Meski berhasil mapan dan mendapatkan karier kerja cemerlang, lulusan SMA ini diam-diam menyesal. Ia merasa iri pada para sarjana yang bisa mendapatkan privilese lebih bermodal ijazah S1.
***
Di usia 30 tahun, Bima* sudah menggenggam apa yang dikejar banyak perantau di Jogja. Ia punya posisi aman sebagai kepala toko di sebuah jejaring ritel ternama.
Setiap pagi, ia mengendarai Honda PCX miliknya sendiri membelah jalanan Jogja. Di akhir pekan, ia rutin nongkrong dan beberapa kali mentraktir teman-temannya ngopi enak di kafe.
Secara finansial, Bima menang. Namun, ada satu hal yang kerap membuatnya diam-diam merasa kalah: ijazah SMA.
“Aku nggak bisa bohong, setiap kali ngomongin ijazah aku kayak orang yang kecil banget,” ujarnya saat mengobrol dengan saya beberapa hari yang lalu.
Bima, bisa jadi, menjadi potret orang-orang yang berhasil meretas kerasnya bursa kerja tanpa gelar akademik. Ia punya uang dan jabatan. Meski begitu, di negara yang memuja gelar, kenyamanan finansial ternyata gagal membungkam rasa inferior.
Jadi paling “OP” di toko, tapi tak bisa naik jabatan lebih tinggi
Sepuluh tahun bekerja dari bawah, Bima hafal luar-dalam operasional toko tempatnya bekerja. Ia tahu cara menghadapi distributor yang sulit. Ia juga teliti menyusun jadwal sif yang adil untuk belasan anak buahnya.
“Aku udah paling OP (over power) lah ibaratnya di toko,” katanya sambil tertawa.
Ketika posisi Manajer Area kosong pada awal tahun lalu, ia merasa wajar jika kursi itu layak menjadi miliknya.
Sayangnya, kenyataan berbicara lain. Tim HRD menolak pengajuannya tanpa melihat kinerjanya sama sekali. Alasannya: posisi manajerial mewajibkan gelar minimal sarjana.
“Aku bisa aja ambil (kuliah) kelas karyawan. Banyak yang menyarankan juga. Tapi buat apa, kan nasi juga udah jadi bubur,” sesal lulusan SMA ini.
Jabatan itu, akhirnya jatuh ke tangan seorang karyawan yang baru lulus beberapa tahun lalu dari kampus swasta. Yang kalau kata Bima, “belum pernah sekalipun berdiri menjaga mesin kasir.”
Ironi paling menyakitkan terjadi beberapa hari kemudian. Bima ditugaskan melatih manajer baru tersebut. Ia terpaksa membagikan ilmu lapangan bertahun-tahun kepada seseorang yang di bulan-bulan berikutnya akan memberinya perintah.
Di titik ini, Bima mengaku benar-benar merasakan kenyataan pahit. Di dunia korporat, keringat dan jam terbang kerap kali harus tunduk pada gelar di ijazah.
Takut pindah tempat kerja karena cuma lulusan SMA
Tak sampai di situ. Bima merasa, kenyamanan hidupnya saat ini sebenarnya berdiri di atas pijakan yang rapuh. Perusahaannya memang stabil, tapi ancaman resesi bisnis ritel selalu membayangi.
Teman-temannya sering menyarankan Bima untuk mencoba melamar ke perusahaan lain dengan tawaran gaji lebih tinggi, misalnya. Namun, setiap kali mendengar saran itu, Bima hanya tersenyum kecut.
Ia tahu betul bagaimana sistem rekrutmen hari ini bekerja. Perusahaan modern menggunakan Applicant Tracking System (ATS), mesin penyaring otomatis. Alhasil, begitu sistem membaca pendidikan terakhirnya setingkat SMA, lamarannya akan langsung dibuang jauh sebelum dibaca oleh HRD.
“Kalau udah ngelawan mesin, pengalaman mimpin tim bertahun-tahun nggak bakal ada harganya,” kata dia.
Bima sadar dirinya terjebak. Ia harus bertahan mati-matian di perusahaannya sekarang dan menoleransi rasa sakit hatinya. Di luar sana, bagi dia, pasar tenaga kerja terlalu buta untuk membaca keahlian orang tanpa embel-embel gelar S1.
Cuek di luar, iri di dalam
Untuk menutupi rasa tidak amannya, Bima kerap menggunakan kesuksesan materialnya sebagai tameng pertahanan diri. Ketika melihat kawan-kawannya yang sarjana kesulitan mencari kerja, ia sering berujar santai.
“Buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya susah cari kerja.”
Ucapan itu terdengar arogan. Padahal, itu adalah cara Bima mengobati egonya sendiri.
Bima mengaku sadar, secara karier barangkali ia lebih unggul daripada teman sebayanya yang sarjana. Namun, di saat yang bersamaan, ia miskin secara intelektual.
Saat teman-temannya mulai bernostalgia di meja tongkrongan, Bima langsung merasa terasing. Saat teman-temannya mengingat kekonyolan masa ospek, menceritakan susahnya bikin skripsi, atau mengenang cinta lokasi saat KKN di desa terpencil, ia sama sekali nggak relate.
“Jujur ya manusiawi, pengen juga merasakan nostalgia kayak begitu.”
Dalam obrolan seperti itu, Bima hanya bisa diam. Karier menterengnya, tak sanggup membeli romansa masa muda yang terpaksa ia lewatkan akibat keengganannya buat kuliah satu dekade lalu.
Belum lagi, Bima juga mengaku, setiap musim wisuda tiba, ia sering memperhatikan anak-anak muda berbalut toga hitam. Di lubuk hatinya yang paling sunyi, ia masih bertanya-tanya, bagaimana rasanya memakai jubah itu.
“Kayaknya sih udah nggak bisa ya. Hahaha,” pungkasnya sambil tertawa.
Keterangan (*): bukan nama sebenarnya
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok di rubrik Liputan
