ADVERTISEMENT

Renovasi Rumah Pakai Uang Sendiri adalah Seporsi Kemenangan Gen Z di Tengah Stigma Lembek dan Tak Mungkin Sukses

Gen Z, rumah di kampung.MOJOK.CO

Gen Z, generasi yang sering mendapat cap malas, lemah, dan tak mungkin sukses, punya cara sendiri untuk memaknai sebuah pencapaian. Bagi mereka, merenovasi rumah pakai uang sendiri, meski baru kecil-kecilan, adalah sebuah kebanggaan.

***

Saat di kantor, telinga Zahra (26) sering kali terasa panas. Obrolan para seniornya hampir selalu bermuara pada topik yang menyindir pekerja Gen Z seperti dirinya. 

Di mata generasi tua ini, anak muda sekarang adalah pekerja yang malas, gampang mengeluh, dan tidak punya ambisi untuk maju.

“Gen Z nggak mungkin sukses kata mereka. Soalnya kami ini dianggap generasi lembek,” ujar pekerja asal Sleman ini, Jumat (9/10/2026).

Label buruk itu menempel lekat pada Zahra dan teman-teman sebayanya. Bahkan, pernah ada situasi saat pekerja-pekerja muda di kantornya menolak lembur, atasan langsung mencapnya malas. 

Bagi Zahra, stigma itu sangat tidak adil. Ia melihat stigma tersebut muncul karena generasi tua enggan memahami cara kerja dan batasan generasi masa kini.

Gen Z bukan malas apalagi lembek, tapi sudah sadar hak

Zahra sendiri mengaku kalau dirinya adalah tipikal karyawan teng-go. Alias, begitu jam kerja kantor selesai, bakal langsung pulang ke rumah. Ia juga pantang membalas pesan di grup pekerjaan saat akhir pekan tiba. 

Bagi para bosnya, sikap kaku ini dianggap sebagai bentuk kemalasan kerja. Padahal, Zahra hanya sedang membuat batasan. 

“Boundaries,” kata dia. “Jam kerjaku memang delapan jam sehari, sesuai kontrak. Kalau kami pulang tepat waktu malah dibilang saklek. Padahal itu bukan malas, tapi hak kita buat istirahat.”

Adapun ia juga dapat label “lembek” karena dianggap terlalu banyak menuntut dan mengeluh. Menurut Zahra, keluhan itu bukan tanda kelemahan. Keluhan justru muncul sebagai kritik tajam ketika ritme dan beban kerja sudah tidak masuk akal. 

Di kantornya, ia pernah dipaksa mengerjakan tugas milik dua orang yang baru saja resign. Beban itu diberikan tanpa tambahan uang sepeser pun. Bagi Zahra, bersuara dan mengeluh adalah satu-satunya perlawanan agar tidak terus-menerus dieksploitasi oleh perusahaan.

Akibat batasan kerja dan seringnya mengeluh tadi, Gen Z kerap dicap tidak punya masa depan. Mereka dianggap terlalu pemilih, apalagi banyak yang suka berpindah tempat kerja. Bahkan, banyak yang terang-terangan menolak tawaran promosi jabatan, termasuk Zahra. 

“Naik jabatan di sini itu jebakan. Tanggung jawabnya nambah gila-gilaan, tapi gajinya cuma naik beberapa ratus ribu. Mending jadi staf biasa aja yang penting kewarasan terjaga,” tegas perempuan asal Sleman ini.

Seporsi kemenangan ala Gen Z

Di saat dunia menganggapnya tidak berambisi–bahkan dicap tak mungkin sukses, Zahra nyatanya bisa merayakan pencapaiannya sendiri. Ia menyebutnya sebagai “kemenangan kecil”. 

Zahra bercerita, sejak kecil ia memendam luka batin soal kondisi rumahnya. Di lingkungan tempat tinggalnya, rumah orang tuanya adalah yang paling jelek. Dinding ruang tamunya hanya terbuat dari papan kayu. Sementara lantainya pun hanya berupa plesteran semen kasar.

Ia mengaku, kondisi itu membuatnya sangat minder. “Setiap kali ada temen sekolah mau main ke rumah, aku selalu nolak karena malu,” kata Gen Z ini.

Luka masa kecil itulah yang ia pendam hingga saat ini. Begitu sudah bekerja, bisa mengantongi gaji dan memiliki tabungan sendiri, hal pertama yang menjadi prioritasnya adalah merenovasi rumah.

“Rumah itu tempat kita pulang. Ada kebanggan saat kita bisa membuatnya nyaman dan enak dilihat, apalagi pakai duit sendiri.”

Zahra bilang, renovasinya masih di tahap kecil-kecilan. Baru mengganti dinding kayu dengan tembok, dan mulai memasang keramik di ruang tamu. Ia akan melakukannya secara pelan-pelan, sedikit demi sedikit.

Kecil tapi berharga

Zahra mengaku, rumahnya memang belum sepenuhnya bagus. Renovasi itupun kalau dilihat, baru menyentuh bagian ruang tamu saja. Area dapur dan kamar mandinya masih lama. Kamar-kamar tidur juga belum direnovasi karena harus menunggu uang tabungannya terkumpul lagi.

Namun, bagi Gen Z ini, semua itu bukan masalah. Toh, kemenangan kecilnya diraih dari uang hasil keringatnya sendiri.

“Renovasi rumah sudah seperi self-reward bagiku. Harapannya ketika usiaku 30 nanti, rumah sudah sepenuhnya baru. Udah bagus.”

Perasaan yang sama juga sedang dirasakan oleh Sasa (27). Sebagai anak tunggal, perempuan ini tumbuh besar di rumah yang belum pernah direnovasi sama sekali sejak ia kecil.

Semasa hidupnya, almarhum ayah Sasa punya satu cita-cita. Sang ayah sangat ingin merenovasi dinding depan rumah dan memasang keramik di teras agar hunian mereka terlihat lebih layak. 

“Kata bapak biar kalau lebaran enak buat ngumpul,” ujarnya. “Sayangnya karena kami miskin, ayah pun hanya serabutan, jadinya sampai ayah meninggal dunia impian sederhana itu urung terwujud.”

Hal itu terus membekas di ingatan Sasa. Setelah ia mendapat pekerjaan dan mulai memegang uang sendiri, tidak ada prioritas lain di kepalanya. Ia menyisihkan gajinya setiap bulan khusus untuk mewujudkan impian mendiang ayahnya.

Saat tabungannya dirasa cukup, ia langsung mulai merenovasi rumah. Persis seperti harapan kecil mendiang ayahnya.

“Renovasinya memang sebagian kecil saja di area depan, tapi ini sangat berarti bagi saya,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Beli Rumah Pertama meski di Samping Kuburan dan Dianggap Aneh Mertua tapi Justru Beri Ketenangan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.