Konon, kerja sesuai hobi adalah kemewahan tertinggi yang dimiliki seseorang, terutama anak muda. Bayangannya, kita bisa kerja seperti sedang main, sesuai passion; melakukan hal yang disukai, tapi dibayar.
Namun, kenyataannya, itu semua omong kosong. Bagi banyak orang, kerja sesuai hobi malah menyiksa. Mengapa demikian?
Hobi menggambar sejak kecil
Bagi Rida (29), menggambar adalah hidupnya. Sejak masih berseragam sekolah, buku-bukunya tak pernah selamat dari coret-coretan.
Baginya, menggambar adalah cara paling jujur untuk meluapkan emosi ketika kata-kata tak lagi cukup untuk menjelaskan apa yang sedang ia rasakan.
Kecintaannya pada seni visual terus berlanjut hingga bangku kuliah. Meski tak mengambil jurusan yang berhubungan dengan menggambar, Rida rajin nongkrong di UKM seni rupa. Ia juga bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).
Di ruang redaksi kampus inilah ia merasa benar-benar hidup. Sebagai ilustrator, ia bebas menggambar karikatur kritik sosial atau poster yang menyuarakan keresahan mahasiswa.
Ketika lulus dan langsung diterima sebagai desainer grafis di sebuah agensi periklanan di Jakarta Selatan, Rida merasa hidupnya sempurna.
“Akhirnya bisa kerja sesuai hobi, sesuai passion,” ujarnya, Sabtu (16/5/2026), menceritakan isi hatinya waktu diterima kerja dua tahun lalu. Ia membayangkan hari-harinya akan penuh dengan eksplorasi karya visual yang indah, apalagi ia dibayar untuk melakukan hal yang paling ia cintai.
Kerja sesuai hobi malah membuat kesenangan kita mati
Namun, bayangan manis itu rontok bahkan di bulan-bulan pertama. Bekerja di industri kreatif ternyata jauh dari kata “kebebasan”. Yang Rida rasakan, menggambar tak lagi soal ekspresi, tetapi memenuhi ego klien dan menuruti tenggat waktu yang seringkali tidak masuk akal.
“Kayak kita nggak bisa eksplor. Semuanya tergantung klien, meskipun menurutku selera mereka kadang harus dipertanyakan,” jelasnya.
Satu pengalaman yang paling “membunuh” idealismenya adalah saat ia pertama ditugaskan membuat poster promosi sebuah produk. Ia memutar otak dan merancang desain minimalis yang elegan.
Pemilihan warnanya, tata letak hurufnya, benar-benar sesuai dengan teori desain yang mati-matian ia pelajari. Gaya “bercerita” poster itu juga sangat khas dirinya.
Namun, klien menolaknya mentah-mentah. Alasannya singkat: “terlalu sepi”.
Ia bercerita, revisi turun di jam delapan malam, dan Rida dipaksa merombak total karyanya. Klien meminta logo produk diperbesar hingga memakan setengah ruang poster. Warna pastel yang ia pilih disuruh ganti, meski menurut penilaiannya, justru menjadi “tabrakan”.
“Pokoknya bener-bener menabrak estetika deh. Aku juga nggak paham kenapa,” ungkapnya.
Malam itu, ia pun begadang semalaman demi sebuah poster yang ketika diunggah ke media sosial, dihujat habis-habisan oleh netizen.
“Karena memang sejelek itu,” kata Rida. “Di titik itu, aku sadar kalau aku bukan seniman. Cuma tukang yang disuruh gambar sesuai kemauan orang yang bayar.”
Jangan pernah kerja sesuai hobi
Sejak malam itu, Rida pelan-pelan kehilangan hobinya. Dulu, menggambar adalah tempatnya lari saat kepalanya sedang sumpek.
Sekarang ia kehilangan “sense” itu. Di akhir pekan, buku sketsa dan alat gambarnya dibiarkan saja. Ia sama sekali tak sudi menyentuhnya, dan memilih melakukan hal lain.
“Pokoknya jangan coba deh kerja sesuai hobi. Karena kalau hobimu jadi kerjaan dan itu nggak asyik lagi, lu mau ngapain lagi coba?” tegasnya.
Apa yang menimpa Rida rupanya juga dirasakan banyak orang. Jika kita berselancar di Threads, keluhan senada juga banyak dijumpai. Banyak pekerja muda yang akhirnya sadar bahwa “kerja sesuai hobi” seringkali berakhir menjadi sesuatu yang sangat melelahkan.
Banyak netizen membagikan rasa frustrasi yang sama: menukar hal yang paling dicintai dengan gaji, lalu kehilangan ruang pelarian.
Hobi main game juga menghasilkan uang
Hobi yang berubah jadi beban ini ternyata tidak hanya memonopoli anak-anak desain atau pekerja seni. Pola yang persis sama juga mencekik mereka yang mencari uang di dunia hiburan digital. Alfian (24) adalah salah satu orang yang memutuskan nyebur kerja sesuai hobi.
Sama seperti Rida yang menjadikan gambar sebagai medium pelarian, bagi Fian, bermain game adalah cara terbaik untuk melupakan kerasnya realitas kehidupan.
Setelah seharian kuliah atau kerja paruh waktu, masuk ke dunia game online dan bermain santai bersama teman-teman adalah hiburan yang paling manjur.
Merasa punya jam terbang tinggi, Fian iseng membuka jasa joki game pada 2025 lalu. Pikirannya saat itu sangat sederhana. Kapan lagi bisa main game kesukaan sambil tiduran di kamar, tapi saldo rekening terus bertambah.
“Pikiran awam kan gitu semau, ‘enak ya, ngelakuin hobi tapi dapat duit’,” kata Fian.
Kesenangan main game jadi hilang seketika
Ekspektasi itu hancur berantakan dalam hitungan minggu. Ketika hobi diubah menjadi “kewajiban yang dibayar”, bermain game tak lagi terasa menyenangkan.
Ia justru berubah menjadi tempat keringat diperas. Demi memenuhi pesanan klien yang menuntut akunnya cepat naik ke peringkat tertinggi, Fian terpaksa harus duduk menatap layar handphone selama sepuluh hingga dua belas jam dalam sehari.
“Padahal dulu ya, kuat-kuat aja. Sekarang rasanya berat banget. Mungkin sih karena dulu cuma buat having fun aja,” kata dia.
Alhasil, punggungnya sering encok, matanya merah karena terlalu sering begadang, dan jari-jarinya langganan kram. Namun, siksaan terberat kerja sesuai hobi justru ada pada mentalnya. Ia tidak lagi bermain untuk bersenang-senang. Ia bermain murni di bawah tekanan target orang lain.
Pernah suatu ketika, Fian sedang mengerjakan pesanan di jam tiga pagi. Matanya sudah sangat berat dan konsentrasinya buyar. Ia kalah tiga kali berturut-turut, membuat peringkat akun kliennya turun.
Tak lama, pesan WhatsApp masuk bertubi-tubi. Klien tersebut memakinya dengan kata-kata kasar karena menganggapnya tidak becus. Ia hanya bisa menahan amarah.
“Dulu main game itu murni buat buang stres. Sekarang, game itu sendiri yang malah bikin stres makin numpuk,” keluh Reza.
Kini, Fian tak mau lagi masuk ke dunianya yang lama. “Seriusan mending kerja yang lain di luar hobi. Biar kalau kita sumpek, ya kita bisa mainin hobi kita.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
