Selain itu, saat mengetahui antrean yang sama panjangnya di SPBU, Fajar lebih mudah menemukan Pertamax sebagai bahan bakar yang dijual eceran di pinggir jalan. Alhasil, Pertamax kembali menjadi pilihannya.
“Lebih gampang dapat [Pertamax] daripada Pertalite yang harus ke SPBU gede,” akunya.
***
Soal kualitas Pertamax yang memengaruhi Honda BeAT miliknya, Fajar malah tidak terlalu memahami. Ia memang mengakui, bagaimanapun pengalaman berkendaranya terasa lebih baik dengan bahan bakar Pertamax.
Akan tetapi, bagian “lebih baik” itu secara spesifik juga tidak bisa Fajar mengerti.
Ia hanya merujuk pada penjelasan ayahnya yang mengatakan bahwa mengisi BBM dengan Pertamax membuat mesin kendaraan lebih halus. Bagian yang halus itu sendiri, Fajar hanya tahu kalau Honda BeAT miliknya yang sudah ringan terasa semakin enteng.
“Jadi suara mesinnya lebih halus, terus sebilang bapakku sih mesinnya jadi lebih enak. Tapi, saya nggak bisa merasakan, paling dari motor kerasa lebih enteng aja, enggak tahu faktor lain,” jelasnya.
Ketidakpahaman Fajar yang berujung pada keputusan memilih BBM sesuai antrean di SPBU ini juga didukung oleh kondisinya yang selalu terburu-buru saat mengisi BBM.
Seringnya, terjadi peak hours saat pengisian BBM ketika orang-orang berangkat (07.00-08.00 pagi) dan pulang sekolah atau bekerja. Saat itu juga, Fajar melakukan pengisian bahan bakar motornya.
“Kalau aku sih karena biasanya isi pagi-pagi jadi pengin cepat kan,” katanya.
Padahal, saat pagi itu, bukan hanya semua orang ingin mengisi bensin di SPBU. Semua orang sedang keluar dari rumah dan buru-buru menuju suatu tempat. Semua orang juga ingin memastikan kendaraannya sampai tujuan tanpa kehabisan bahan bakar.
Jadi, jelas, pilihan waktu Fajar kurang bijak.
“Pun, kalau sore jam balik kantor tuh kadang juga antreannya sampai panjang banget,” tambahnya, sama tidak sesuai dengan aturan menghindari jam padat pembeli BBM di SPBU.
Daripada menghadapi antrean pembeli yang sama-sama ingin mendapatkan BBM sesegera mungkin, pembeli yang satu ini memilih menghindarinya terlebih dahulu.
Bukan karena memang berlebih dalam membayar harga BBM, tetapi karena melihat bahwa waktunya akan habis lebih lama apabila harus menunggu demi Pertalite yang lebih murah. Intinya, ia tidak sabar dan tidak mau menunggu.
“Terus, antreannya Pertamax kadang kosong atau paling setengahnya dari Pertalite. Jadi, lebih cepat aja,” tutupnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja Sat Set, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














