Ada orang yang akhirnya rutin gym dengan alasan kesehatan dan kebugaran (menurunkan berat badan). Tapi ada juga yang melakukannya dengan motif “balas dendam” (mencapai tubuh ideal) karena muak dihina gendut dan jelek, seperti yang dilakukan oleh Ulin Nuha (25), laki-laki pekerja swasta di Surabaya, Jawa Timur.
Kini, tiap kali bercermin di depan lemari kosannya, ada perasaan jumawa sekaligus ironis secara bersamaan. Jumawa karena tubuhnya telah berubah dari gendut ke kekar-berotot. Ironis karena ia semakin sulit mengidentifikasi siapa yang benar-benar tulus dekat dengannya.
Sebelum gym: dipanggil “babi” hingga “gentong’ karena gendut
Ulin awalnya kuliah di sebuah PTN di Malang dalam kondisi tubuh gendut. Itu membuatnya kesulitan mengikuti trend gaya berpakaian karena kesulitan mencari ukuran.
Alhasil, Ulin hanya bisa mengenakan pakaian-pakaian dengan tolok ukur “asal muat”. Cara berpakaiannya sangat tidak kalcer dibanding mahasiswa-mahasiswa lain.
Belum lagi, saat itu ia belum mengenal perawatan tubuh. Maka, hinaan gendut dan jelek pun tidak terhindarkan tersemat pada dirinya.
“Kalau obesitas sih nggak. Cuma gendut aja memang. Ya dapat body shaming biasa lah, dipanggil bukan pakai nama (Ulin atau Nuha), tapi kata sifat seperti ‘Ndut’, ‘Bi (Babi)’, ‘Tong (Gentong)’, dan macem-macem lah,” beber Ulin berbagi cerita, Sabtu (9/5/2026).
“Aku sampai insecure kalau upload foto sendiri di medsos. Nggak berani. Kalau pengin upload ya upload footage aja, tanpa aku nampang di sana,” imbuhnya.
Upaya baik menurunkan berat badan selalu diremehkan dan “diasingkan”
Tidak hanya dihina, Ulin juga merasa terisolasi secara sosial. Tidak banyak mahasiswa yang mau berteman akrab dengan Ulin, meskipun Ulin sudah mencoba masuk dalam pergaulan mereka. Alhasil, teman kuliah Ulin di PTN Malang itu bisa dihitung jari.
Tubuh gendut Ulih juga membuatnya kerapa kali diremehkan, membuatnya terhambat untuk mengikuti sejumlah kegiatan.
Misalnya, ia ingin terlibat dalam rutinitas badminton. Tapi orang sudah beranggapan bahwa tubuhnya yang gendut tidak memungkinkan untuk gerak lincah. Ditakutkan menjadi beban tim.
“Bahkan urusan bonceng-membonceng misalnya ada aktivitas jurusan keluar kampus, aku juga dilempar-lempar,” kata Ulin.
Saat belum punya motor, mahasiswa lain pasti menghindar untuk memboncengkan Ulin. Alasannya, motornya tidak akan kuat. Sementara jika Ulin menawarkan diri yang akan membonceng, ada saja alasan untuk menolak.
Karena situasi tersebut, Ulin sempat menjalani diet. Saat itu ia belum menemukan motivasi besar untuk melakukan olahraga seperti gym. Targetnya bukan mencapai bentuk tubuh ideal, tapi sekadar menurunkan berat badan.
“Tapi upaya baik berupa diet itu juga diremehkan oleh beberapa orang. Dianggap gaya-gayaan diet, padahal kalau lihat makanan langsung kalap,” ujarnya.
Cinta ditolak karena gendut menjadi trigger besar
Semasa itu, Ulin mencoba tidak mengambil hati terlalu dalam. Yang ia lakukan adalah fokus pada upaya untuk menurunkan badan, meski bertahap sedikit demi sedikit. Namun, sebuah penolakan memberi trigger besar pada Ulin.
Ulin jatuh hati pada seorang mahasiswi sekelasnya. Ia merasa si mahasiswi juga merasakan hal serupa karena selama ini mereka kerap berbincang akrab—terlebih karena sering satu kelompok.
Akan tetapi Ulin salah paham. Pada hari ketika Ulin menyatakan perasaannya, ia menerima penolakan tegas.
“Alasannya normatif aja, bilang aku bukan tipenya untuk dijadikan pacar, tapi lebih cocok jadi teman,” kata Ulin.
“Tapi aku akhirnya tahu kalau aku ditolak perkara gendut. Sebab, dia akhirnya pacaran sama mahasiswa sejurusan yang tubuhnya ramping lah,” sambung Ulin.
Dari situ Ulin lantas mulai mendaftar sebagai member sebuah tempat gym. Ia mulai merutinkan aktivitas gym. Tidak hanya untuk menurunkan berat badan, tapi juga agar mencapai bentuk tubuh ideal.
Efek gym: media sosial tiba-tiba ramai komentar dan DM
Ulin mulai rutin gym sejak penghujung 2020. Hasilnya, tubuhnya benar-benar menjadi kekar-berotot. Dengan bentuk tubuh yang ideal, Ulin akhirnya percaya diri mengunggah foto dirinya di media sosial (Instagram dan X).
Agak mengagetkan karena kolom komentarnya, terutama di X, tiba-tiba dipenuhi oleh akun-akun perempuan. Rata-rata menuliskan: “Keren, Mas”, “Semangat, Bang”, dan sejenisnya.
Di hari-hari berikutnya, Ulin semakin rutin mengunggah aktivitasnya di tempat gym. Selain foto juga berupa video.
“Ada lah yang DM, ngajak mutual,” ujar Ulin. “Pokoknya, setelah itu, apapun yang ku-upload mesti rame. Apalagi setelah itu pun aku mengubah penampilan juga.”
Banyak yang mendekat, semakin mudah cari pacar, tapi tetap saja direndahkan
Ulin mengaku sempat iseng mengirim DM ke salah satu akun. Karena sama-sama kuliah di Malang, Ulin mengajaknya bertemu di sebuah coffee shop.
Singkat cerita, setelah pertemuan itu, Ulin langsung mengajaknya menjalin hubungan pacaran. Tidak dinyana, ternyata ia langsung diterima. Mereka kemudian pacaran.
“Waktu masih kuliah itu, aku nggak pernah lama pacarannya. Berapa bulan, ganti. Semudah itu. Aku bahkan pernah menembak ulang mahasiswi yang pernah nolak aku, karena dia habis putus. Dan, ya, diterima,” beber Ulin.
Meski begitu, Ulin tetap saja direndahkan oleh teman laki-laki di PTN Malang tempatnya kuliah. Jika sebelumnya menghina Ulin “babi” karena gendut, setelah tubuh Ulin berubah efek aktivitas gym, mereka malah membercandai Ulin dengan narasi “gay” atau “boti”. Seiring anggapan kalau cowok-cowok gym itu kalau tidak jadi incaran boti ya dia lah gay-nya. Walaupun, sejak aktif di media sosial setelah aktif gym, Ulin mengakui menerima DM aneh-aneh dari cowok-cowok boti.
Bahkan, dari yang Ulin dengar dari teman baiknya, ada saja teman sejurusan—mungkin karena iri—menilai Ulin dengan nyinyir: sekarang sok-sokan dan suka main perempuan, hanya karena Ulin sering unggah foto tubuh kekar-berotot dan gonta-ganti pacar.
Ragu siapa yang benar-benar tulus
Sejak lulus kuliah dari PTN di Malang, Ulin diterima kerja di Surabaya. Penampilannya semakin glow up. Ia pun masih rutin menjalani aktivitas gym. Kini bahkan bertambah dengan aktivitas olahraga lain seperti lari hingga badminton.
Selama kerja di Surabaya, Ulin mengaku baru pacaran sekali dan belum mencari pacar lagi setelah putus. Meskipun kalau ia coba-coba mendekati calon pacar baru, amat mudah tanpa hambatan.
“Aku merasa ragu, siapa yang benar-benar tulus. Aku malah overthinking, jangan-jangan mereka mendekati aku cuma mandang fisik,” ucap Ulin.
“Belakangan aku juga nemu cerita di medsos, ada cewek yang dulunya dihina gendut dan jelek. Setelah gym dan langsing, banyak cowok yang tiba-tiba mendekat. Itu bikin dia ragu juga buat nerima kalau ada cowok nembak,” tambahnya.
Karena tidak menunjukkan ketertarikan secara serius ke perempuan, ujung-ujungnya Ulin didesas-desuskan sebagai seorang gay atau boti. Hadeh.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pengalaman Ngeri Nge-Gym di Malang, Jadi Incaran Cowok Gay Agresif hingga Dapat DM Membagongkan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
