiduran.
Bukannya tidak ada yang membangunkan. Kadang kala sang bapak sudah susah payah membangunkan. Namun, saking pulasnya, Halim benar-benar susah dibangunkan. Alhasil, beberapa kali bapaknya justru ikut tidur di mushola kayu tersebut.
“Pokoknya bangun-bangun ternyata udah Subuh saja. Udah ada Bapak juga terlentang di bagian teras mushola. Bener-bener pulas,” kata Halim.
“Tapi kemudian aku bilang, kalau aku ketiduran, ya sudah nggak usah dibangunkan. Biarkan saja. Karena memang pasti pulas,” sambungnya.
Kadang momen ketiduran itu terjadi karena rebahan sembari menyimak tayangan ngaji di YouTube. Tetapi sering juga, selepas mendirikan salat Isya di jam-jam 10 malam, ia yang mulanya merebahkan badan dengan niat sesaat saja, tapi tiba-tiba langsung bablas ketiduran.
“Nggak tahu ya, sekali nempel ke lantai kayunya, rasanya langsung ayem gitu, tahu-tahu sudah ketiduran,” ujarnya.
Tidak hanya Halim, beberapa teman Halim atau teman adiknya yang main di rumah juga acap kali sengaja tidur bareng di mushola kayu tersebut. Mengingatkan Halim ke masa kanak-kanak dulu, ketika tidur di masjid dan mushola desa menjadi sesuatu yang masih jamak dijumpai. Seperti sang Ibu, mushola kayu rumah itu benar-benar menjadi ruang sentimentil untuk bernostalgia.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Punya Gazebo di Halaman: Meski Rumah Tak Megah tapi Bikin Betah karena Jadi Spot Terbaik Relaksasi dan Macam-macam Fungsi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan