Tak sesuai standar sukses dan pencapaian hidup, malah makin direndahkan
Menyebalkan sekali memang. Bahkan setelah berhasil membeli mobil pribadi pun, Braja masih dipandang kurang oleh saudara di desa.
Mobil Honda Brio yang Braja bawa mudik ke desa pada akhirnya dibanding-bandingkan dengan mobil tetangga yang jauh lebih bagus, lebih gagah, dan tentu saja lebih mahal.
“Ja, Ja, mobil kayak gini aja kamu beli. Cuma muat empat orang, mana sempit. Haduh.”
Apalagi mertua Braja (orang tua istri), malah mengaku dibuat malu ke tetangga: hanya gara-gara Braja pulang membawa mobil Honda Brio bekas. Mau dipamerin ke tetangga yang mobilnya lebih bagus jelas kalah jauh.
Perasaan bingung dan dongkol pun bercampur dalam batin Braja. Ia pikir, standar sukses dan pencapaian yang diakui adalah sekadar bisa membeli mobil pribadi. Akan tetapi, faktanya itu saja tidak cukup.
“Nggak ada habisnya. Udah, biarin orang ngomong apa, yang penting keluarga kita nggak apa-apa. Ubah niatmu, beli mobil bukan sekadar untuk mengejar standar sukses mereka. Kita beli kan buat kita sendiri biar enak kan?” Ujar istri Braja.
Nyaris dijual dan pilih hidup sesuai kebutuhan
Sejak kejadian itu, Braja sebenarnya nyaris menjual mobil Honda Brio tersebut. Ya nanti lah kalau ada rezeki beli lagi yang lebih bagus.
Namun, niatnya itu tertahan oleh istri. Sebab, mobil Honda Brio yang dihina keluarga hanya karena mungil itu nyatanya berguna kok untuk mobilitas Braja dan istri. Alhasil, rencana menjualnya pun tertunda hingga sekarang.
“Cuma sejak 2025 aku udah nggak mau lagi mudik ke desa istri. Alasan lagi banyak kerjaan. Walaupun itu juga menimbulkan dugaan, aku malu kalau pulang pakai mobil jelek,” kata Braja.
Tahun 2026 ini pun sepertinya ia juga absen untuk mudik ke desa istri. Malah berencana pulang ke desa Braja saja untuk ziarah ke makam orang tua sekalian silaturahmi dengan saudara-saudara Braja yang sudah lama tidak bersua.
“Yang jelas, aku dan istri sekarang memilih tutup mata dan telinga atas standar sukses dan pencapaian hidup yang dipasang orang lain. Fokus menjalani hidup sesuai kebutuhan. Seperlunya saja,” ucap Braja.
“Dan ternyata itu lebih menenangkan dan menyenangkan daripada mencoba kelihatan sukses atau mencapai sesuatu demi menyenangkan orang lain,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














